Kamis, 30 September 2010

jadi dokter hebatt...

begini ceritanya..

Ada sebuah kasus, yaitu seorang bapak tua yang mengalami kanker di kepalanya. Setelah itu, tumor itu membesar perlahan-lahan dari satu tumor dan meningkat menjadi 3. Saat itu, ia sudah tidak berdaya melihat tumor dikepalanya itu. Iapun memutuskan untuk pergi ke dokter ahli bedah untuk berobat.
Dokter mengatakan ada sebuah barrier (sawar/ pelindung otak) yang melindungi isi otak yang dinamakan LCS(Liquor Cerebrospinalis). LCS ini berisi banyak protein, sehingga sangat sulit untuk melakukan kemoterapi karena sudah terlalu banyak membelah tumor ini. Cara obat pun tidak mempan, entah kenapa obat itu tidak bereaksi. Dokterpun mempunyai akal dengan menyuntikkan glukosa ke dalam Carotis COmunis di leher, yang terjadi banyak celah diantara tumor tersebut sehingga dapat memasukan obat/ pengempes untuk tumor itu. Namun, disisi lain celah itu membuat toxic juga dapat masuk dan menyerang tumor itu. Alhasil, tumor dapat diperkecil dan akhirnya bapak tua itu selamat dari bahaya yang mengancam.

Minggu, 26 September 2010

pengaruh epinefrine pada Ketonusan Otot

TUJUAN:

Menjelaskan pengaruh berbagai factor di bawah ini pada kekuatan tonus sediaan usus dalam tabung perfusi :
a. Epinefrin
b. Ion kalsium
c. Pilokarpin
d. Suhu

CARA KERJA:

1. Menyusun alat menurut gambar
2. Mengahngatkan air dalam gelas beker pireks sehingga larutan Locke di dalam tabung perfusi mencapai suhu 35ºC
3. Menyediakan sepotong usus halus kelinci
4. Memasang sediaan usus tersebut sebagai berikut :
a. Mengikat dengan benang salah satu ujung sediaan usus pada ujung pipa gelas bengkok
b. Mengikat ujung yang lain pada pencatat usus (Diusahakan dalam hal ini supaya sediaan usus tidak terlampau teregang)
5. Mengalirkan udara ke dalam larutan Locke dalam tabung perfusi engan menggunakan pompa aquarium, sehingga gelembung udara tidak terlalu menggoyangkan sediaan usus yang telah dipasang itu.
6. Selama percobaan, memeprhatikan suhu larutan Locke dalam tabung perfusi yang harus dipertahankan pada suhu 35ºC
Apa tujuan pengaliran udara ke dalam cairan perfusi ? Untuk mengalirkan oksigen dalam tabung.

Pengaruh Epinefrin

1. Mencatat 10 kerutan usus sebagai control pada tromol yang berputar lambat, tetapi setiap kerutan masih tercatat terpisah
2. Mencatat waktu dengan interval 5 detik
3. Tanpa menghentikan tromol, meneteskan 5 tetes larutan epinefrin 1 : 10.000 kedalam cairan perfusi. Memberi tanda pada penetasan.
4. Meneruskan pencatatan, sampai pengaruh epinefrin terlihat jelas.
Apa pengaruh epinferin dalam percobaan ini?
5. Menghentikan tromol dan mencuci sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh epinefrin sebagai berikut :
a. Memindahkan pembakaran Bunsen, kaki tiga + kawat dan gelas beker pireks dari tabung perfusi.
b. Meletakkan sebuah Waskom di bawah tabung perfusi
c. Membuka sumbat tabung perfusi sehingga cairan perfusi keluar sampai habis
d. Menutup kembali tabung perfusi, dan mengisi dengan larutan Locke yang baru (tidak perlu yang bersuhu 35ºC) dan membesarkan aliran udara sehingga usus bergoyang-goyang
e. Menbuka lagi sumbatan untuk mengeluarkan larutan Lockenya
f. Mengulangi hal di atas 2 kali lagi, menutup kembali tabung perfusi, dan mengisi dengan larutan Locke yang baru bersuhu 35ºC (disediakan) serta mengatur kembali aliran udaranya
g. Memasang kembali gelas beker pireks, kaki tiga + kawat kasa dan pembakar Bunsen

HASIL:

Percobaan Tonus (Besar, sedang, kecil) Kesimpulan (Stimulator, inhibitor)
I. Kontrol Sedang
Epinefrin Kecil Inhibitor
II. Kontrol Sedang
Locke tanpa Ca2+ Kecil Inhibitor
CaCl2 Sedang Stimulator
III. Kontrol Sedang
Pilokarpin Besar Stimulator
IV. Kontrol 35°C Sedang
30°C Kecil Inhibitor
25°C Kecil Inhibitor
20°C Kecil Inhibitor
Kembali 35°C Sedang





PEMBAHASAN:

Tujuan utama percobaan ini ialah untuk melihat factor-faktor yang mempengaruhi pengerutan usus halus, seperti proses yang berlaku didalam tubuh. Cairan Locke ialah cairan fisiologis bagi usus kelinci.

Pergerakan usus halus juga disebut sebagai motilitas dalam istilah system digestivus. Motilitas merujuk kepada kontraksi otot yang bertujuan untuk mencampur dan menolak kandungan GIT kehadapan. Otot polos GIT juga mengekalkan tahap kontaksi berterusan yang rendah, disebut sebagai tonus.
Pergerakan propulsif akan menolak makanan untuk terus bergerak didalam saluran cerna. Pergerakan mencampur pula akan memastikan agar makanan akan dicerna dengan baik, seterusnya juga memudahkan absorbsi zat makanan.

Terdapat 4 faktor utama yang mempengaruhi motilitas daripada otot polos dalam system pencernaan, iaitu:
1) Fungsi otonom otot polos
2) Plexus nervus intrinsic
3) Nervus extrinsic
4) Hormon gastrointestinalis

Otot polos GIT mempunyai aktifitas listik yang unik, tidak seperti otot lain pada tubuh kita. Aktifitas listrik ini terbagi kepada 2, iaitu:
1) Slow waves
2) Spikes
Selain itu, voltage potensial membrane istirehat bagi otot polos ini juga bisa berubah, seperti apabila distimulasi oleh neurotransmitter misalnya.

Slow waves ini bukanlah suatu potensial aksi, tetapi merupakan perubahan potensial membrane secara perlahan. Intensitasnya biasanya bervariasi antara 5-15mV, dan frekuensinya pula berbeda mengikut bagian daripada GIT. Di lambung, frekuensinya ialah kurang lebih 3/menit, di duodenum 12/menit manakala di ileum terminalis sebanyak 8-9/menit.

Walaupun sebab utama ianya berlaku masih belum diketahui, tetapi ianya melibatkan interaksi antara otot polos dengan Sel Interstitial Cajal, yang bertindak sebagai pacemaker bagi otot polos. Sel ini tidak mengalami kontraksi, tetapi menghasilkan listrik sendiri, dikatakan bersifat myogenic.

Namun, apa yang mengakibatkan kontraksi otot sebenarnya ialah spike potential. Spike potential berlaku apabila potensial membrane otot polos menjadi lebih positif daripada -40mV iaitu lebih positif daripada potensial membran istirahat normal dalam -56mV.

Semakin tinggi slow waves potential, semakin tinggi frekuensi spike potential. Inilah kesan yang kita bisa lihat dalam percobaan ini karena slow waves potential ini bisa dipengaruhi oleh efek dari saraf simpatis dan parasimpatis.













Kecepayan aktivitas kontraktil ritmis pencernaan misalnya peristalsis di lambung, segmentasi di usus halus, dan haustrasi di usus besar, bergantung pada kecepatan inheren yang diciptakan oleh sel-sel pemacu yang bersangkutan. Intensitas kontraksi bergantung pada jumlah potensial aksi yang terjadi pada saat potansial gelombang lambat mencapai ambang, yang pada gilirannya bergantung pada berapa lama ambang dipertahankan. Semakin besar jumlah potensial aksi, semakin besar konsantrasi Ca++ sitosol, semakin besar aktivitas jembatan silang, dan semakin kuat kontraksi. Dengan demikian tingkat kontraktilitas dapat berkisar dari tonus tingkat rendah sampai gerakan mencampur dan mendorong yang sangat kuat akibat perubahan konsentrasi Ca++ sitosol.

Hasil praktikum pada percobaan pengaruh ion kalsium membuktikan bahwa betapa Ca++ mempengaruhi kontraktilitas otot polos pencernaan. Penambahan CaCl2 yang mengandung Ca++ telah menyebabkan aktivitas kontraktil kerutan usus meningkat jika dibandingkan aktivitas kontraktilitasnya sewaktu dimasukkan ke dalam larutan loke tanpa Ca.

Seterusnya, kita akan membahas factor yang menyebabkan perubahan pada frekuensi kontraksi otot polos. Seperti yang sudah diberitahu diatas, frekuensi kontraksi disebabkan oleh perubahan pada voltage potensial membran istirehat. Apabila potensial menjadi kurang negative, disebut depolarisasi. Apabila potensial menjadi lebih negative, disebut hiperpolarisasi.

Faktor yang mendepolarisasi membrane, menyebabkan lebih mudah dieksitasi:
1) Stretching pada otot polos
2) Stimulasi oleh asetilkolin
3) Stimulasi oleh nervus parasimpatis
4) Stimulasi oleh hormone GIT yang spesifik

Faktor yang mengurangkan eksitabilitas membrane melalui hiperpolarisasi:
1) Epinefrin dan norepinefrin
2) Stimulasi pada nervus simpatis

Kesan ini terbukti melalui percobaan kita yang mendapati bahawa apabila epinefrin ditambah pada usus kelinci, frekuensi kontraksi usus halus itu mengurang secara mendadak malah bisa berhenti. Manakala, dengan penambahan pilokarpin yang bersifat agonis bagi asetilkolin. Ini menyebabkan ia bisa berikatan dengan reseptor muskarinik asetilkolin untuk member kesan parasimpatis.














KESIMPULAN:
Melalui percobaan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan epinefrin, Larutan Locke tanpa Ca, dan pada suhu 20ºC, terjadi penurunan pada tonus, frekuensi, dan amplitude. Hal tersebut dapat diketahui melalui pencatatan gambaran melalui kimograf. Pada penggunaan pilokarpin dapat dilihat terjadi peningkatan tonus usus.

http://www.localcam2camgirl.com/janehot