METABOLIK ENDOKRIN
Daniel France Risa H.
102009189
Universitas Kristen Krida Wacana
BAB 1
PENDAHULUAN
Kasus skenario 1 menunjukkan hipotesis (dugaan sementara) bahwa remaja putri tersebut dikatakan obesitas. Dengan skenario demikian, maka diperlukan pengertian tentang metabolisme KH, lemak dan protein. Sehingga dalam makalah PBL ini akan dibahas tentang metabolisme KH, Lemak dan Protein secara keseluruhan juga hormon-hormon yang mempengaruhi metabolisme tersebut.
Juga akan dibahas tentang tolak ukur dan beberapa penyebab dari obesitas tingkat 1. Supaya pembaca mengerti dan kemudian tahu akan penyebab obesitas juga mengidentifikasikan sendiri dengan tolak ukur yang akan diterangkan.
BAB II
ISI
I. Metabolisme
Metabolisme adalah proses pemecahan zat-zat gizi dalam tubuh untuk menghasilkan energi atau untuk pembentukan struktur tubuh. Suatu rentetan reaksi kimia dari awal hingga akhir ang terjadi dalam metabolisme dinamakan jalur metabolisme. Jalur metabolise terdiri atas reaksi-reaksi anabolisme dan katabolisme. Reaksi anabolisme adalh reaksi membangundari ikatan sederhana ke ikatan lebih besar dan kompleks misalnya glukosa diubah menjadi glikogen, asam lemak dan gliserolmenk\jadi trigliserida, serta asam amino menjadi protein. Proses anaboisme memerlukan energi. Reaksi katabolisme adalah reaksi yang memecah ikatan kompleks enjadi ikatan lebih sederhana. Reaksi katabolisme biasanya melepasenergi. Contoh reaksi katabolisme alah pemecahan glikogen menjadi glukosa, trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak serta protein menjadi asam amino.
1.1 Metabolisme karbohidrat
Secara ringkas, jalur-jalur metabolisme karbohidrat dijelaskan sebagai berikut:
1. Glukosa sebagai bahan bakar utama akan mengalami glikolisis (dipecah) menjadi 2 piruvat jika tersedia oksigen. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
2. Selanjutnya masing-masing piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
3. Asetil KoA akan masuk ke jalur persimpangan yaitu siklus asam sitrat. Dalam tahap ini dihasilkan energi berupa ATP.
4. Jika sumber glukosa berlebihan, melebihi kebutuhan energi kita maka glukosa tidak dipecah, melainkan akan dirangkai menjadi polimer glukosa (disebut glikogen). Glikogen ini disimpan di hati dan otot sebagai cadangan energi jangka pendek. Jika kapasitas penyimpanan glikogen sudah penuh, maka karbohidrat harus dikonversi menjadi jaringan lipid sebagai cadangan energi jangka panjang.
5. Jika terjadi kekurangan glukosa dari diet sebagai sumber energi, maka glikogen dipecah menjadi glukosa. Selanjutnya glukosa mengalami glikolisis, diikuti dengan oksidasi piruvat sampai dengan siklus asam sitrat.
6. Jika glukosa dari diet tak tersedia dan cadangan glikogenpun juga habis, maka sumber energi non karbohidrat yaitu lipid dan protein harus digunakan. Jalur ini dinamakan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru) karena dianggap lipid dan protein harus diubah menjadi glukosa baru yang selanjutnya mengalami katabolisme untuk memperoleh energi.
Beberapa jalur metabolisme karbohidrat
Glikolisis
Glikolisis berlangsung di dalam sitosol semua sel. Lintasan katabolisme ini adalah proses pemecahan glukosa menjadi:
1. asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen)
2. asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen)
Glikolisis merupakan jalur utama metabolisme glukosa agar terbentuk asam piruvat, dan selanjutnya asetil-KoA untuk dioksidasi dalam siklus asam sitrat (Siklus Kreb’s). Selain itu glikolisis juga menjadi lintasan utama metabolisme fruktosa dan galaktosa.
Keseluruhan persamaan reaksi untuk glikolisis yang menghasilkan laktat adalah:
Glukosa + 2ADP +2Pi 2L(+)-Laktat +2ATP +2H2O
Dalam keadaan aerob, piruvat diambil oleh mitokondria, dan setelah konversi menjadi asetil-KoA, akan dioksidasi menjadi CO2 melalui siklus asam sitrat (Siklus Kreb’s). Ekuivalen pereduksi dari reaksi NADH + H+ yang terbentuk dalam glikolisis akan diambil oleh mitokondria untuk oksidasi melalui salah satu dari reaksi ulang alik (shuttle).
Kesimpulan:
Pada glikolisis aerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat substrat :+ 4P
- hasil oksidasi respirasi :+ 6P
- jumlah :+10P
- dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : - 2P
+ 8P
Pada glikolisis anaerob, energi yang dihasilkan terinci sebagai berikut:
- hasil tingkat substrat :+ 4P
- hasil oksidasi respirasi :+ 0P
- jumlah :+ 4P
- dikurangi untuk aktifasi glukosa dan fruktosa 6P : - 2P
+ 2P
Oksidasi piruvat
Dalam jalur ini, piruvat dioksidasi (dekarboksilasi oksidatif) menjadi Asetil-KoA, yang terjadi di dalam mitokondria sel. Reaksi ini dikatalisir oleh berbagai enzim yang berbeda yang bekerja secara berurutan di dalam suatu kompleks multienzim yang berkaitan dengan membran interna mitokondria. Secara kolektif, enzim tersebut diberi nama kompleks piruvat dehidrogenase dan analog dengan kompleks -keto glutarat dehidrogenase pada siklus asam sitrat.
Jalur ini merupakan penghubung antara glikolisis dengan siklus Kreb’s. Jalur ini juga merupakan konversi glukosa menjadi asam lemak dan lemak dan sebaliknya dari senyawa non karbohidrat menjadi karbohidrat.
Rangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam lintasan oksidasi piruvat adalah sebagai berikut:
1. Dengan adanya TDP (thiamine diphosphate), piruvat didekarboksilasi menjadi derivate hidroksietil tiamin difosfat terikat enzim oleh komponen kompleks enzim piruvat dehidrogenase. Produk sisa yang dihasilkan adalah CO2.
2. Hidroksietil tiamin difosfat akan bertemu dengan lipoamid teroksidasi, suatu kelompok prostetik dihidroksilipoil transasetilase untuk membentuk asetil lipoamid, selanjutnya TDP lepas.
3. Selanjutnya dengan adanya KoA-SH, asetil lipoamid akan diubah menjadi asetil KoA, dengan hasil sampingan berupa lipoamid tereduksi.
4. Siklus ini selesai jika lipoamid tereduksi direoksidasi oleh flavoprotein, yang mengandung FAD, pada kehadiran dihidrolipoil dehidrogenase. Akhirnya flavoprotein tereduksi ini dioksidasi oleh NAD+, yang akhirnya memindahkan ekuivalen pereduksi kepada rantai respirasi.
Piruvat + NAD+ + KoA Asetil KoA + NADH + H+ + CO2
Siklus asam sitrat
Siklus ini juga sering disebut sebagai siklus Kreb’s dan siklus asam trikarboksilat dan berlangsung di dalam mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan protein.
Siklus asam sitrat merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan katabolisme asetil KoA, dengan membebaskan sejumlah ekuivalen hidrogen yang pada oksidasi menyebabkan pelepasan dan penangkapan sebagaian besar energi yang tersedia dari bahan baker jaringan, dalam bentuk ATP. Residu asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA (CH3-COKoA, asetat aktif), suatu ester koenzim A. Ko-A mengandung vitamin asam pantotenat.
Fungsi utama siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam lemak dan banyak asam amino dimetabolisir menjadi asetil KoA atau intermediat yang ada dalam siklus tersebut.
Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi ini kemudian memasuki rantai respirasi tempat sejumlah besar ATP dihasilkan dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia) atau kekurangan oksigen (hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik dalam bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam membran interna mitokondria sehingga memfasilitasi pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat pada rantai respirasi, yang bertempat di dalam membran interna mitokondria.
Energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat
Pada proses oksidasi yang dikatalisir enzim dehidrogenase, 3 molekul NADH dan 1 FADH2 akan dihasilkan untuk setiap molekul asetil-KoA yang dikatabolisir dalam siklus asam sitrat. Dalam hal ini sejumlah ekuivalen pereduksi akan dipindahkan ke rantai respirasi dalam membrane interna mitokondria (lihat kembali gambar tentang siklus ini).
Selama melintasi rantai respirasi tersebut, ekuivalen pereduksi NADH menghasilkan 3 ikatan fosfat berenergi tinggi melalui esterifikasi ADP menjadi ATP dalam proses fosforilasi oksidatif. Namun demikian FADH2 hanya menghasilkan 2 ikatan fosfat berenergi tinggi. Fosfat berenergi tinggi selanjutnya akan dihasilkan pada tingkat siklus itu sendiri (pada tingkat substrat) pada saat suksinil KoA diubah menjadi suksinat.
Dengan demikian rincian energi yang dihasilkan dalam siklus asam sitrat adalah:
1. Tiga molekul NADH, menghasilkan : 3 X 3P = 9P
2. Satu molekul FADH2, menghasilkan : 1 x 2P = 2P
3. Pada tingkat substrat = 1P
Jumlah = 12P
Satu siklus Kreb’s akan menghasilkan energi 3P + 3P + 1P + 2P + 3P = 12P.
Kalau kita hubungkan jalur glikolisis, oksidasi piruvat dan siklus Kreb’s, akan dapat kita hitung bahwa 1 mol glukosa jika dibakar sempurna (aerob) akan menghasilkan energi dengan rincian sebagai berikut:
1. Glikolisis : 8P
2. Oksidasi piruvat (2 x 3P) : 6P
3. Siklus Kreb’s (2 x 12P) : 24P
Jumlah : 38P
Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat adalah pemecahan glukosa (glikolisis) menjadi piruvat. Selanjutnya piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Akhirnya asetil KoA masuk ke dalam rangkaian siklus asam sitrat untuk dikatabolisir menjadi energi.
Proses di atas terjadi jika kita membutuhkan energi untuk aktifitas, misalnya berpikir, mencerna makanan, bekerja dan sebagainya. Jika kita memiliki glukosa melampaui kebutuhan energi, maka kelebihan glukosa yang ada akan disimpan dalam bentuk glikogen. Proses anabolisme ini dinamakan glikogenesis.
Glikogen merupakan bentuk simpanan karbohidrat yang utama di dalam tubuh dan analog dengan amilum pada tumbuhan. Unsur ini terutama terdapat didalam hati (sampai 6%), otot jarang melampaui jumlah 1%. Akan tetapi karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka besarnya simpanan glikogen di otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih banyak. Seperti amilum, glikogen merupakan polimer -D-Glukosa yang bercabang.
Glikogen otot berfungsi sebagai sumber heksosa yang tersedia dengan mudah untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Sedangkan glikogen hati sangat berhubungan dengan simpanan dan pengiriman heksosa keluar untuk mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya pada saat di antara waktu makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir semua simpanan glikogen hati terkuras habis. Tetapi glikogen otot hanya terkuras secara bermakna setelah seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.
Rangkaian proses terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
Uridin difosfat glukosa (UDPGlc) (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Tahap-tahap perangkaian glukosa demi glukosa digambarkan pada bagan berikut.
Biosintesis glikogen (dipetik dari: Murray dkk. Biokimia Harper)
Tampak bahwa setiap penambahan 1 glukosa pada glikogen dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Sekelompok glukosa dalam rangkaian linier dapat putus dari glikogen induknya dan berpindah tempat untuk membentuk cabang. Enzim yang berperan dalam tahap ini adalah enzim pembentuk cabang (branching enzyme).
Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus dipecah untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini dinamakan glikogenolisis. Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian. Untuk memutuskan ikatan glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan enzim fosforilase. Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 14 glikogen untuk menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang tersisa pada tiap sisi cabang 16.
(C6)n + Pi (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat
Glikogen Glikogen
Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida dari satu cabang ke cabang lainnya sehingga membuat titik cabang 16 terpajan. Hidrolisis ikatan 16 memerlukan kerja enzim enzim pemutus cabang (debranching enzyme) yang spesifik. Dengan pemutusan cabang tersebut, maka kerja enzim fosforilase selanjutnya dapat berlangsung.
Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka tubuh adalah menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah memecah protein untuk energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai pembangun tubuh.
Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein.
Ringkasan jalur glukoneogenesis
Glukoneogenesis dari bahan protein. Dalam hal ini protein telah dipecah menjadi berbagai macam asam amino
Asetil koA menjadi Lemak
Bila energi tidak diperlukan, asetil koA tidak memasuki siklus TCA, tetapi digunakan untuk membentuk asam lemak. Hal ini menjelaskan mengapa bila kita makan karbohidrat secara berlebihan dapat menyebabkan penumpukan lemak.
1.2 Metabolisme gliserol dan Asam Lemak
Gliserol dan asam lemak diperoleh dari hasil pemecahan trigliserida melalui proses lipolisis. Gliserol s(suatu ikatan 3-karbon seperti piruvat akan tetapu dengan susunan H dan OH pada karbon yang berbeda) memasuki jalur metabolisme diantara glukosa dan piruvat dan dapat diubah menjadi glukosa atau piruvat. Piruvat kemudian diubah menjadi asetil koA untuk kemudian memasuki siklus TCA.
Sebagian besar asam lemak alami terdiri atas atom karbon dalam jumlah genap, biasanya enam belas atau delapan belas karbon. Asam lemak mula-mula akan dipecah melalui proses oksidasi ke dalamm unit-unit yang terdiri atas 2-karbon. Tiap pecahan 2- karbon ini akan mengikat satu molekul koA untuk membentuk asetil koA. Proses perubahan asam lemak bebas menjadi banyak molekul asetil koA dinamakan beta-oksidasi.
Setiap molekul asetil koA kemudian akan memeasuki siklus TCA seperti halnya yang dilakukan glukosa. Setiap kali unit dua karbon pecah dan molekul asam lemak, akan dilepas sedikit energi. Bila unit 2-karbon ini kemudian memasuki siklus TCA dalam bentuk asetil koA akan dihasilkan energi sebanyak kurang lebih 3 kali lipat. Energi dalam hal ini akan diikat dalam bentuk NADH dan FADH2. Bila asam lemak mempunyai atom karbon dalam jumlah ganjil, maka disamping asetil koA akan dibentuk ikatan KoAdengan ikatan 3-karbon, yaitu propionil KoA. Propionil koA ini seperti halnyaasetil koAakan memasuki siklus TCA. Bila sel tidak membutuhkan energi, asetil koA yang berasal dari oksidasi asam lemak akan membentuk lemak, seperti halnya asetil koA yang dibentuk dari kelebihan karbohidrat.
Sel tubuh dapat membuat glukosa dari piruvat dan ikatan 3-karbon lain, terapi glukosa tidak dapat dibuat dari pecahan 2-karbon yang dihasilkan oleh asam lemak. Dengan demikian, asam lemak tidak dapat digunakan untuk membentuk glukosa. Ini berarti bahwa lemak tidak dapat digunakan sebagai sumber energi untuk organ-organ tubuh yang memerlukan glukosa sebagai bahan bakar (seperti otak dan sistem saraf). Pembentukan glukosa dari gluserol tidak berarti karena gliserol hanya merupakan 5% dari lemak.1)
1.3 Metabolisme lipid
Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai pendek juga dapat melalui jalur ini.
Struktur miselus. Bagian polar berada di sisi luar, sedangkan bagian non polar berada di sisi dalam
Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus (enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi trigliserida (lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya kilomikron ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava, sehingga bersatu dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan jaringan adiposa.
Struktur kilomikron. Perhatikan fungsi kilomikron sebagai pengangkut trigliserida
Simpanan trigliserida pada sitoplasma sel jaringan adiposa
Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi. Sewaktu-waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak dan gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan oleh albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty acid/FFA).
Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA. Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain, jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis. Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.
Ikhtisar metabolisme lipid
Metabolisme gliserol
Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal, gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara dalam jalur glikolisis.
Reaksi-reaksi kimia dalam metabolisme gliserol
Pembakaran lemak membutuhkan karbohidrat
disamping perananya dalam menghasilkan energi, siklus TCA menghasilkan ikatan-ikatan yang diperlukan dalam biosintesis, misalnya untuk pembentukan hemogloin. Oleh sebab itu, sejumlah kecil oksaloasetat yang digunakan kembali dalam siklus TCA harus secara terus-menerus diganti karena ikatan-ikatan yang diperlukan dalam biosintesis tersebut dapat mencegah terjadinya siklus lengkap untuk pembentukan kembali oksaloasetat. Sumber oksaloasetat ini adalah piruvat yang berasal dari glukosa. Dengan demikian, agar konsentrasi oksaloasetat dapat dipertahankan dalam siklus TCA dibutuhkan karbohidrat. Dikatakan juga bahwa perubahan asam lemak menjadi asetil koA (pembakaran lemak) terjadi dalam api karbohidrat.
Pemakaian trigliserida dari karbohidrat
Jika jumlah karbohidrat yang masuk ke tubuh lebih besar daripada yang segera digunakan untuk energi atau disimpan sebagai glikogen, kelebihan ini cepat diubah menjadi trigliserida, yang disimpan dari jaringan lemak. Sebagian besar sintesis trigliserida berlangsung di hati, sejumlah kecil terjadi di sel lemak. Trigliserida yang terbentuk di hati terutama diangkut oleh lipoprotein ke sel lemak dijaringan lemak dan sisimpan sampai diperlukan untuk energi.
Karbohidrat diubah menjadi Asam Lemak. Tahap pertama dalam pembentukan trigliserida dari karbohidratt adalah perubahan karbohidrat menjadi asetil koA; hal ini terjadi sewaktu penguraian normal glukosa oleh enzim glikolitik. Asam lemak sebenarnya adaalh polimer besar bagian asetil dari asetil koA, sehingga tidak sulit dipahami bagaimana asetil koA dapat diubah menjadi asam lemak.
Asam lemak berikatan dengan α-Gliseofosfat untuk Membentuk Trigliserida. Jika rantai asam lemak yang terbentuk telah tumbuh mencapai 14 sampai 18 atom karbon, asam lemak ini secara otomatis mengikat gliserol untuk membentuk trigliserida. Bagian gliserol trigliserida diberikan oleh α—gliserofosfat yang juga merupakan produk penguraian glikolitik glukosa. Pentungnya mekanisme ini dalam pembentukan trigliserida adalah bahwa kombinasi akhir asam-asam lemak dengan gliserol terutama dikontrol oleh konsentrasi gliserofosfat, yang selanjutnya ditentukan oleh ketersediaan karbohidrat. Jika karbohidrat membentuk banyak α-gliserofosfat, keseimbangan bergeser ke arah pembentukan dan penyimpanan trigliserida. Jika karbohidrat tidak tersedia, proses bergeser ke arah berlawanan; asam lemak dalam jumlah besar menjadi tersedia sebagai pengganti ketiadaan metabolisme karbohidrat.
Pembentukan trigliserida dari Protein.
Banyak asam amino diubah menjadi asetil koA, yang selanjutnya diubah menjadi trigliserida. Jika protein dalam makanan tersedia melebihi yang dapat digunakan sebagai protein atau secara langsung untuk energi. Sebagian besar kelebihan ini, akan disimpan sebagai lemak.
Ketogenesis Pembentukan Keton
Bahan-bahan keton merupakan produk pemecahan tidak lengkap lemak. Dalam keadaan normal bahan-bahan keton ini terdapat dalam jumlah kecil yang kemudian segera dimetabolisme dan menghasilkan energi. Produksi dalam jumlah besar terjadi bila asam lemak didalam aliran darah terdapat dalam jumlah besar, sehingga sel-sel hati tidak mampu memetabolisme asetil koA yang terbentuk. Kebanyakan asam lemak terjadi bila produksi insulin oleh pankreas kurang atau bila konsumsi karbohidrat kurang. Dari dua molekul asetil koA, sel-sel hati akan membentuk ikatan asetoasetil koA yang mempunyai 4-karbon. Ikatan ini akan diubah menjadi bahan keton asam asetoasetat dan masuk dalam aliran darah. Sebelum meinggalkan hati, asam asetoasetat dapat bereaksi dengan NADH dan membentuk bahan keton lain, yaitu asam beta-hidroksibutirat. Disamping itu asetoasetat dapat kehilangan satu molekul karbon dioksida dan membentuk bahan keton aseton.
Asam asetoasetat dan asam beta-hidroksibutirat kemudian dapat diubah kembali menjadi asetil koA. Sebagian besar aseton dikeluarkan dari tubuh melalui paru-paru yang menyebabkan bau khas pada pernapasan. Hal in dinamakan Ketosis.
1.4 Metabolisme protein
Sekitar tiga perempat zat padat dalam tubuh adalah protein, termasuk potein struktural, wnzim, protein yang mengangkut oksigen, protein otot yang menyebabkan kontraksi, dan banyak jenis lain yang melakukan fungsi spesifik baik intraselular maupun ekstraselular.
Konstituen utama protein adalah asam amino, 20 diantaranya terdapat dalam tubuh dalam jumlah signifikan. Asam-asam amino menyatu menjadi rantai panjang melalui ikatan peptida. Sebuah molekul protein yang kompleks mungkin memiliki hingga 100.000 asam amino. Sebagian molekul protein terdiri dari beberapa rantai peptida dan bukan satu rantai; rantai-rantai ini mungkin disatukan oleh ikatan hidrogen, gaya elektrostatik, atau entitas garam, fenolat, atau sulfhidril.
Transpor dan Penyimpanan Asam Amino
Konsentrasi normal asam amino dalam darah antara 35 dan 65 mg/dl. Produk akhir pencernaan protein adalah asam amino dan bahwa molekul polipeptida atau protein jarang diserap ke dalam darah. Setelah makan, asam amino yang masuk ke darah diserap dalam waktu 5-10 menit oleh sel diseluruh tubuh.
Molekul hampir semua asam amino terlalu besar untuk dapat berdifusi melalui pori membran sel; karena itu, asam amino diangkut menembus membran hanya oleh transpor aktif atau difusi terfasilitasi menggunakan mekanisme pengangkut.
Asam amino disimpan Sebagai Protein di Sel. Hampir segera setelah masuk ke dalam sel, asam amino terkonjugasi dibawah pengaruh enzim-enzim intraselular dengna protein sel, sehingga konsentrasi asam amino bebas didalam sel hampir selalu rendah. Asam amino disimpan terutama dalam bentuk protein. Banyak protein intraselular dapat cepat diuraikan menjadi asam amino dibawah pengaruh enzim pencernaan lisosom intraselular; dan asam-asam amino ini kemudian dapat diangkut kembali ke darah. Pengecualian khusus adalah protein di kromosom nukleus dan protein struktural misalnya kolagen dan protein kontraktil otot, protein-protein ini tidak ikut serta secara signifikan dalam penyimpanan asam amino siap-pakai.
Jika konsentrasi asam amino plasma turun dibawah kadar normal, asam amino diangkut keluar sel untuk memulihkan pasokan dalam plasma. Secara bersamaan, protein-protein intraselular diuraikan menjadi asam amino.
Setiap jenis sel memiliki batas atas jumlah protein yang dapat disimpannya. Setelah sel mencapai batas tersebut, kelebihan asam amino dalam sirkulasi diuraikan menjadi produk lain dan digunakan untuk energi atau diubah menjadi lemak atau glikogen dan disimpan.
Protein digunakan Untuk Energi. Jika simpanan protein di dalam sel telah penuh, asam-asam amino tambahan di dalam cairan tubuh akan diuraikan dan digunakan untuk energi atau disimpan sebagai lemak atau glikogen. Penguraian ini terjadi hampir seluruhnya di hati. Tahap pertama dalam proses penguraian adalah pengeluaran gugus amino melalui proses deaminasi. Hal ini menghasilkan asamα-keto spesifik yang dapat masuk kesiklus asam sitrat. Jumlah adenosin triposfat yang terbentuk dari setiap gram protein yang dioksidasi sedikit lebih kecil daripada yang terbemtil dari setiap gram glukosa. Amino yang dibebaskan selama proses deaminasi dikeluarkan dari darah hampir seluruhnya melalui konversi menjadi urea oleh hati. Amonia bersifat toksik, terutama bagi otak, dan sering menyebabkan keadaan yang dinamakan koma hepatikum.
Pengaturan metabolisme Protein oleh Hormon
Hormon pertumbuhan Meningkatkan Laju Sintesis Protein Sel, Menyebabkan Protein Jaringan Meningkat. Mekanisme kerja hormon pertumbuhan pada sintesis protein tidak diketahui, tetapi hormon pertumbuhan dipercayai meningkatkan transpor asam amino menembus membrane sel dan mempercepat proses transkripsi dan translasi DNA dan RNA untuk sintesis protein. Sebagian dari kerja ini juga tidak mungkin dihasilkan oleh efek hormon pertumbuhan pada metabolisme lemak. Hormon pertumbuhan menyebabkan peningkatan laju pembebasan lemak dari simpanan lemak, yang mengurangi laju oksidasi asam amino dan selanjutnya meningkatkan jumlah asam amino yang tersedia untuk membentuk protein.
Insulin Mempercepat Transpor Asam Amino Masuk Sel. Defisiensi insulin mengurangi sintesis protein hingga mendekati nol. Insulin juga meningkatkan ketersediaan glukosa bagi sel sehingga pemakaian asam amino untuk energi juga berkurang.
Glukokortikoid Menurunkan Jumlah Protein di Kebanyakan Jaringan dan Meningkatkan Konsentrasi Asam Amino dalam Plasma. Dipercayai bahwa glukokortikoid bekerja dengan meningkatkan laju penguraian protein ekstrahepatik sehingga ketersediaan asam amino didalam cairan tubuh meningkat. Efek glukokortikoid pada metabolisme protein sangat penting dalam mendorong ketogenesis dan glukogenesis.
Testosteron Menyebabkan Sedikit Pengendapan Protein dalam Jaringan di Seluruh Tubuh, terutama Otot. Mekanisme dari efek ini tidak diketahui, tetapi berbeda dari efek hormon pertumbuhan. Hormon pertumbuhan menyebabkan jaringan terus tumbuh hampir tanpa batas, sementara testosteron menyebabkan otot dan jaringan protein lain membesar hanya untuk beberapa bulan. Setelah waktu ini, pengendapan protein lebih lanjut terhenti, meskipun testosteron terus diberikan.2)
Estrogen Menyebabkan Sedikit Pengendapan Protein. Efek estrogen relatif tidak signifikan dibandingkan dengan efek testosteron.
Tiroksin meningkatkan Laju Metabolisme di Semua Sel dan Secata Tak Langsung Mempengaruhi Metabolisme Protein. Jika jumlah karbohidrat dan lemak kurang memadai untuk energi, tiroksin menyebabkan penguraian cepat protein untuk energi. Jika jumlah karbohidrat dan lemak yang tersedia memadai, kelebihan asam amino digunakan untuk meningkatkan laju sintesa protein.
Defisiensi tiroksin menyebabkan hambatan pertumbuhan karena kurangnya sintesis protein. Diperkirakan bahwa tiroksin tidak banyak membuat efek langsung pada metabolisme protein tetapi hormon ini memiliko efek menyeluruh penting dalam meningkatkan laju reaksi-reaksi protein anabolik dan katabolik normal.
1.5 Fungsi Fisiologis Hormon Pertumbuhan (hormon Umum)
GH memiliki efek diseluruh tubuh :
• meningkatkan pertumbuhan linier. GH merangsang kartolago epifisis atau lempeng pertumbuhan tulang-tulang panjang. Dibawah pengaruh GH, kondrosit dilempeng pertumbuhan terangsang sehingga sel-sel ini berproliferasi dan mengendapkan tulang-tulang rawan baru yang diikuti oleh perubahan tulang rawan ini menjadi tulang. Proses ini memperpanjang batang tulang panjang. Pada akhir masa remaja, ketika tidak ada lagi tulang rawan epifisis yang tersisa dan batang tulang panjang telah menyatu dengan epifisis (penutupan epifisis), GH tidak lagi dapat memperpanjang tulang panjang. Karena GH juga meningkatkan aktivitas osteoblas, masssa tulang total akan meningkat oleh GH meskipun epifisis telah menutup.
• mendorong pengendapan protein di jaringan. GH adalah suatu hormon anabolik protein dan menyebabkan keseimbangan nitrogen positif. Hormon ini meningkatkan penyerapan asam amino disebagian besar sel dan sintesis asam amino menjadi protein.
• Mendorong pemakaian lemak untuk energi . GH menyebabkan mobilisasi asam lemak dari jaringan lemak dan meningkatkan kecendrungan pemakaian asam lemak bebas untuk energi. Efek GH tersebut bersama dengan efek Anabolik proteinnya menyebabkan peningkatan lean body mass (massa tubuh tanpa lemak). Efek lipolitik GH memerlukan waktu beberapa Jam untuk muncul. Paling tidak, sebagian dari efek ini disebabkan oleh efek GH yang menimbulkan gangguan penyerapan glukosa ke dalam sel lemak. Karena meningkatkan kadar lemak asam bebas dan ketoasid dalam plasma, GH bersifat ketogenik.
• Menggangu pemakaian karbohidrat untuk energi. GH menurunkan penyerapan dan pemakaian glukosa oleh banyak sel peka insulin, misalnya otot dan jaringan lemakl. Akibatnya, konsentrasi glukosa darahcendering meningkat dan sekresi insulin juga meningkat untuk mengompensasi terjadinya resistensi insulin yang dipicu oleh GH ini, karena itu GH bersifat diabetogenik.
HORMON TIROID (HORMON UMUM)
Transpor dan Metabolisme Hormon Tiroid
Hormon tiroid terikat ke protein plasma. Setelah masuk ke dalam darah, baik T4 dan T3 terikat ke protein plasma, terutama Thyroxin Binding Globulin, globulin pengikat tiroksin), meskipun juga ke protein plasma lainnya seperti albumin dan thyroxin binding prealbumin(praalbumin pengikat tiroksin). Sekitar 99,9% T4 terikat ke protein plasma dan kurang dari 0,1%-nya berada sebagain hormin bebas. Pengikatan T3 ke protein plasma sedikit lebih kecil dar T4, tetapi bentuk hormone bebas kurang dari 1%. Pada hormone tiroid, hormone bentuk bebas inilah yang diserap oleh jaringan untuk menimbulkan efek biologis dan dimobilisasi. Karena tingginya derajat pengikatan oleh protein plasma, waktu paruh pengikatan T3 dan T4 sangat panjang. (masing-masing 7 dan 1 hari)
Perubahan Kadar TBG plasma tidak Mempengaruhi Konsentrasi Hormon Tiroid Bebas. Pengurangan (misalnya sewaktu penyakit hati dan ginjal) dan peningkatan sewaktu pemberian estrogen dan kehamilan)kadar TBG plasma masing-masing menurunkan dan meningkatkan jumlah total hormone tiroid dalam plasma tetapi hanya menyebabkan perubahan transient kadar hormone bebas. Ini disebabkan oleh umpan bailk negatifahormon tiroid bebas pada sekresi TSH oleh hipofisis. Sebagai contoh, selama kehamilana, penurunan konsentrasi hormone tiroid bebas akibat peningkatan kadar TBG di plasma menyebabkan peningkatan kompensatoriksekresi TSH yang selanjutnya meningkatkan produksi hormone tiroid bebas. Peningkatan sekresi hormone tiroid berlanjut sampai kadar hormone bebas dalam plasma kembali normal. Pada saat ini kadar TSH kembali normal karena umpan balik, tetapi konsentrasi hormone tiroid total meningkat.
Sebagian Besar T4 yang Disekresikan oleh Kelenjar Tiroid diMetabolisme Menjadi T3. sekipun T4 adalah hormone tiroid yang paling banyak disekresikan dan beredar, sejumlah besar dari hormone ini mengalami deidinasi di posisi 5’ atau di 5 dijaringan perifer untuk menghasilkan T3 dan RT3. Pada kenyataannya, sebagian besar T3 dan RT3 dalam plasma berasal dari T4 dalam darah yang telah mengalami deiodinasi di jaringan perifer dan dari yang disekresikan oleh kelenjar tiroid. Karena kebanyakan T4 yang masuk ke dalam sel diubah menjadi T3 atau (RT3) dank arena T3 di sel memiliki afinitas yang lebih besar daripada T4 untuk mengikat reseptor hormone tiroid dinukleus, T4 dianggap sebagai prohormon bagi T3.
Fungsi Hormon Tiroid di Jaringan
Hormone Tiroid dan Transkripsi Berbagai Gen
Hormone tiroid masuk ke dalam sel dan berikatan dengan reseptornya di nucleus, kompleks hormone-reseptor kemudian berikatan dengan DNA dan merangsang atau menghambat transkripsi sejumlah besar gen.
Laju metabolisme sel
Disebagian besar jaringan, hormone tiroid meningkatkan konsumsi oksigen dan pembentukan panas. Ukuran dan jumlah mitokondria meningkat, luas permukaan membrane mitokondria bertambah, dan aktivitas enzim-enzim pernapasan meningkat. Karena hormone tiroid meningkatkan aktivitas Na, K-ATPase terikat membrane, peningkatan konsumsi ATP yang berikatan dengan peningkatan transport Natrium diperkirakan berperan menyebabkan meningkatnyalaju metabolisme yang diinduksi oleh hormone tiroid.
Efek fisiologis Spesifik Hormon Tiroid
Peningkatan termpogenesis dan berkeringat. Aliran darah kulit meningkat karena panas perlu dikeluarkan.
Peningkatan laju dan kedalaman respirasi akibat meningkatnya kebutuhan oksigen
Peningkatan curah jantung karena metabolisme meningkat dan pemakaian oksigen dijaringan menyebabkan vasodilatasi local. Efek hormone tiroidsecara tak langsung pada jantung meningkatkan denyut jantung dan kontraksi jantung.
Peningkatan pemakaian substrat untuk energi. Peningkatan laju metabolic tergantung pada oksidasi substrat metabolic.
Pengaturan sekresi Hormon Tiroid
Thyroid Stimulating Hormone- Pengendali Utama sekresi Hormon tyroid
Untuk mempertahankan tingkat aktivitas metabolic tubuh yang normal, kadar hormone tiroid bebas dalam plasma haris diatur. Sekresi hormone tiroid terutama dikendalikan oleh TSH. Sekresi TSH dari kelenjar hipofisis ditingkatkan oleh hormone hipofisiotropik TSH dan dihambat secara umpan bai\lik negative oleh T4 dan T3 dalam darah. Meskipun terjadi umpan-balik di hipotalamus dengan mempengaruhi sekresi TRH, umpan balik utama terjadi ditingkat hipofisis. Karena T4 mengalami deodinasimenjadi T3 di kelenjar hipofisis, T3 tampaknya merupakan efektor terakhir yang memerantarai mekanisme umpan balik negative ini.
TSH meningkatkan Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid. Pengikatan TSH ke reseptornya dimembran sel kelenjar tiroid mengaktifkan adenilil cyclase sehingga AMP siklik memerantarai paling tidak sebagian dari efek TSH. Efek segera dari TSH adalah mendorong endositosis koloid, proteolisis tiroglobulin, dan pembebasan T4 dan T3 ke dalam sirkulasi. Selain itu, TSH merangsang tahap-tahap dalam sintesis hormone tiroid, termasuk penjeratan iodium, iodinasi, dan reaksi penggabungan untuk menghasilkan hormone tiroid.
TSH memiliki efek Kronik yaitu Mendorong Pertumbuhan Kelenjar Tiroid. Efek kronik TSH mencakup peningkatan aliran darah ke kelenjar tiroid dan induksi hipertrofi dan hyperplasia sel folikel. Pada stimulasi FSH yang berkepanjangan, tiroid membesar, dan tumbul gondok (goiter). Tanpa TSH, kelenjar mengalami atrofi berat.
HORMON STEROID
Fisiologi kortikosteroid
Fungsi fisiologi sangat banyak dan beraneka ragam, meliputi pengaruhnya pada : metabolisme karbohidrat, protein, lemak, dan purin; keseimbangan elektrolit dan air; sistem kardiovaskuler, ginjal, otot lurik, susunan saraf, beberapa jaringan dan organ lain. Karena kortikosteroid ini penting untuk kelangsungan hidup organisme, maka dikatakan bahwa korteks adrenal berfungsi homeostatik, artinya : peranan kelenjar ini sangat penting bagi organisme untuk dapat mempertahankan diri apabila menghadapi perubahan sekelilingnya yang bersifat konstan.
Konsentrasi kortisol dalam darah pada keadaan basal tidak tetap; pada pagi hari jumlahnya paling tinggi sedangkan pada malam hari paling rendah, keadaan ini disebut variasi diurnal. Ada dugaan bahwa ritme diurnal ini, meskipun tidak secara langsung, berhubungan dengan aktivitas dari individu.
Pengaruh kortikosteroid terhadap metabolisme dapat terjadi dengan dua cara : (1) Pengaruh langsung pada metabolisme enzim, disebut initiating action misalnya efek kortisol yang dapat meninggikan konsentrasi glikogen hepar. Jumlah glikogen yang disimpan dalam hepar tergantung pada dosis kortisol yang diberikan. (2) Permissive action kortikosteroid memungkinkan zat-zat lain untuk mempengaruhi metabolisme. Misalnya efek kortikosteroid terhadap mobilisasi lemak.
Metabolisme Karbohidrat
Pengaruh kortikosteroid pada metabolisme karbohidrat antara lain terlihat pada hewan dengan adrenalektomi (kelenjar adrenalnya dibuang). Hewan ini hanya dapat hidup tanpa penurunan kadar glukosa darah dan glikogen hepar, yakni bila diberikan makanan cukup. Bila hewan tersebut dipuasakan sebentar saja, maka penyimpanan karbohidrat berkurang dengan cepat, glikogen hepar dan juga sedikit dari otot akan berkurang, dan timbul hipoglikemia. Hewan tersebut menjadi lebih sensitif terhadap insulin. Gambaran gangguan metabolisme karbohidrat ini mirip dengan insufisiensi kortikosteroid, misalnya pada penderita Addison. Apabila hewan tanpa adrenal tersebut di atas diberi glukokortikoid, misalnya kortisol, maka metabolisme karbohidrat akan normal kembali: penyimpanan glikogen terutama di hepar bertambah, glukosa darah tetap normal terutama pada keadaan puasa, dan sensitivitas terhadap insulin kembali normal. Peningkatan produksi glukosa pada keadaan ini ternyata diikuti oleh bertambahnya ekskresi nitrogen, hal ini menunjukkan terjadinya perubahan protein menjadi karbohidrat. Perubahan ini dapat menimbulkan gejala seperti penderita DiabeteS pada seseorang yang diberi pengobatan kortikosteroid dosis besar untuk waktu lama. Pada keadaan tersebut, glukosa darah cenderung meninggi, resistensi terhadap insulin meninggi, toleransi terhadap glukosa menurun dan mungkin terjadi glukosuria.
Mekanisme bagaimana glukokortikoid ini dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat sebenarnya sangat kompleks; hormon ini dapat menyebabkan glukoneogenesis (pembentukan baru gula) di perifer maupun di hepar. Di perifer steroid ini menyebabkan mobilisasi asam amino dari beberapa jaringan, jadi mempunyai efek katabolik. Efek katabolik inilah yang menyebabkan terjadinya atrofi jaringan limfe, penghancuran jaringan dengan akibat pengecilan masa jaringan otot, pada tulang terjadi osteoporosis (pengurangan matriks protein tulang yang diikuti oleh pengeluaran Ca), penipisan kulit, dan timbulnya keseimbangan nitrogen yang negatif. Asam amino tersebut akan dibawa ke hepar yang kemudian akan digunakan sebagai substrat untuk enzim yang berperanan dalam produksi glukosa dan glikogen.
Dalam hepar glukokortikoid merangsang sintesis enzim yang berperanan dalam proses glukoneogenesis dan metabolisme asam amino, antara lain: fosfoenolpiruvat-karboksikinase, fruktosa—1,6—difosfatase, dan glukosa—6—fosfatase, yang mengkatalisis sintesis glukosa. Rangsangan sintesis enzim ini tidak timbul dengan segera, tetapi dibutuhkan waktu beberapa jam. Efek yang lebih cepat timbulnya ialah pengaruh hormon terhadap mitokondria hepar, di mana sintesis piruvat karboksilase sebagai katalisator pembentukan oksaloasetat, dipercepat. Pembentukan oksaloasetat ini merupakan reaksi permulaan sintesis glukosa dari piruvat.
Penggunaan glukokortikoid untuk jangka lama dapat menyebabkan peninggian konsentrasi glukagon plasma, yang dapat merangsang glukoneogenesis, keadaan ini dapat merupakan salah satu penyebab bertambahnya sintesis glukosa. Peninggian penyimpanan glikogen di hepar setelah pemberian glukokortikoid, sekarang dianggap sebagai efek sekunder terhadap adanya peninggian insulin plasma yang disebabkan karena bertambahnya glukosa plasma.
Metabolisme lemak
Pada penggunaan glukokortikoid atau pada penderita Cushing terjadi gangguan distribusi lemak tubuh yang khas. Lemak akan terkumpul secara berlebihan pada depot lemak: leher bagian belakang (buffalo hump), daerah supraklavikula dan juga dimuka (moon face), sebaliknya lemak di daerah ekstremitas akan menghilang. Mekanisme bagaimana hormon ini dapat menyebabkan perubahan distribusi lemak yang abnormal belum diketahui; hanya dari keadaan ini dapat disimpulkan bahwa depot lemak dalam tubuh adalah heterogen dan kepekaan terhadap hormon yang sama pada satu daerah berlainan dengan depot didaerah lain.
Kortikosteroid dapat menambah efek obat yang berkhasiat adipokinetik yang menyebabkan lipolisis trigliserida dalam jaringan lemak. Pada keadaan di mana tidak terdapat korteks adrenal, ternyata mobilisasi lemak akan dihambat dari depot lemak di perifer oleh epinefrin, norepinefrin dan hormon pertumbuhan. Ketonemia dan ketonuria yang terjadi akibat pankreatektomi atau pemberian diet tinggi lemak, akan berkurang pada hewan tanpa adrenal. Pada hewan tanpa adrenal ini transpor dan penyimpanan lemak dihepar dihambat.
Pemberian ekstrak hipofisis anterior, diet tinggi lemak atau zat yang bersifat hepatotoksik pada hewan tanpa adrenal, menyebabkan infiltrasi lemak yang lebih kecil bila dibandingkan dengan hewan utuh. Gangguan metabolisme lemak pada hewan ini dapat diperbaiki dengan pemberian kortisol dosis kecil. Dalam hal ini steroid tersebut dapat menyebabkan suatu perubahan sedemikian rupa, sehingga zat yang diberikan, misalnya ekstrak hipofisis anterior, dapat melakukan pengaruhnya dengan sempurna. Hal ini merupakan salah satu contoh permissive action kortikosteroid.
Susunan Saraf Pusat
Kortikosteroid dapat mempengaruhi susunan saraf pusat, baik secara tidak langsung maupun langsung meskipun hal yang terakhir ini belum dapat dipastikan. Pengaruh yang tidak langsung, disebabkan efeknya pada metabolisme karbohidrat, sistem sirkulasi, dan keseimbangan elektrolit. Adanya efek steroid pada susunan saraf pusat ini dapat dilihat dari timbulnya perubahan pada mood, tingkah laku, EEG dan kepekaan otak, pada mereka yang sedang dalam pengobatan dengan kortikosteroid terutama untuk waktu lama, atau juga pada penderita Addison
Penderita Addison mungkin dapat menunjukkan gejala apatia, depresi, dan cepat tersinggung; bahkan beberapa menunjukkan gejala psikosis. Gejala tersebut dapat diatasi dengan kortisol, sedangkan desoksikortikosteron tidak efektif.
Penderita yang diberikan pengobatan glukokortikoid untuk waktu lama dapat memperlihatkan serangkaian reaksi yang berbeda-beda. Sebagian besar memperlihatkan adanya perbaikan semangat (mood) yang mungkin timbul karena hilangnya gejala penyakit yang sedang diobati; yang lain memperlihatkan keadaan euforia, insomnia, kegelisahan, dan peninggian aktivitas motorik. Kortisol juga dapat menimbulkan depresi. Penderita yang sebelumnya pernah mengalami gangguan jiwa sering memperlihatkan reaksi psikotik. Pada penderita Cushing sering terdapat neurosis dan psikosis. Semua kelainan ini bersifat reversibel. Bila hormon dihentikan atau sindrom diobati secara efektif maka gangguan kelakuan akan hilang. Kelainan EEG yang mungkin timbul juga bersifat reversibel.
Komplikasi yang timbul akibat pengobatan lama adalah akibat gangguan cairan dan elektrolit, hiperglikemia, dan glikosuria, mudah mendapat infeksi terutama tuberkulosis, penderita ulkus peptikum Yang mungkin dapat mengalami perdarahan atau perforasi, osteoporosis, miopati yang karakteristik, psikosis, habitus penderita Cushing (antara lain muka rembulan, buffalo hump, deposisi lemak pada daerah supraklavikuler, obesitas sentral, striae, ekimosis akne, dan hirsutisme).3)
Vitamin D
Pengaturan Pembentukan Vitamin D
Bentuk aktif vitamin D, 1,25-dihidrokolekalsiferol, diatur secara cermat oleh mekanisme-mekanisme berikut:
• Di kulit, 7-dehodrokolekalsiferol diubah oleh sinar ultraviolet menjadi vitamin D3
• Di hati, vitamin D3 diubah menjadi 25-hidroksikolekalsiferol.
• Di korteks ginjal, 25-dehidrokolekalsiferol diubah menjadi 1,25-dihidrokolekalsiferol dalam suatu reaksi yang dirangsang dan dikendalikan oleh PTH.
Karena pembentukan PTH dirangsang oleh penurunan konsentrasi kalsium ekstraseluler, pembentukan 1,25-dihidrokolekalsiferol juga meningkat jikakonsentrasi kalsium di CES turun.
Penyerapan Kalsium di Saluran Cerna -1,25- dihirokolekalsiferol
Di sel epitel usus halus, 1,25 dihidrokolekalsiferol merangsang protein pengikat kalsium, ATPase menstimulasi kalsium, dan alkali fosfatase; semuanya mendorong penyerapan ion kalsium dari lumen usus.
Karena merupakan kation divaen, Ca2+ tidak dapat menembus membrane sel epitel tanpa mekanisme-mekanisme yang diaktifkan oleh 1,25-dihidrokolekalsiferol; oleh karena itu, penyerapan kalsium akan terjadi pada tingkat yang ditentukan secara spesifik oleh aktivitas mekanisme-mekanisme yang diatur oleh 1,25-dihidrokolekalsiferol.
Ion phosfat diserap relative tanpa diatur, meskipun laju absorpsi meningkat pada pemberian 1,25-dihidrokolekalsiferol.
Hormon Testosteron
Hormon steroid berasal dari kolesterol dan berstruktur inti perhidrosiklopentanolfenantren yang terbagi atas tiga cincin sikloheksana. Senyawa steroid terdapat pada hewan, tanaman tingkat tinggi bahkan terdapat pula pada beberapa tanaman tingkat rendah seperti jamur (fungi). Steroid banyak terdapat di alam tetapi dalam jumlah yang terbatas dan mempunyai aktivitas biologis, yang mempunyai karakteristik tertentu yaitu seperti 1) substitusi oksigen pada atom C-3 yang merupakan sifat khas steroid alam 2) subsitusi gugus metil angular pada atom C-10 dan C-13 yang dikenal dengan atom C-18 dan C-19, kecuali pada senyawa steroid dengan cincin A berbentuk benzenoid, seperti pada kelompok esterogen. Mendengar kata steroid, anabolic steroid, obat perangsang meningkatnya metabolisme hormonal tubuh manusia sehingga menjadi lebih kuat. Steroid ini di dalam dunia olahraga sering menimbulkan kontroversi, mengingat prestasi seseorang dapat meningkat dengan mengkonsumsinya, sementara di pihak lain, konsumsi steroid dapat menimbulkan efek samping bagi kesehatan manusia. Baik yang terdapat di tumbuhan maupun di hewan, merupakan hormon yang larut dalam lemak, dan mempunyai struktur basa tetrasiklo. Struktur basa memiliki empat cincin yang saling terpaut dan terdiri dari tiga cincin sikloheksan dan dan siklopentan tersintesis dari asetil CoA melalui jalur asam mevalonik di dalam metabolisme sel tumbuhan. Perbedaan pre-kursor di jalur asam mevalonik, dalam biosintesis steroid pada tumbuhan dan hewan menghasilkan produk steroid yang berbeda, pada tumbuhan menghasilkan brassinolide dan pada hewan menghasilkan kolesterol, dan yang lain lagi pada cendawan menghasilkan ergosterol.
4)
Hormon Steroid
Secara rinci beberapa fungsi steroid adalah sebagai berikut :
• meningkatkan laju perpanjangan sel tumbuhan
* menghambat penuaan daun (senescence)
* mengakibatkan lengkuk pada daun rumput-rumputan
* menghambat proses gugurnya daun
* menghambat pertumbuhan akar tumbuhan
* meningkatkan resistensi pucuk tumbuhan kepada stress lingkungan
* menstimulasi perpanjangan sel di pucuk tumbuhan
* merangsang pertumbuhan pucuk tumbuhan
* merangsang diferensiasi xylem tumbuhan
* menghambat pertumbuhan pucuk pada saat kahat udara dan endogenus karbohidrat.
Hormon Estrogen (Hormon Steroid)
Hormon Protein
1. Insulin
2. FSH dan LH
3. Oxytosin
1. Insulin
Insulin dan glukagon dibentuk di Pulau-Pulau Langerhans. Panckreas juga mengsekresikan hormon amilin, somatostatin, dan polipeptida pankreas.
Kalenjar pankreas terletak pada bagian belakang lambung dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu acapkali disebut pulau-pulau Langerhans. Dinamakan Langerhans atas penemunya, Paul Langerhans pada tahun 1869. Setiap pulau berisikan sel beta yang berfungsi mengeluarkan hormon insulin dan amilin. Dimana hormon insulin memegang peran penting dalam mengatur kadar glukosa darah.
Tiap pankreas mengandung lebih kurang 100.000 pulau Langerhans dan tiap pulau berisi 100 sel beta. Disamping sel beta ada juga sel alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari insulin yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang mengeluarkan somatostatin dan sel PP yang mengsekresi hormon polipeptida pankreas.
Sintesis Insulin
1. Insulin disintesis oleh sel-sel beta, terutama ditranslasikan ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma (mirip sintesis protein) dan menghasilkan praprohormon insulin dengan berat molekul sekitar 11.500.
2. Kemudian praprohormon diarahkan oleh rangkaian “pemandu” yang bersifat hidrofibik dan mengandung 23 asam amino ke dalam sisterna retikulum endoplasma.
3. Di retikulum endoplasma, praprohormon ini dirubah menjadi proinsulin dengan berat molekul kira-kira 9000 dan dikeluarkan dari retikulum endoplasma.
4. Molekul proinsulin diangkut ke aparatus golgi, di sini proteolisis serta pengemasan ke dalam granul sekretorik dimulai.
5. Di aparatus golgi, proinsulin yang semua tersusun oleh rantai B—peptida (C) penghubung—rantai A, akan dipisahkan oleh enzim mirip tripsin dan enzim mirip karboksipeptidase.
6. Pemisahan itu akan menghasilkan insulin heterodimer (AB) dan C peptida. Peptida-C dengan jumlah ekuimolar tetap terdapat dalam granul, tetapi tidak mempunyai aktivitas biologik yang diketahui.
Sekresi Insulin
Kerja Insulin
Sekresi insulin merupakan proses yang memerlukan energi dengan melibatkan sistem mikrotubulus-mikrofilamen dalam sel B pada pulau Lengerhans. Sejumlah intermediet turut membantu pelepasan insulin.
• Glukosa: apabila kadar glukosa darah melewati ambang batas normal—yaitu 80-100 mg/dL–maka insulin akan dikeluarkan dan akan mencapai kerja maksimal pada kadar glukosa 300-500 mg/dL.
• Faktor Hormonal: ada beberapa hormon yang meningkatkan insulin dalam darah, yaitu epinefrin (meningkatkan cAMP intrasel), kortisol, laktogen plesenta, esterogen dan progestatin.
• Prefarat Farmakologi: banyak obat merangsang sekresi insulin, tetapi preparat yang digunakan paling sering untuk terapi diabetes pada manusia adalah senyawa sulfaonilurea.
Kerja dan Metabolisme Insulin
Insulin merupakan hormon yang berfungsi sebagai second messenger yang merangsang dengan potensial listrik. Beberapa peristiwa yang terjadi setelah insulin berikatan dengan reseptor membran:
• Terjadi perubahan bentuk reseptor.
• Reseptor akan berikatan silang dan membentuk mikroagregat.
• Reseptor diinternalisasi.
• Dihasilkan satu atau lebih sinyal. Setelah peristiwa tersebut, glukosa akan masuk ke dalam sel dan membentuki glikogen.
Insulin yang telah terpakai maupun yang tidak terpakai, akan dimetabolisme. Ada dua mekanisme untuk metabolisme insulin:
1. Melibatkan enzim protese spesifik-insulin yang terdapat pada banyak jaringan, tetapi banyak terdapat pada hati, ginjal, dan plasenta.
2. Melibatkan enzim hepatik glutation-insulin transhidrogenase, yang mereduksi ikatan disulfida, dan kemudian rantai A dan B masing-masing diuraikan dengan cepat.
Fungsi Insulin: stimulasi glikogenesis, lipogenesis, dan sintesis protein.
2. FSH dan LH
LH - Luteinizing hormone - Provokasi kelenjar gonade , agar terjadi ovulasi dan corpus luteum memproduksi progesteron ,
FSH – Follicle stimulating hormone - provokasi kelenjar Gonade merangsang terbentuknya Folicle de Graf sehingga mampu membuat estrogen.
Regulasi FSH dan LH
Pengaturan fungsi gonadotropin di modulasi oleh :
1. Faktor hipotalamus melalui GnRH
2. Faktor hipofisis ( regulasi autokrin )
3. Umpan balik gonad ( steroid dan peptida repoduksi )
berpengaruh besar pada menstruasi - Siklus ovulasi , secara normal dapat dibagi menjadi :
• Fase Folikular
• Fase luteal
Fase folikular bermula saat awal menstruasi dan mencapai puncaknya pada lonjakan LH fase ini terjadi karena hormon FSH yang mengawali pembentukan FDG ( Folicle de Graff) sebelum ovulasi (praovulasi).
Fase luteal diawali dengan lonjakan LH praovulasi sampai hari pertama haid. Hormon yang mempengaruhi adalah LH , adanya LH membuat matang folikle sehingga pecah dan terjadi ovulasi , kondisi Ovulasi terbentuk Corpus luteum yang gencar memproduksi Progesteron
Mekanisme kerja Hipotalamus - Hipofise secara sistematis kami uraiakan
• GnRH di sintesis dalam nukleus arkuatus dan disalurkan sepanjang akson sel neuroendokrin melalui eminensia mediana hipotalamus.
• Pelepasan GnRH dilakukan dalam bentuk pulsasi dan dalam keadaan basal frekuensinya satu denyut setiap jam.
• Frekuensi pelepasan GnRH paling cepat terjadi pada fase folikular dan sedikit melambat pada fase luteal awal dan paling lambat pada fase luteal lanjut
• Frekuensi denyut yang cepat akan membantu sekresi LH
• dan frekuensi denyut yang lambat membantu pelepasan FSH.
• Denyut yang lambat pada fase lueal lanjut dibutuhkan untuk meningkatkan kadar FSH yang penting untuk memulai siklus menstruasi lebih lanjut. OK
Mekanisme Hipofise - Kelenjar Gonade dalam siklus menstruasi
• Penurunan kadar estradiol / Estrogen dan progesteron akibat regresi corpus luteum dari siklus sebelumnya mengawali kenaikan kadar FSH
• melalui mekanisme umpan balik negatif yang merangsang pertumbuhan folikel dan sekresi estradiol.
• Dengan rendahnya kadar estradiol terjadi mekanisme umpan balik negatif yang akan menyebabkan pelepasan LH dari hipofisis.
• Dengan meningkatnya kadar estradiol pada akhir fase proliferasi terjadi mekanisme umpan balik positif sehingga terjadi lonjakan LH dan ovulasi.
• Progestin yang terdapat dalam pil KB menyebabkan terjadinya umpan balik negatif pada GnRH sehingga tidak terjadi pelepasan hormon gondadotropin dan tidak terjadi ovulasi.
Mekanisme Menstruasi - Pregnansi
• Selama fase luteal, baik LH maupun FSH akan ditekan melalui efek umpan balik negatif dari meningkatnya kadar estradiol dan progesteron sirkulasi.
• Inhibisi akan terus berlangsung sampai kadar estradiol dan progesteron menurun menjelang akhir fase luteal akibat regresi corpus luteum saat tidak terjadi kehamilan.
• Efek akhir adalah meningkatnya kadar FSH yang menyebabkan pertumbuhan folikel baru pada siklus berikutnya.
• Dalam keadaan tidak terjadi kehamilan durasi fungsi corpus luteum umumnya 14 hari setelah lonjakan LH.
Mekanisme kerja gonadotropin (Hormon LH dan FSH)
• Reseptor hormon glikoprotein terdapat pada membran plasma sel target di gonad.
• Ditemukan reseptor FSH dan LH yang berbeda.
• Reseptor LH dan FSH terdapat di dalam membran plasma sel sel granulosa sel ovarium dan sel Serttoli di Testis.
• FSH menyebabkan proliferasi sel granulosa di sekitar folikel yang sedang berkembang dan biosintesis estrogen oleh sel ini.
• Setelah ovulasi, sel teka sekeliling folikel ovarium yang sudah pecah di ubah menjadi corpus luteum.
• Corpus Luteum merespon stimulasi LH dengan memproduksi progesteron.
GONADOTROPIN KE GONADE PRIA
• Pada pria, FSH menstimulasi spermatogenesis dalam epitel seminiferus dan produksi “protein binding androgen”, aromatase dan inhibin oleh sel Sertoli.
• LH menstimulasi produksi testosteron oleh sel Leydig.
• Testosterone meningkatkan maskulinisasi pada lokasi target perifer setelah dikonversi menjadi metabolit yang lebih poten yaitu dehidrotestosteron – DHT
3. Oxytosin
Oksitosin (dari oksi Yunani, yang berarti "cepat," dan tokos, yang berarti "melahirkan") merangsang kontraksi jaringan otot polos pada dinding rahim selama persalinan.sekresi oksitosin menyebabkan uterus menjadi lebih sensitif. Sebelum tahap akhir kehamilan, rahim relatif tidak sensitif terhadap oksitosin. Setelah sekresi oksitosin, otot menjadi lebih sensitive setelah sekresi Oksitosin. Pada saat pendekatan pengiriman, otot-otot menjadi sensitif terhadap peningkatan sekresi oksitosin.
Sesudah melahirkan, oksitosin merangsang pengeluaran air susu dari kelenjar mammae. Stimulasi mekanis akibat penghisapan Memicu Refleks ke Hipothalamus, yang membebaskan Oksitosin dari Kelenjar Hipofisis Posterior. Oksitosin mengalir ke payudara melalui darah dan menyebabkan kontraksi sel mioepitel yang mengelilingi duktus payudara. Kontraksi ini meningkatkan tekanan ASI yang mengisi duktus sehingga ASI mengalir dari nputing payudara ke bayi. ASI biasanya tidak disemprotkan dari payudara sampai bayi menghisap putting payudara. Refleks ini dikenal sebagai refleks pengeluaran air susu.
1.6 Obesitas.
Kegemukan(obesitas) dapat diketahui dengan mengukur jumlah lemak seluruh tubuh menggunakan alat impedans atau mengukur ketebalan lemak di tempat-tempat tertentu menggunakan alat kaliper. Selain itu lemak di sekitar perut dapat diukur dengan menggunakan meteran. Secara sederhana kegemukan dapat dihitung dengan menghitung Indeks Massa Tubuh, yaitu membagi berat badan (kg) dengan tinggi badan dikuadratkan (m2) atau
IMT = .
Perhitungan ini tidak berlaku bagi atlet, ibu hamil dan anak-anak.
Kriteria kegemukan dan risiko penyakit akibat kegemukan:
IMT (kg/m2) Lingkar Perut (cm) Persen lemak (%)
♂ ♀ ♂ ♀
Kurus < 18.5 Risiko rendah
<90 <80
Sehat 18.5-22.9 10-25 20-35
Kegemukan 23-24.9 Obesitas sentral
≥ 90 ≥ 80 Kelebihan lemak
Obesitas >25 > 30 > 40
Risiko penyakit akibat kegemukan
Jenis kegemukan atau obesitas dapat dibagi dua, yaitu yang merata seluruh tubuh dan yang lokal terutama di perut yang disebut obesitas sentral. Kedua jenis obesitas ini mempunyai dampak pada kesehatan tubuh secara langsung.
Tubuh yang berat akan membebani lutut mengakibatkan keradangan sendi, memicu hipertensi, mengganggu kesuburan dan dapat mengakibatkan kematian mendadak saat tidur. Kelebihan asupan makanan mengakibatkan meningkatnya lemak darah yang tidak diinginkan (kolesterol LDL dan Trigliserida). Selain itu, jaringan lemak tubuh yang merupakan tempat deposit kelebihan kalori, terutama dibagian dalam rongga perut ,ikut mengganggu kerja insulin (resistensi insulin).
Gangguan lemak darah dan resisitensi insulin mengkibatkan kumpulan gejala yang disebut sindroma metabolik, yang ditandai dengan obesitas sentral, hipertensi, dislipidemia (kolesterol total, LDL, trigliserida tinggi, sedangkan kolesterol HDL rendah) dan gula darah puasa yang meningkat. Keadaan ini akan memicu terjadinya diabetes dan menimbulkan penyempitan pembuluh darah yang pada akhirnya meningkatkan kejadian serangan jantung dan stroke.
Selain itu, makan berlebihan akan meningkatkan radikal bebas yang akan memicu terjadinya keganasan (kanker).
Terjadinya Kegemukan
Kegemukan disebabkan oleh ketidak imbangan kalori yang masuk dibanding yang keluar. Kalori diperoleh dari makanan sedangkan pengeluarannya melalui aktivitas tubuh dan olah raga. Kalori terbanyak (60-70%) dipakai oleh tubuh untuk kehidupan dasar seperti bernafas, jantung berdenyut dan fungsi dasar sel. Besarnya kebutuhan kalori dasar ini ditentukan oleh genetik atau keturunan. Namun aktifitas fisik dan olah raga dapat meningkatkan jumlah penggunaan kalori keseluruhan.
Jadi ketidak imbangan kalori ini dapat ditentukan oleh faktor keturunan tapi dipicu oleh pola hidup dan lingkungan. Kebiasaan hidup santai, malas bergerak, selalu dibantu oleh orang lain (pembantu/supir) atau alat (remote/ handphone/ eskalator/ kendaraan) dan makan berlebihan akan meningkatkan asupan dan menurunkan pengeluaran kalori.5)
BAB III
PENUTUP
Metabolik Endokrin diketahui dengan menjelaskan secara merinici prinsip-prinsip metabolisme Protein, Karbohidrat dan Lemak. Setelah mengetahui prinsip metabolisme tersebut, dapat diidentifikasi juga hormon-hormon yang mempengaruhi metabolisme tersebut. Sehingga mengerti secara menyeluruh, kemudian ditambah lagi dengan tinjauan dari sudut gizi yang menambah pengetahuan tentang obesitas dan hal-hal yang harus dihindari. Sehingga bisa dimengerti bagaimana obesitas itu dan apa pengaruh bagi metabolisme tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
1. Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW. Biokimia Harper, Edisi XXV. Penerjemah Hartono Andry, Jakarta: EGC, 2003. 152-83.
2. Guyton & Hall. Buku Ajar (Buku Saku) Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran, 2010. 524-33.
3. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Kedokteran: Dari Sel Ke Sistem, E/2. Jakarta: EGC, 2001.
4. Lehninger. Dasar-Dasar Biokimia. Penerjemah : Maggy Thenawijaya. Jakarta :
Erlangga, 1982.
5. Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001. 301-8.
Senin, 01 November 2010
Selasa, 05 Oktober 2010
Makanan berbahaya..???
Makanan Paling Berbahaya
Makanan yang sangat berbahaya
Apakah makanan paling berbahaya? ternyata makanan tersebut adalah Susu sapi, Telor, dan Daging. Sungguh sebuah tantangan besar, karena makanan makanan yang berbahan dasar Susu, Telor, dan Daging adalah makanan favorit semua orang. Hampir setiap hari memakan makanan tersebut.
Jika kita tidak bisa menghindari makanan tersebut, minimal kita mengurangi atau mengikuti resep sehat Prof Dr. Hiromi Sinya sbb:
1. Jangan konsumsi susu sapi dan turunannya
2. Hindari daging
3. Konsumsi biji bijian dan sayur sayuran
4. Perhatikan teknik makan, seperti kunyah min 33 kali
5. Makanlah dengan senang dan gembira
Sehat memang perlu perjuangan. Tindakan preventif tentu jauh lebih baik, dari pada sudah sakit dan perlu biaya yang tidak sedikit, hilangnya waktu dan kesempatan.
Kuncinya adalah :
1. Menjaga pola makan yang seimbang
2. Makan teratur, secukupnya
3. Makan saat perut lapar dan berhenti sebelum kenyang
4. Minum air putih yang banyak
5. Tidur yang cukup
6. Olah raga yang teratur
7. Konsumsi makanan organik
8. Selalu bersyukur atas semua karunia-Nya
Salah satu alternatif yang murah yakni mengkonsumsi makanan organik Melilea seperti GFO, Susu Kedelai, Juice Apple. Makanan tersebut sangat aman, bebas bahan kimia, bebas bahan pengawet, dan mendapat sertifikasi makanan organik bintang 5
Selain mengkonsumsi makanan organik juga perbanyak minum air putih, karena sangat bermanfaat sbb:
1. Memperlancar sistem pencernaan
2. Memperlambat tumbuhnya sel sel kanker, mencegah batu ginjal
3. Perawatan kecantikan dan untuk kesuburan
4. Menyehatkan jantung
5. Bisa sebagai obat stroke
6. Memberikan efek relaksasi
7. Menguruskan badan
8. Tubuh lebih bugar
9. Penyeimbang tubuh
nah inilah cara termurah untuk menyehatkan badan, selamat mencoba
Makanan yang sangat berbahaya
Apakah makanan paling berbahaya? ternyata makanan tersebut adalah Susu sapi, Telor, dan Daging. Sungguh sebuah tantangan besar, karena makanan makanan yang berbahan dasar Susu, Telor, dan Daging adalah makanan favorit semua orang. Hampir setiap hari memakan makanan tersebut.
Jika kita tidak bisa menghindari makanan tersebut, minimal kita mengurangi atau mengikuti resep sehat Prof Dr. Hiromi Sinya sbb:
1. Jangan konsumsi susu sapi dan turunannya
2. Hindari daging
3. Konsumsi biji bijian dan sayur sayuran
4. Perhatikan teknik makan, seperti kunyah min 33 kali
5. Makanlah dengan senang dan gembira
Sehat memang perlu perjuangan. Tindakan preventif tentu jauh lebih baik, dari pada sudah sakit dan perlu biaya yang tidak sedikit, hilangnya waktu dan kesempatan.
Kuncinya adalah :
1. Menjaga pola makan yang seimbang
2. Makan teratur, secukupnya
3. Makan saat perut lapar dan berhenti sebelum kenyang
4. Minum air putih yang banyak
5. Tidur yang cukup
6. Olah raga yang teratur
7. Konsumsi makanan organik
8. Selalu bersyukur atas semua karunia-Nya
Salah satu alternatif yang murah yakni mengkonsumsi makanan organik Melilea seperti GFO, Susu Kedelai, Juice Apple. Makanan tersebut sangat aman, bebas bahan kimia, bebas bahan pengawet, dan mendapat sertifikasi makanan organik bintang 5
Selain mengkonsumsi makanan organik juga perbanyak minum air putih, karena sangat bermanfaat sbb:
1. Memperlancar sistem pencernaan
2. Memperlambat tumbuhnya sel sel kanker, mencegah batu ginjal
3. Perawatan kecantikan dan untuk kesuburan
4. Menyehatkan jantung
5. Bisa sebagai obat stroke
6. Memberikan efek relaksasi
7. Menguruskan badan
8. Tubuh lebih bugar
9. Penyeimbang tubuh
nah inilah cara termurah untuk menyehatkan badan, selamat mencoba
makalah Traktus Urogenitale
1. Dilihat dari struktur makroskopik (anatomy) dari organ kelamin laki-laki
1.1 Struktur panggul (pelvis)
Tulang-tulang yang membentuk rongga panggul adalah :
a) Os. Coxae yang memebentuk dinding anterior dan lateral panggul serta terdiri dari tulang, yaitu os. Ilium, os. Ischium, dan os. Pubis.
b) Os sacrum dan ossa coccygeus yang membentuk dorsal panggul.
1.2 Pembagian panggul (secara anatomis)
1. Pelvis spurium (pelvis major)
Adalah bagian panggul yang terletak diantara aperture pelvis superior (Pintu Atas Panggul) dan merupakan bagian bawah abdomen. Batas-batas pelvis spurium :
Sebelah ventral berbatasan dengan dinding abdomen bagian bawah
Sebelah dorsal berbatasan dengan vertebra lumbalis
Sebelah lateral berbatasan dengan fossa iliaca
Fungsi pelvis major ini adalah :
a. Menahan alat-alat dalaman rongga perut
b. Menahan uterus saat kehamilan 3 bulan(tidak pada laki-laki)
2. Pelvis verum (pelvis minor)
Adalah bagian panggul yang terletak di bawah aperture pelvis superior (Pintu Atas Panggul). Pelvis verum merupakan pintu keluar panggul (pelvic inlet). Kedua tuber Ischiadica menghubungkan 2 segitiga, diantaranya:
a. Segitiga bagian dorsal disebut trigonum anale, bagian ini dibentuk oleh kedua ligamentum sacrotuberosa dengan puncaknya os. Coccygeus
b. Segitiga bagian ventral disebut trigonum urogenitale, bagian ini dibentuk oleh ramus inferior oss. Pubis dan ramus inferior oss. Ischii sebelah kiri dan kanan dengan puncaknya adalah symphisis oss. Pubis (diperkuat oleh Lig. Arcuatum Pubis)
Pelvis spurium dan pelvis verum akan dipisahkan oleh aperture pelvis superior atau pelvic brim. Banyak factor yang mempengaruhi bentuk PAP ini, diantaranya ras, jenis kelamin, dan nutrisi. PAP pada perempuan lebih lebar dari laki-laki, dinding dari pelvis major dan pelvis minor juga lebih curam dan mempunyai angulus pubicus yang tajam dengan diameter yang kecil. Semua criteria diatas dapat kita simpulkan bahwa laki-laki memiliki bentuk panggul android yang memiliki diameter transversal lebih lebar daripada diameter anteroposterior(menurut Caldwell Moloy).
1.3 Diaphragma Pelvis (sekat pada dasar panggul)
Dibentuk oleh otot-otot yang terdiri dari :
a. Musculus levator ani
Yang berfungsi untuk:
• Menahan dan memfiksasi alat-alat rongga panggul pada tempatnya.
• Menahan tekanan intraabdomen yang mendadak meninggi (misal : pada saat batuk)
M. levator ani dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
M. pubococcygeus
Terletak dibelakang vesica urinaria dan mengontrol proses miksi. Pada pria musculus ini disebut M. levator prostate
M. puborectalis
Yang terletak dorsal dari M. pubococcygeus dan membantu proses defekasi.
M. coccygeus
Adalah otot paling caudal dari M. pubococcygeus dan umumnya menjadi aponeurosis (jaringan ikat).
1.4 GENITALIA MASCULINA
Dibedakan menjadi 2 bagian :
1.4.1 Genitalia interna masculine
a. Ductus deferens (vas deferens)
Adalah suatu saluran berdinding tebal yang dilalui sperma. Mulai dari annulus inguinal medialis menuju lateral A. epigastrica inferior kemudian turun ke dorsocaudal pada dinding lateral pelvis, menyilang ureter disisi medialnya dan menuju ke mediocaudal pada permukaan dorsal vesica urinaria. Pada bagian ujung akhir ductus deferens terdapat bagian yang melebar yang disebut : Ampula duct. Deferens.
Duct. Excretorius vasdeferens bersama dengan ductus excretorius glandula vesiculosa membentuk ductus ejakulatorius.
Mikroskopik Ductus deferens:
b. Vesikula seminalis (gland. Vesiculosa)
Terdiri dari 2 gelembung lobus kanan kiri yang berfungsi memproduksi cairan essential untuk makanan sperma, panjangnya kira-kira 5cm. Pada bagian ujung atas tertutup peritoneum.
Pada bagian depan vesikula seminalis berhubungan dengan permukaan dorsal vesica urinaria, sedangkan sisi medialnya berhubungan dengan vas deferens.
c. Glandula prostat (lipatan mukosa dengan otot polos)
Adalah suatu kelenjar eksokrin fibromuskular yang dilapisi oleh selaput fibrotic dan disebelah luar dilapisi jaringan ikat (lanjutan fascia pelvis). Glandula prostat dibedakan menjadi :
- basis, merupakan bagian diatas dan didepan, sekitar collum vesica urinaria
- apex, terletak pada diafragma urogenitale.
Membrana prostatika peritoneale (Denonviller) dan fascia rectalis memisahkan posterior glandula prostat dengan vas deferens dan vesicula seminalis. Glandula prostat ini diperdarahi oleh cabang-cabang vesicalis inferior, cabang a. pudenda interna. Dan cabang-cabang a. rectalis media. Aliran balik darah melalui plexus venosus prostaticus. Dan glandula prostate dipersarafi cabang-cabang plexus hypogastrica inferior.
Mikroskopik Glandula Prostat :.
Glandula ini jumlahnya sebuah, terletak pada pangkal uretra di daerah leher vesika urinaria. Pada berbagai hewan piara bentuknya tidak sama, secara umum terdapat bagian yang disebut : Corpus prostate dan Pars dissiminata prostate atau pars dissiminata. Istilah korpus prostata hanya tepat untuk babi dan sapi bukan domba dan kambing. Korpus ini kecil posisinya dorsal dari uretra dekat vesikula urinaria.
Pars disiminata prostata praktis terdapat pada semua hewan piara kecuali kuda, terdiri atas lobus dekstra dan sinistra dan istmus. Pada ruminansia terdiri atas pars disminata, glandulanya tersebar hampir sepanjang pars uretra dan pars pelvina. Pada kuda dan karnivora korpus prostata besar dengan glandula yang subur, sebaliknya pars disminata sedikit dan tersebar sebagai kelenjar littre. Pada anjing glandula prostat mengelilingi permulaan uretra. Hewan yang memiliki pars disminata yang subur, kelenjarnya dibalut oleh muskulus uretralis yang terdiri atas otot kerangka kecuali daerah ujung kranial dari korpus prostata.
Struktur histologi parenkhim glandula berbentuk tubulus majemuk. Stroma yang terdiri dari kapsula, trabekula dan jaringan interstitial mengandung otot polos. Epithel berbentuk silindris rendah tergantung pada aktivitas kelenjarnya dan didalamnya banyak terdapat butir sekreta. Intersellulaer skretorikanalikuli sering tampak pada sapi dan kuda. Sekresi kelenjar bersifat apokrin adakalanya epithel terlepas bersama bercampur dengan sekreta, yang diduga menyebabkan terjadinya konrement dalam lumen sinus koligentus disebut Korpura amilasea (sympexionen), pada babi yang sudah tua sering ditemukan.
Pada hewan piara sekreta yang bersifat encer dari glandula prostat dapat menaikkan motilitas dari spermatozoa.
d. TESTIS
Adalah organ reproduksi yang menghasilkan spermatozoa dan sebagai kelenjar endocrine yang menghasilkan hormone androgen serta mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder.
Bentuk testis mempunyai konsistensi lunak dan dibungkus oleh tunica vaginalis propria dan terletak dalam cavum scrota. Pada orang normal, testis kiri lebih rendah daripada yang kanan.1)
Mikroskopik Testis
Pada irisan/potongan testis dari margo anterior ke margo posterior dapat dijumpai parenkim testis dibungkus oleh tunica albugenia. Tunica albugenia memberikan septula testis ke parenkim testis. Disebelah luar dari tunica albugenia dibungkus lagi oleh tunica vaginalis propria lamina visceralis.
Didaerah dekat margo posterior testis yang tidak dicapai oleh septula testis terbentuk massa jaringan ikat fibrosa yang memadat, yang disebut mediastinum testis. Rete Testis adalah anyaman beberapa tubuli seminiferi recti yang memasuki mediastinum. Dari Rete testis dibentuk saluran-saluran yang memasuki caput epydidimis disebut ductuli efferentes testis.
Histologi Mediastinum Testis.2)
Pada testis pria akan dijumpai tubulus seminiferus yang terpendam dalam dasar jaringan ikat longgar yang banyak mengandung pembuluh darah dan limfe, saraf dan sel interstisial (Leydig). Tubulus seminiferus ini akan menghasilkan sel kelamin pria yaitu spermatozoa, sedangkan sel Leydig mengekskresikan androgen testis.. Testis yang dikelilingi oleh selaput berserat albuginea, yang banyak encloses profil dari seminiferous tubules dalam sperma yang dibuat oleh mitosis dan meiosis. Antara seminiferous tubules adalah interstisial sel-sel Leydig (yang memproduksi testosterone) dan kapal darah. wilayah yang berkerut dengan dibulatkan spermatogonia yang mengalami mitosis menjadi dasar spermatocytes (rintik nuclei), dan kemudian menjadi spermatocytes sekunder oleh proses pertama perkembangan meiosis. Sekunder spermatocytes membagi lagi (kedua meiotic divisi) untuk menjadi spermatids (dengan lebih kecil, gelap nuclei), yang mentransformasikan menjadi spermatozoa matang. Semua ini terjadi tahap-tahap ke arah lumen. Spermatozoa dewasa memiliki tongkat tipis seperti nuclei yang bebas dalam lumen. Sel sertoli dengan perpanjangan nucleus sebesar 1 / 3 dari dinding tabung kecil, dan memelihara sel-sel yang berkembang di antara banyak hal lainnya.
Histologi dari smear vagina menampakkan suatu fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel superfisial, selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati.
e. Glandula vesikulosa (mukosa tanpa otot polos)
Glandula ini jumlahnya sepasang, pada sapi cukup subur dan membentuk lobulasi yang jelas. Pada kuda dan manusia berbentuk memanjang dan mengantong. Babi, domba dan kambing pertumbuhan glandulanya cukup baik. Tetapi anjing dan kucing tidak memiliki glandula vesikulares..
Struktur histologi glandula, terbagi dalam lobulus, dipisahkan satu dengan yang lain dengan trabekula atau septa yang mengandung otot polos, pada ruminansia septa cukup tebal. Dalam tiap lobulus terdapat ujung glandula yang paling luas lumennya, sebagai penampung sekreta disebut Sinus Colligentes. Epithel dari ujung kelenjar berbentuk silindris sebaris, tetapi bagi saluran yang cukup besar dan terdapat diluar lobulus, epithelnya banyak lapis. Pada lumen ujung glandula, khususnya sinus koligentes sering terlihat spermatozoa maupun kristal.
Glandula vesikulosa
f. Kelenjar Cowper (glandula bubo-uretralis)
Kelenjar cowper ini jumlahnya sepasang, terdapat pada semua hewan piara kecuali anjing. Kapsula bersifat fibrous murni pada sapi tetapi pada hewan lain mengandung otot polos. Jaringan ikat interlobuler yang membagi kelenjar menjadi beberapa lobulus mengandung otot polos. Hanya pada kuda disusun atas otot kerangka, di luar kapsula jelas terdapat otot kerangka.
Epithel kelenjar berbentuk silindris rendah, lumen ujung glandulanya besar, aspeknya mukeus dengan ujung kelenjar ada yang serous, perimbangannya tergantung jenis hewannya. Pada setiap lobulus terdapat sinus kelenjar sebagai penampung sekreta. Babi lumen ujung glandulanya meluas dengan sekreta kental, penting untuk memperkental air mani setelah ejakulasi. Sekreta kelenjar cowper bermuara kedalam uretra dan dianggap sebagai pembersih (lubrikan) uretra sebelum air mani lewat. pH sekitar 7,5-8,2 pada ejakulasi tak sempurna air mani sapi tak mengandung spermatozoa, cairan mana berasal dari kelenjar cowper dan mungkin sebagian dari prostat.
1.4.2 Genitalia externa masculine.
a. Penis
Penis dihubungkan pada symphisis ossis pubis melalui jaringan ikat ligamentum suspensorium penis. Penis dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu radix penis,corpus penis, dan gland penis. Radix penis terdiri dari 3 massa jaringan erektil yaitu bulbus penis, crus penis dextra, dan crus penis sinistra. Pada permukaan corpus penis yang merupakan lanjutan dari radix penis, dijumpai vena dorsalis penis superficialis.
Pada gland penis dapat dijumpai alat-alat:
Meatus urethra externa
Frenulum, yang merupakan lipatan kulit dicaudal meatus urethra externa
Preputium, yaitu lapisan kulit yang menutupi glans penis
Corona glandis, dipinggir dasar glans penis.
Penis
Dengan pembesaran rendah ini penampang untuk melihat tiga badan (korporasi) yang membentuk sebagian besar massa dari penis. Badan-badan ini dikelilingi oleh tunika albuginea berserat. Dua corpora cavernosa punggung berbaring berdampingan, dipisahkan oleh septum median (terdiri dari otot polos). Dibagian ventral corpus spongiosum mudah dikenali karena mengandung porsi gua dari uretra, baris demi kolumnar epitel bertingkat. Korpus spongiosum diisi dengan vena dan arteri kecil. Arteri dalam di bagian medial setiap corpus cavernosum, dan vena besar di atas kavernosum dua. Epidermis lapisan luar penis epitel skuamosa berlapis, karena kulit, dan dermis CT padat terletak di bawahnya. Arteri dorsal terlihat di beberapa preparat.
b. Scrotum
Adalah suatu kantong yang dibentuk oleh fascia dan kulit. Kulit scrotum berkeripur dan ditutupi rambut-rambut kasar. Pada bagian tengah scrotum, dapat dijunpai suatu garis yang disebut Raphe-scrotalis. Scrotum berisi testis dan epydidimis.3)
Mikroskopik Skrotum :
Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah.
1.5 MEKANISME PUBERTAS
Fungsi Reproduksi dan Hormon Pria (dan Fungsi Kelenjar Pineal).
Spermatogenesis
Adalah proses pembentukan spermatosit daro spermatogonia. Proses ini dimulai pada masa pubertas dan berlanjut seumur hidup pria. Spermatogenesis belangsung di dinding tubulus seminiferus.
Dinding tubulus terdiri dari dua kompartemen yang dipisahkan oleh taut erat antara sel-sel Sertoli.
• Lapisan basal yang terdiri dari sel Leydig dan spermatogonia.
• Lapisan adluminal, yang dibentuk oleh sel Sertoli dan spermatosit.
Tahap awal dalam proses ini adalah transformasi spermatogonia tipe A yang sifatnya epiteloid, menjadi spermatogonia tipe B, suatu proses yang melibatkan empat pembelahan. Sel tipe B terbenam di Sel Sertoli. Sel tipe B diubah menjadi spermatosit primer dan kemudian, dalam suatu tahap yang melibatkan pembelahan meiotic pertama menjadi spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder mengalami pembelahan meiotic kedua, menghasilkan spermatid, yang masing-masing memiliki 23 chromosome tak berpasangan.
Tahap-tahap diatas dirangsang oleh testosterone dan follicle – Stimulating Hormone (FSH).
Spermiogenesis adalah proses tranfomasi spermatid, yang masih epiteloid, menjadi sel sperma. Proses ini berlangsung sementara sel-sel terbenam disel Sertoli; proses ini memerlukan estrogen dan FSH. Setelah terbentuk, sel sperma dikeluarkan ke dalam lumen tubulus dalam suatu proses yang dirangsang oleh Luteinizing Hormone (LH). Pembelahan pertama spermatogonia tipe A hingga pengeluaran sel sperma memerlukan waktu sekitar 64 hari.
Sel sperma yang baru terbentuk belum berfungsi dan memerlukan proses pematangan, yang berlangsung di epididimis dalam waktu 12 hari. Pematangan membutuhkan testosterone dan estrogen. Sperma matang disimpan di vas deferens.4)
1.5.1 AKSI SEKSUAL PRIA
Aksi seksual pria adalah proses dengan puncak berupa pengendapan beberapa ratus sel sperma hidup di serviks pasangan seksualnya. Sel sperma terdapat dalam campuran cairan yang dihasilkan oleh organ-organ reproduksi pria yang dinamai semen(air mani) dan mencakup yang berikut.
• Cairan vesikula seminalis, ia membentuk 60% dari volume total semen. Cairan ini mengandung mukoid, prostaglandin E2, fruktosa, dan fibrinogen.
• Cairan prostat, ia membentuk 20% dari volume semen dan mengandung NaHCO3,(pH=7.5), enzim pembekuan, kalsium, dan profibrinolisin.
• Sel sperma
Volume rerata ejakulat pada setiap kali koitus adalah 3.5 mililiter dan setiap milliliter semen mengandung sekitar 120 juta sel sperma. Untuk mencapai tingkat kesuburan normal, hitung sperma permililiter harus lebih besar daripada 20 juta
Tindakan seksual berlangsung dalam 3 tahap.
• Ereksi dan lubrikasi.
Ereksi adalah proses pengisian jaringan erektil penis oleh darah pada tekanan yang mendekati tekanan darah arteri. Arteri-arteri yang mengarah kejaringan erektil melebar sebagai respons terhadap impuls parasimpatis, yang merangsang pembebasan nitrat Oksida diujung saraf pada otot polos arteri. Reflex parasimpatis juga merangsang sekresi mucus oleh kelenjar urethra dan kelenjar bulbourethra. Mucus membantu lubrikasi vagina sewaktu koitus.
• Emisi, adalah proses yang merangsang otot-otot polos disekitar vesikula seminalis, vas deferens, dan kelenjar-kelenjar prostat, sehingga organ-organ ini mengalirkan isinya kedalam nurethra interna, suatu proses yang dipicu oleh reflex simpatis dari L1 dan L2.
• Ejakulasi, adalah suatu rrefleks otot rangka yang timbul sebagai respons terhadap peregangan urethra interna. Reflex ini menyebabkan kontraksi otot-otot ischiocavernosus dan bulbocavernosus dan otot-otot panggul , menyebabkan kompresi diurethra interna dan terdorongnya semen keluar urethra.
1.6 Hormon Seks Pria
Testosteron adalah hormone steroid anabolic yang dikeluarkan oleh sel Leydig testis. Hormone ini dibentuk ini dari kolesterol dalam jumlah 2-10 mg/ hari. Dalam darah, testosterone diangkut berikatan dengan albumin/ terikat erat ke seks hormone Binding Globulin (Globulin pengikat hormone Seks). Hprmonedikeluarkan dari dalam darah dalam waktu 30-60 menit setelah sekresi proses fiksasi ke sel jaringan sasaran atau penguraian menjadi senyawa inactive. Hormone ini dimetabolisasi menjadi dihidrotestosteron (androgen yang secara biologis active) dijaringan sasaran dan menjadi estrogen dijaringan lemak. Testosterone memiliki efek pada organ reproduksi dan non-reproduksi. Hormone ini diperlukan untuk stimulasi differensiasi prenatal dan perkembangan testis, penis, epydidimis, vesikula seminalis, dan prostat pada masa pubertas. Testosterone dibutuhkan oleh pria dewasa untuk mempertahankan fungsi normal organ-organ seks primer. Testosterone juga berefek pada tulang, merangsang pertumbuhan dan proliferasi sel tulang sehingga kepadatan tulang meningkat. Hormone ini juga berefek pada distribusi rambut dan menyebabkan penebalan kulit. Testosteron mempengaruhi hati, menyebabkan sintesis factor-faktor pembekuan dan lipase hati. Dibawah pengaruh testosterone, kadar lipoprotein berdensitas tinggi menurun, dan kadar lipoprotein berdensitas rendah meningkat. Kadar hemoglobin dan hematrokit meningkat akibat efek testosterone yang merangsang pembentukan eritropoetin. Hormone ini memiliki efek meningkat laju sintesis protein dibanyak jaringan.
Karena merupakan hormone steroid, testosterone mudah masuk ke sitoplasma sel jaringan sasaran melalui difusi menembus membrane sel enzim 5α-ketoreduktase mengubah hormone ini menjadi dihidostestosteron, yang kemudian berikatan dengan protein reseptor disitoplasma. Kompleks ini bermigrasi kedalam nucleus dan berikatan dengan suatu protein nucleus yang memicu transkripsi DNA – RNA.
Gonadotropin-Releasing Hormon (GnRH) meningkatkan pelepasan LH dan FSH dari kelenjar hipofisis anterior. Hormone polipeptida, yang juga disebut sebagai Gonadotropin Releasing Hormone, disekresikan oleh hypothalamus ke dalam system porta hypothalamus-hipofisis. Pembentukannya dihambat oleh testosterone dan estrogen.
LH merangsang pembentukan testosterone oleh Sel Leydig, dan FSH merangsang spermatogenesis dan spermiogenesis. Kedua hormone tersebut disekresikan oleh sel basofilik hipofisis anterior. Pembebeasan keduanya dirangsang oleh GnRH.
Inhibin dibentuk oleh sel Sertoli dan Menghambat sekresi FSH. Pembentukan inhibin meningkat seiring dengan peningkatan laju produksi sel sperma.5)
PENUTUP
Traktus Urogenital pada laki-laki (Genitalia Masculina) dimulai dari Interna sampai ke Interna, dimana Genitalia Interna Masculina dimulai dari ductus Deferens yang dilalui sperma, kemudia juga terdapat vesicular seminalis yang memproduksi makanan untuk sperma seperti halnya dengan Sel Sertoli. Kemudian dilihat dari Externa terdapat penis sebagai alat kelamin laki-laki dan scrotum yang didalamnya terdapat testis. Selain itu, terdapat hormone-hormon yang mempengaruhi perkembangan testis yaitu hormone testosterone yang berperan dalam perkembangan cirri seks kelamin sekunder.
Daftar Pustaka
1. Kasim, Inggriani. 2010. Buku Ajar Traktus Urogenitalis. Ed 2. Jakarta: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran UKRIDA
2. Luis Carlos Junquiera, Jose Carneiro. HISTOLOGI DASAR : Text & Atlas.EGC;2007
3. Kastowo, Hadi.1984.Anatomi Komparative. Bandung:ALUMNI.
4. Guyton & Hall. Buku Ajar (Buku Saku) Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.2010. 615-9.
5. Haslam RHA. Endokrine System. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi Internasional ke-17. Philadelphia : Saunders Elsevier Science. 2004 ; p.1926-1935
1.1 Struktur panggul (pelvis)
Tulang-tulang yang membentuk rongga panggul adalah :
a) Os. Coxae yang memebentuk dinding anterior dan lateral panggul serta terdiri dari tulang, yaitu os. Ilium, os. Ischium, dan os. Pubis.
b) Os sacrum dan ossa coccygeus yang membentuk dorsal panggul.
1.2 Pembagian panggul (secara anatomis)
1. Pelvis spurium (pelvis major)
Adalah bagian panggul yang terletak diantara aperture pelvis superior (Pintu Atas Panggul) dan merupakan bagian bawah abdomen. Batas-batas pelvis spurium :
Sebelah ventral berbatasan dengan dinding abdomen bagian bawah
Sebelah dorsal berbatasan dengan vertebra lumbalis
Sebelah lateral berbatasan dengan fossa iliaca
Fungsi pelvis major ini adalah :
a. Menahan alat-alat dalaman rongga perut
b. Menahan uterus saat kehamilan 3 bulan(tidak pada laki-laki)
2. Pelvis verum (pelvis minor)
Adalah bagian panggul yang terletak di bawah aperture pelvis superior (Pintu Atas Panggul). Pelvis verum merupakan pintu keluar panggul (pelvic inlet). Kedua tuber Ischiadica menghubungkan 2 segitiga, diantaranya:
a. Segitiga bagian dorsal disebut trigonum anale, bagian ini dibentuk oleh kedua ligamentum sacrotuberosa dengan puncaknya os. Coccygeus
b. Segitiga bagian ventral disebut trigonum urogenitale, bagian ini dibentuk oleh ramus inferior oss. Pubis dan ramus inferior oss. Ischii sebelah kiri dan kanan dengan puncaknya adalah symphisis oss. Pubis (diperkuat oleh Lig. Arcuatum Pubis)
Pelvis spurium dan pelvis verum akan dipisahkan oleh aperture pelvis superior atau pelvic brim. Banyak factor yang mempengaruhi bentuk PAP ini, diantaranya ras, jenis kelamin, dan nutrisi. PAP pada perempuan lebih lebar dari laki-laki, dinding dari pelvis major dan pelvis minor juga lebih curam dan mempunyai angulus pubicus yang tajam dengan diameter yang kecil. Semua criteria diatas dapat kita simpulkan bahwa laki-laki memiliki bentuk panggul android yang memiliki diameter transversal lebih lebar daripada diameter anteroposterior(menurut Caldwell Moloy).
1.3 Diaphragma Pelvis (sekat pada dasar panggul)
Dibentuk oleh otot-otot yang terdiri dari :
a. Musculus levator ani
Yang berfungsi untuk:
• Menahan dan memfiksasi alat-alat rongga panggul pada tempatnya.
• Menahan tekanan intraabdomen yang mendadak meninggi (misal : pada saat batuk)
M. levator ani dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
M. pubococcygeus
Terletak dibelakang vesica urinaria dan mengontrol proses miksi. Pada pria musculus ini disebut M. levator prostate
M. puborectalis
Yang terletak dorsal dari M. pubococcygeus dan membantu proses defekasi.
M. coccygeus
Adalah otot paling caudal dari M. pubococcygeus dan umumnya menjadi aponeurosis (jaringan ikat).
1.4 GENITALIA MASCULINA
Dibedakan menjadi 2 bagian :
1.4.1 Genitalia interna masculine
a. Ductus deferens (vas deferens)
Adalah suatu saluran berdinding tebal yang dilalui sperma. Mulai dari annulus inguinal medialis menuju lateral A. epigastrica inferior kemudian turun ke dorsocaudal pada dinding lateral pelvis, menyilang ureter disisi medialnya dan menuju ke mediocaudal pada permukaan dorsal vesica urinaria. Pada bagian ujung akhir ductus deferens terdapat bagian yang melebar yang disebut : Ampula duct. Deferens.
Duct. Excretorius vasdeferens bersama dengan ductus excretorius glandula vesiculosa membentuk ductus ejakulatorius.
Mikroskopik Ductus deferens:
b. Vesikula seminalis (gland. Vesiculosa)
Terdiri dari 2 gelembung lobus kanan kiri yang berfungsi memproduksi cairan essential untuk makanan sperma, panjangnya kira-kira 5cm. Pada bagian ujung atas tertutup peritoneum.
Pada bagian depan vesikula seminalis berhubungan dengan permukaan dorsal vesica urinaria, sedangkan sisi medialnya berhubungan dengan vas deferens.
c. Glandula prostat (lipatan mukosa dengan otot polos)
Adalah suatu kelenjar eksokrin fibromuskular yang dilapisi oleh selaput fibrotic dan disebelah luar dilapisi jaringan ikat (lanjutan fascia pelvis). Glandula prostat dibedakan menjadi :
- basis, merupakan bagian diatas dan didepan, sekitar collum vesica urinaria
- apex, terletak pada diafragma urogenitale.
Membrana prostatika peritoneale (Denonviller) dan fascia rectalis memisahkan posterior glandula prostat dengan vas deferens dan vesicula seminalis. Glandula prostat ini diperdarahi oleh cabang-cabang vesicalis inferior, cabang a. pudenda interna. Dan cabang-cabang a. rectalis media. Aliran balik darah melalui plexus venosus prostaticus. Dan glandula prostate dipersarafi cabang-cabang plexus hypogastrica inferior.
Mikroskopik Glandula Prostat :.
Glandula ini jumlahnya sebuah, terletak pada pangkal uretra di daerah leher vesika urinaria. Pada berbagai hewan piara bentuknya tidak sama, secara umum terdapat bagian yang disebut : Corpus prostate dan Pars dissiminata prostate atau pars dissiminata. Istilah korpus prostata hanya tepat untuk babi dan sapi bukan domba dan kambing. Korpus ini kecil posisinya dorsal dari uretra dekat vesikula urinaria.
Pars disiminata prostata praktis terdapat pada semua hewan piara kecuali kuda, terdiri atas lobus dekstra dan sinistra dan istmus. Pada ruminansia terdiri atas pars disminata, glandulanya tersebar hampir sepanjang pars uretra dan pars pelvina. Pada kuda dan karnivora korpus prostata besar dengan glandula yang subur, sebaliknya pars disminata sedikit dan tersebar sebagai kelenjar littre. Pada anjing glandula prostat mengelilingi permulaan uretra. Hewan yang memiliki pars disminata yang subur, kelenjarnya dibalut oleh muskulus uretralis yang terdiri atas otot kerangka kecuali daerah ujung kranial dari korpus prostata.
Struktur histologi parenkhim glandula berbentuk tubulus majemuk. Stroma yang terdiri dari kapsula, trabekula dan jaringan interstitial mengandung otot polos. Epithel berbentuk silindris rendah tergantung pada aktivitas kelenjarnya dan didalamnya banyak terdapat butir sekreta. Intersellulaer skretorikanalikuli sering tampak pada sapi dan kuda. Sekresi kelenjar bersifat apokrin adakalanya epithel terlepas bersama bercampur dengan sekreta, yang diduga menyebabkan terjadinya konrement dalam lumen sinus koligentus disebut Korpura amilasea (sympexionen), pada babi yang sudah tua sering ditemukan.
Pada hewan piara sekreta yang bersifat encer dari glandula prostat dapat menaikkan motilitas dari spermatozoa.
d. TESTIS
Adalah organ reproduksi yang menghasilkan spermatozoa dan sebagai kelenjar endocrine yang menghasilkan hormone androgen serta mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder.
Bentuk testis mempunyai konsistensi lunak dan dibungkus oleh tunica vaginalis propria dan terletak dalam cavum scrota. Pada orang normal, testis kiri lebih rendah daripada yang kanan.1)
Mikroskopik Testis
Pada irisan/potongan testis dari margo anterior ke margo posterior dapat dijumpai parenkim testis dibungkus oleh tunica albugenia. Tunica albugenia memberikan septula testis ke parenkim testis. Disebelah luar dari tunica albugenia dibungkus lagi oleh tunica vaginalis propria lamina visceralis.
Didaerah dekat margo posterior testis yang tidak dicapai oleh septula testis terbentuk massa jaringan ikat fibrosa yang memadat, yang disebut mediastinum testis. Rete Testis adalah anyaman beberapa tubuli seminiferi recti yang memasuki mediastinum. Dari Rete testis dibentuk saluran-saluran yang memasuki caput epydidimis disebut ductuli efferentes testis.
Histologi Mediastinum Testis.2)
Pada testis pria akan dijumpai tubulus seminiferus yang terpendam dalam dasar jaringan ikat longgar yang banyak mengandung pembuluh darah dan limfe, saraf dan sel interstisial (Leydig). Tubulus seminiferus ini akan menghasilkan sel kelamin pria yaitu spermatozoa, sedangkan sel Leydig mengekskresikan androgen testis.. Testis yang dikelilingi oleh selaput berserat albuginea, yang banyak encloses profil dari seminiferous tubules dalam sperma yang dibuat oleh mitosis dan meiosis. Antara seminiferous tubules adalah interstisial sel-sel Leydig (yang memproduksi testosterone) dan kapal darah. wilayah yang berkerut dengan dibulatkan spermatogonia yang mengalami mitosis menjadi dasar spermatocytes (rintik nuclei), dan kemudian menjadi spermatocytes sekunder oleh proses pertama perkembangan meiosis. Sekunder spermatocytes membagi lagi (kedua meiotic divisi) untuk menjadi spermatids (dengan lebih kecil, gelap nuclei), yang mentransformasikan menjadi spermatozoa matang. Semua ini terjadi tahap-tahap ke arah lumen. Spermatozoa dewasa memiliki tongkat tipis seperti nuclei yang bebas dalam lumen. Sel sertoli dengan perpanjangan nucleus sebesar 1 / 3 dari dinding tabung kecil, dan memelihara sel-sel yang berkembang di antara banyak hal lainnya.
Histologi dari smear vagina menampakkan suatu fenomena kehadiran sel-sel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel superfisial, selain itu sel darah merah dan neutrofil juga dapat diamati.
e. Glandula vesikulosa (mukosa tanpa otot polos)
Glandula ini jumlahnya sepasang, pada sapi cukup subur dan membentuk lobulasi yang jelas. Pada kuda dan manusia berbentuk memanjang dan mengantong. Babi, domba dan kambing pertumbuhan glandulanya cukup baik. Tetapi anjing dan kucing tidak memiliki glandula vesikulares..
Struktur histologi glandula, terbagi dalam lobulus, dipisahkan satu dengan yang lain dengan trabekula atau septa yang mengandung otot polos, pada ruminansia septa cukup tebal. Dalam tiap lobulus terdapat ujung glandula yang paling luas lumennya, sebagai penampung sekreta disebut Sinus Colligentes. Epithel dari ujung kelenjar berbentuk silindris sebaris, tetapi bagi saluran yang cukup besar dan terdapat diluar lobulus, epithelnya banyak lapis. Pada lumen ujung glandula, khususnya sinus koligentes sering terlihat spermatozoa maupun kristal.
Glandula vesikulosa
f. Kelenjar Cowper (glandula bubo-uretralis)
Kelenjar cowper ini jumlahnya sepasang, terdapat pada semua hewan piara kecuali anjing. Kapsula bersifat fibrous murni pada sapi tetapi pada hewan lain mengandung otot polos. Jaringan ikat interlobuler yang membagi kelenjar menjadi beberapa lobulus mengandung otot polos. Hanya pada kuda disusun atas otot kerangka, di luar kapsula jelas terdapat otot kerangka.
Epithel kelenjar berbentuk silindris rendah, lumen ujung glandulanya besar, aspeknya mukeus dengan ujung kelenjar ada yang serous, perimbangannya tergantung jenis hewannya. Pada setiap lobulus terdapat sinus kelenjar sebagai penampung sekreta. Babi lumen ujung glandulanya meluas dengan sekreta kental, penting untuk memperkental air mani setelah ejakulasi. Sekreta kelenjar cowper bermuara kedalam uretra dan dianggap sebagai pembersih (lubrikan) uretra sebelum air mani lewat. pH sekitar 7,5-8,2 pada ejakulasi tak sempurna air mani sapi tak mengandung spermatozoa, cairan mana berasal dari kelenjar cowper dan mungkin sebagian dari prostat.
1.4.2 Genitalia externa masculine.
a. Penis
Penis dihubungkan pada symphisis ossis pubis melalui jaringan ikat ligamentum suspensorium penis. Penis dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu radix penis,corpus penis, dan gland penis. Radix penis terdiri dari 3 massa jaringan erektil yaitu bulbus penis, crus penis dextra, dan crus penis sinistra. Pada permukaan corpus penis yang merupakan lanjutan dari radix penis, dijumpai vena dorsalis penis superficialis.
Pada gland penis dapat dijumpai alat-alat:
Meatus urethra externa
Frenulum, yang merupakan lipatan kulit dicaudal meatus urethra externa
Preputium, yaitu lapisan kulit yang menutupi glans penis
Corona glandis, dipinggir dasar glans penis.
Penis
Dengan pembesaran rendah ini penampang untuk melihat tiga badan (korporasi) yang membentuk sebagian besar massa dari penis. Badan-badan ini dikelilingi oleh tunika albuginea berserat. Dua corpora cavernosa punggung berbaring berdampingan, dipisahkan oleh septum median (terdiri dari otot polos). Dibagian ventral corpus spongiosum mudah dikenali karena mengandung porsi gua dari uretra, baris demi kolumnar epitel bertingkat. Korpus spongiosum diisi dengan vena dan arteri kecil. Arteri dalam di bagian medial setiap corpus cavernosum, dan vena besar di atas kavernosum dua. Epidermis lapisan luar penis epitel skuamosa berlapis, karena kulit, dan dermis CT padat terletak di bawahnya. Arteri dorsal terlihat di beberapa preparat.
b. Scrotum
Adalah suatu kantong yang dibentuk oleh fascia dan kulit. Kulit scrotum berkeripur dan ditutupi rambut-rambut kasar. Pada bagian tengah scrotum, dapat dijunpai suatu garis yang disebut Raphe-scrotalis. Scrotum berisi testis dan epydidimis.3)
Mikroskopik Skrotum :
Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah.
1.5 MEKANISME PUBERTAS
Fungsi Reproduksi dan Hormon Pria (dan Fungsi Kelenjar Pineal).
Spermatogenesis
Adalah proses pembentukan spermatosit daro spermatogonia. Proses ini dimulai pada masa pubertas dan berlanjut seumur hidup pria. Spermatogenesis belangsung di dinding tubulus seminiferus.
Dinding tubulus terdiri dari dua kompartemen yang dipisahkan oleh taut erat antara sel-sel Sertoli.
• Lapisan basal yang terdiri dari sel Leydig dan spermatogonia.
• Lapisan adluminal, yang dibentuk oleh sel Sertoli dan spermatosit.
Tahap awal dalam proses ini adalah transformasi spermatogonia tipe A yang sifatnya epiteloid, menjadi spermatogonia tipe B, suatu proses yang melibatkan empat pembelahan. Sel tipe B terbenam di Sel Sertoli. Sel tipe B diubah menjadi spermatosit primer dan kemudian, dalam suatu tahap yang melibatkan pembelahan meiotic pertama menjadi spermatosit sekunder. Spermatosit sekunder mengalami pembelahan meiotic kedua, menghasilkan spermatid, yang masing-masing memiliki 23 chromosome tak berpasangan.
Tahap-tahap diatas dirangsang oleh testosterone dan follicle – Stimulating Hormone (FSH).
Spermiogenesis adalah proses tranfomasi spermatid, yang masih epiteloid, menjadi sel sperma. Proses ini berlangsung sementara sel-sel terbenam disel Sertoli; proses ini memerlukan estrogen dan FSH. Setelah terbentuk, sel sperma dikeluarkan ke dalam lumen tubulus dalam suatu proses yang dirangsang oleh Luteinizing Hormone (LH). Pembelahan pertama spermatogonia tipe A hingga pengeluaran sel sperma memerlukan waktu sekitar 64 hari.
Sel sperma yang baru terbentuk belum berfungsi dan memerlukan proses pematangan, yang berlangsung di epididimis dalam waktu 12 hari. Pematangan membutuhkan testosterone dan estrogen. Sperma matang disimpan di vas deferens.4)
1.5.1 AKSI SEKSUAL PRIA
Aksi seksual pria adalah proses dengan puncak berupa pengendapan beberapa ratus sel sperma hidup di serviks pasangan seksualnya. Sel sperma terdapat dalam campuran cairan yang dihasilkan oleh organ-organ reproduksi pria yang dinamai semen(air mani) dan mencakup yang berikut.
• Cairan vesikula seminalis, ia membentuk 60% dari volume total semen. Cairan ini mengandung mukoid, prostaglandin E2, fruktosa, dan fibrinogen.
• Cairan prostat, ia membentuk 20% dari volume semen dan mengandung NaHCO3,(pH=7.5), enzim pembekuan, kalsium, dan profibrinolisin.
• Sel sperma
Volume rerata ejakulat pada setiap kali koitus adalah 3.5 mililiter dan setiap milliliter semen mengandung sekitar 120 juta sel sperma. Untuk mencapai tingkat kesuburan normal, hitung sperma permililiter harus lebih besar daripada 20 juta
Tindakan seksual berlangsung dalam 3 tahap.
• Ereksi dan lubrikasi.
Ereksi adalah proses pengisian jaringan erektil penis oleh darah pada tekanan yang mendekati tekanan darah arteri. Arteri-arteri yang mengarah kejaringan erektil melebar sebagai respons terhadap impuls parasimpatis, yang merangsang pembebasan nitrat Oksida diujung saraf pada otot polos arteri. Reflex parasimpatis juga merangsang sekresi mucus oleh kelenjar urethra dan kelenjar bulbourethra. Mucus membantu lubrikasi vagina sewaktu koitus.
• Emisi, adalah proses yang merangsang otot-otot polos disekitar vesikula seminalis, vas deferens, dan kelenjar-kelenjar prostat, sehingga organ-organ ini mengalirkan isinya kedalam nurethra interna, suatu proses yang dipicu oleh reflex simpatis dari L1 dan L2.
• Ejakulasi, adalah suatu rrefleks otot rangka yang timbul sebagai respons terhadap peregangan urethra interna. Reflex ini menyebabkan kontraksi otot-otot ischiocavernosus dan bulbocavernosus dan otot-otot panggul , menyebabkan kompresi diurethra interna dan terdorongnya semen keluar urethra.
1.6 Hormon Seks Pria
Testosteron adalah hormone steroid anabolic yang dikeluarkan oleh sel Leydig testis. Hormone ini dibentuk ini dari kolesterol dalam jumlah 2-10 mg/ hari. Dalam darah, testosterone diangkut berikatan dengan albumin/ terikat erat ke seks hormone Binding Globulin (Globulin pengikat hormone Seks). Hprmonedikeluarkan dari dalam darah dalam waktu 30-60 menit setelah sekresi proses fiksasi ke sel jaringan sasaran atau penguraian menjadi senyawa inactive. Hormone ini dimetabolisasi menjadi dihidrotestosteron (androgen yang secara biologis active) dijaringan sasaran dan menjadi estrogen dijaringan lemak. Testosterone memiliki efek pada organ reproduksi dan non-reproduksi. Hormone ini diperlukan untuk stimulasi differensiasi prenatal dan perkembangan testis, penis, epydidimis, vesikula seminalis, dan prostat pada masa pubertas. Testosterone dibutuhkan oleh pria dewasa untuk mempertahankan fungsi normal organ-organ seks primer. Testosterone juga berefek pada tulang, merangsang pertumbuhan dan proliferasi sel tulang sehingga kepadatan tulang meningkat. Hormone ini juga berefek pada distribusi rambut dan menyebabkan penebalan kulit. Testosteron mempengaruhi hati, menyebabkan sintesis factor-faktor pembekuan dan lipase hati. Dibawah pengaruh testosterone, kadar lipoprotein berdensitas tinggi menurun, dan kadar lipoprotein berdensitas rendah meningkat. Kadar hemoglobin dan hematrokit meningkat akibat efek testosterone yang merangsang pembentukan eritropoetin. Hormone ini memiliki efek meningkat laju sintesis protein dibanyak jaringan.
Karena merupakan hormone steroid, testosterone mudah masuk ke sitoplasma sel jaringan sasaran melalui difusi menembus membrane sel enzim 5α-ketoreduktase mengubah hormone ini menjadi dihidostestosteron, yang kemudian berikatan dengan protein reseptor disitoplasma. Kompleks ini bermigrasi kedalam nucleus dan berikatan dengan suatu protein nucleus yang memicu transkripsi DNA – RNA.
Gonadotropin-Releasing Hormon (GnRH) meningkatkan pelepasan LH dan FSH dari kelenjar hipofisis anterior. Hormone polipeptida, yang juga disebut sebagai Gonadotropin Releasing Hormone, disekresikan oleh hypothalamus ke dalam system porta hypothalamus-hipofisis. Pembentukannya dihambat oleh testosterone dan estrogen.
LH merangsang pembentukan testosterone oleh Sel Leydig, dan FSH merangsang spermatogenesis dan spermiogenesis. Kedua hormone tersebut disekresikan oleh sel basofilik hipofisis anterior. Pembebeasan keduanya dirangsang oleh GnRH.
Inhibin dibentuk oleh sel Sertoli dan Menghambat sekresi FSH. Pembentukan inhibin meningkat seiring dengan peningkatan laju produksi sel sperma.5)
PENUTUP
Traktus Urogenital pada laki-laki (Genitalia Masculina) dimulai dari Interna sampai ke Interna, dimana Genitalia Interna Masculina dimulai dari ductus Deferens yang dilalui sperma, kemudia juga terdapat vesicular seminalis yang memproduksi makanan untuk sperma seperti halnya dengan Sel Sertoli. Kemudian dilihat dari Externa terdapat penis sebagai alat kelamin laki-laki dan scrotum yang didalamnya terdapat testis. Selain itu, terdapat hormone-hormon yang mempengaruhi perkembangan testis yaitu hormone testosterone yang berperan dalam perkembangan cirri seks kelamin sekunder.
Daftar Pustaka
1. Kasim, Inggriani. 2010. Buku Ajar Traktus Urogenitalis. Ed 2. Jakarta: Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran UKRIDA
2. Luis Carlos Junquiera, Jose Carneiro. HISTOLOGI DASAR : Text & Atlas.EGC;2007
3. Kastowo, Hadi.1984.Anatomi Komparative. Bandung:ALUMNI.
4. Guyton & Hall. Buku Ajar (Buku Saku) Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.2010. 615-9.
5. Haslam RHA. Endokrine System. Dalam : Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi Internasional ke-17. Philadelphia : Saunders Elsevier Science. 2004 ; p.1926-1935
Senin, 04 Oktober 2010
Histologi Urogenitalia
10. Struktur Histologi Sistem Saraf Pusat
Posted by INK Bes
Pendahuluan
Sistem saraf pusat adalah sistem saraf yang mengandung pusat pengelola rangsang saraf, rangsang ini setelah ditafsirkan dapat disimpan atau diteruskan ke sistem saraf tepi untuk menimbulkan tanggapan.
Sistem saraf pusat dibedakan tiga pusat : Cerebrum, Cerebellum dan Medulla spinalis.
A. Cerebrum
Korteks cerebri mempunyai ketebalan satu koma lima sampai empat mm, secara makroskopik dataran luar menunjukkan bangunan yang disebut : Sulkus (lekukan) dan girus ( peninggian).
Korteks disusun oleh 6 lapisan, berturut-turut dari luar ke dalam :
1. Lamina molekularis (pleksiformis) : sel penyusunnya kecil dan relatip sedikit, sedangkan unsur serabut lebih menyolok membentuk anyaman (pleksus)
2. Lamina granularis externa : ukuran sel saraf kecil dan banyak
3. Lamina piramidalis externa : jumlah sel jarang, berbentuk piramid kecil
4. Lamina granularis interna : sel saraf kecil banyak
5. Lamina piramidalis interna : sel saraf berbentuk piramid lebih besar. Di daerah korteks yang disebut area motorika sel saraf khusus berbentuk piramid besar, dikenal sebagai sel Betz.
6. Lamina multiformis : Sel saraf berbentuk aneka ragam. Disela antara neuronum terisi oleh neuroglia.
B. Cerebellum
Korteks cereblli terdiri atas tiga lapisan, dari luar ke dalam dijumpai :
1. Stratum molekulare (plexiformis) :
Ø sel saraf sedikit dan kecil
Ø serabut saraf : neurofibra non-myelinata banyak, beranyaman.
2. Stratum neuronarum piriformium : Sel saraf berbentuk serupa botol atau buah kambu air, berderet, dikenal sebagai sel Purkinje .
3. Stratum granulosum : Sel saraf banyak, kecil dan padat
C. Medulla Spinalis
Kalau pada cerebrum dan cerebellum substantia grisea menempati bagian permukaan dan substantia alba bagian pusat, maka dalam medula sipnalis keadaan sebaliknya :
1.Substantia grisea : berwarna keabu-abuan, sebab penuh berisi neurosit yang berkelompok dan membentuk nukleus. Pada lapisan melintang melalui medulla spinalis, bagian ini menunjukkan gambaran seperti kupu-kupu atau huruf H, sehingga ada 3 gambaran tanduk :
a. Kornu dorsale : pada medulla spinalis utuh disebut kolumna dorsalis
b.Kornu laterale : pada pada medulla spinalis utuh disebut kolumna lateralis
b.Kornu ventrale : pada medulla spinalis utuh disebut kolumna ventralis
c. Substantia grisea mengandung neurositus : banyak neuroglia, terutama astrositus neurofibra non-myelinata.
2. Substantia alba : keputih-putihan, menempati bagian luar medulla spinalis. Bagian ini : Tidak mengandung neurositus, penuh neurofibra myelinata, yang menyebabkan warna keputih-putihan, neuroglia; oligodendrositus terbanyak, membuat stratum myelini untuk neurofibra, astrositus sedikit.
3. Kanalis centralis yang berada di pusat medulla spinalis dan berisi liquor cerebrospinalis mempunyai dinding, dinamakan ependima, tersusun oleh ependimositus, teratur sebagai epitel.
Meningens
Sistema nervosum sentrale diselubungi oleh bungkus : meninges (jika tunggal dinamakan mening. Ada tiga macam bungkus, dari luar ke dalam :
1. Dura mater (dura = keras ; mater = ibu)
· dura mater ensephali : membungkus ensephalon
· dura mater spinalis : membungkus medulla spinalis. Bungkus ini tertebal, disusun oleh jaringan ikat padat dan mengandung : serabut kolagen kuat : di encephalon : kurang teratur dan di medulla spinalis : membujur. Serabut elastis sedikit.
2.Arachnoidea mater : menyerupai rumah laba-laba (Arachnida), dihubungkan dengan bungkus lain oleh trabekula arachnoidealis. Dikenal 2 macam :
· arachnoidea mater encephali : membungkus encephalon
· arachnoidea mater spinalis : membungkus medula spinalis
Bentuk menyerupai rumah laba-laba menyebabkan bungkus ini memiliki :
· citerna sub-arachnoidea : berisi liquor cerebrospinalis
· trabecula arachnoidealis : membatasi cisterna, mengandung banyak serabut kolagen, sedikit serabut elastik.
3. Pia mater (pia=lunak), menempel pada sistema nervosum sentrale :
· pia mater encephalis : membungkus encephalon
· pia mater spinalis : membungkus medulla spinalis
Sifat :
· dilapisi oleh epithelium simpleks squamosum serupa mesthelium
· mengandung banyak serabut kolagen, sedikit serabut elastik
· dilengkapi dibroblastus, makrophagositus, pembuluh darah
at 9:14 PM
0 comments
Friday, April 3, 2009
9. Struktur Histologi Kulit
Posted by INK Bes
Pendahuluan
Kulit (Integumentum Communae) menutupi seluruh permukaan badan, terdiri atas lapisan : epidermis dan suatu lapisan jaringan penyambung berupa dermis (korium) serta hipodermis (sub kutis) yang terdiri atas jaringan ikat longgar menghubungkan dermis dengan jaringan dibawahnya.
Fungsi kulit :
1. Membungkus serta melindungi tubuh hewan terhadap pengaruh luar yang merugikan.
2. Ikut mengatur suhu tubuh serta kadar air.
3. Membuang garam dan hasil metabolisme yang berlebihan.
4. Melindungi tubuh terhadap pengaruh fisik, kimia dan jasad renik kedalam tubuh.
Beberapa kelenjar kulit yang berperan dalam berbagai fungsi sekresi kulit, antara lain : Kelenjar Palit, Kelenjar Peluh, Kelenjar ambing dan kelenjar kulit khusus. Beberapa struktur yang merupakan turunan dari kulit adalah : rambut, bulu, kuku, tanduk, jengger, pial dan gelambir.
7.1 Kulit
a.Epidermis
Terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang bertanduk, memiliki lima lapis utama yakni :
1.Stratum basale / stratum germinativum : merupakan lapis paling bawah terdiri atas epithel kubis atau silindris sebaris rendah. Lapisan ini bersifat mitosis aktif untuk menggantikan lapis diatasnya yang mati / aus. Pigmen juga bisa ditemukan pada lapis ini selain pada lapis spinosum.
2.Stratum spinosum : sel penyusunnya berbentuk poligonal terdiri atas beberapa lapis, semakin keatas semakin memimpih. Pertautan antar sel yang cukup kuat ditunjang oleh desmosoma, sel memiliki tenofibril yang berakhir pada desmosoma. Lapis ini juga bisa bermitosis.
3.Stratum granulosum : Satu sampai tiga lapis, sel berbentuk elip dan mulai menunjukkan tanda bertanduk (cornification). Sel tersebut mengandung kerantobilia dan fungsinya masih belum jelas diketahui.
4.Stratum lusidum : Beberapa lapis sel yang telah mati, karenanya beraspek homogen. Inti dan organoida tidak jelas tapi desmosoma masih jelas terlihat, sedangkan butir kerato-hyalin nya sudah lenyap berubah menjadi eledin.
5.Stratum korneum : Merupakan lapis sel yang paling luar, selnya bertanduk dan mengandung keratin yang diduga hasil perubahan eledin. Lapis ini pada beberapa tempat tebal dan bila kering akan mengelupas membentuk stratum disjunktum. Khususnya untuk stratum lusidum hanya ditemukan pada daerah yang tidak berambut, misalnya : planumnasale atau bantalan kaki.
Keratin adalah suatu skleroprotein yang sangat resisten terhadap pengaruh kimia dan biasanya keratin yang terdapat pada epidermis adalah keratin lunak dan keratin keras terdapat pada kuku, rambut yang bersifat kurang elastis karena kandungan sulfer tinggi.
b. Dermis / Korium
Sering disebut Kutis vera, merupakan bagian utama kulit, disusun oleh serabut kolagen padat sedangkan serabut elastis dan jaringan ikat lain sedikit.
Korium dibedakan atas dua bagian, yakni :
Ø Stratum papilleare : membentuk jalinan dengan epidermis pada kulit tidak berambut. Tampak papil, dan sering terdapat ujung saraf pembuluh darah serta saluran kelenjar peluh.
Ø Stratum retikulare : Antara stratum papillare dengan stratum retikulare sebenarnya mempunyai batasan yang tidak jelas. Hanya serabut kolagen pada stratum ini lebih padat dan anyamannya mengarah horisontal terhadap permukaan kulit. Didalam ilmu bedah mengetahui arah anyaman serabut kolagen ini sangat penting karena dalam operasi yakni memberikan proses kesembuhan yang lebih cepat.
c. Hipodermis
Hipodermis atau sub kutis terdiri atas jaringan ikat longgar yang banyak mengandung serabut elastis. Dalam keadaan patologis akan membentuk beberapa rongga yang berisi cairan (edema) atau udara (emphysema). Daerah ini juga merupakan tempat perlindungan lemak terutama pada babi. Pada hewan yang gemuk sel lemak dapat menyusup lebih dalam dan terdapat diantara otot. Daerah tubuh yang sedikit terdapat sub kutis adalah : metakarpus kuda, oleh sebab itulah kulit sulit digerakkan karena melekat kuat.
Integementum Mammalia
Epidermis berkembang dari ektoderm dan hipodermis merupakan turunan dari mesoderm. Pada mulanya epidermis tersusun atas beberapa lapis sel berbentuk kubus. Proliferasi dari sel ini menghasilkan lapisan sel epidermis dan proloferasi sel basal menambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal bertambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal kedalam lapisan dibawah epidermis seperti dermis dan hypodermis menandakan adanya rambut, bulu dan kelenjar, yang mana sel dari jaringan tersebut diatas berhubungan dengan sel epidermis. Dermis dan hipodermis berkembang dari mesenkhim khusus. Poliferasi dan difrensiasi yang cepat dari sel mesenkhim menghasilkan jaringan yang ditandai dengan jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat.
Pigmentasi Kulit
Melanosit adalah sel pembentuk pigmen yang juga dikenal dengan nama : Dermal chromatophore. Terdapat diantara stratum basale dan stratum spinosum tapi dapat juga terdapat pada stratum papillare dari korium.
Sel ini mempunyai bentuk khusus yakni memiliki penjuluran yang menyusup sampai stratum spinosum untuk melepas pigmen melanin pigmen tersebut selanjutnya diambil oleh sel pada lapis tersebut. Melanosit yang tidak berfungsi (istirahat) dikenal dengan “sel cerah” (clear cells). Sedangkan melanosit yang berfungsi dapat dikenali dengan reaksi DOPA (dihydroxyphenylalanine) yaitu melakukan sintesa komplek mengubah DOPA menjadi melanin. Reaksi DOPA inilah yang membedakan sel yang dapat membuat pigmen dan sel yang hanya menampung pigmen dalam epidermis.
Melanin berfungsi melindungi tubuh terhadap pengaruh sinar ultraviolet yang memiliki daya tembus kuat. Sebagian sinar ditahan oleh pigmen melanin. Pada beberapa organisme melanin mungkin tidak ada ( albinisme) mis : kerbau, sapi, harimau dan kera. Dari segi perkembangan ternak piara, albinisme agaknya dianggap suatu cacad keindahan. Kenyataan pada derajat albino yang kuat terdapat gejala takut sinar (photophobia) dan kondisi tubuhnya lebih lemah dari normal. Peristiwa hilang atau tidak cukupnya produksi melanosit yakni sel penghasil melanin juga disebut White Spots.
Kulit daerah Khusus
Beberapa bagian dari kulit ada yang berambut dan ada yang tidak atau gundul. Beberapa bagian tubuh ditandai dengan epidermis yang tebal, sedangkan bagian yang lain tipis. Sama halnya dengan dermis, ketebalannya beragam dalam penyebarannya keseluruh tubuh. Dermis adalah bagian yang paling tebal dari kulit. Kulit daerah tertentu beragam bentuknya, hal ini erat hubungannya dengan cara kerjanya, cara hidup, penyebaran dan tipe kelenjar serta ketebalan kulit merupakan adaptasi fungsional yang paling idela terhadap lingkungan sekitarnya.
1. Bantalan Kaki (Digital pad / food pad)
Bantalan kaki hewan karnivora mengalami penandukan yang hebat menebal, berpigmen kuat dan bagian kulit yang tidak berbulu berguna untuk perpindahan (lokomosi). Bantalan kaki ini tahan terhadap abrasi dan efektif sebagai penyerap goncangan.
2. Skrotum
Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah.
3. Hidung
Planum nasale karnivora terbentuk dari penebalan dan pertandukan yang hebat dari epidermis disertai dengan tidak adanya kelenjar palit dan kelenjar tubuler. Planum nasale sapi dan ruminansia kecil tidak berbulu dan mengandung kelenjar merokrin tubuler yang melembabkan permukaannya. Epidermis tebal dan menanduk dengan hebat. Penandukan yang hebat dari planumrostale babi mengandung banyak kelenjar merokrin ubuler dan ditutupi oleh rambut yang jarang. Rambut yang halus dan kelenjar palit menandai kulit yang tipis di sekitar lubang hidung kuda.
4. Meatus Akustikus Eksternus
Merupakan saluran yang menghubungkan antara lubang telinga dengan genderang telinga. Saluran ini dilapisi kulit dengan folikel rambut yang kecil, kelenjar palit dan kelenjar tubuler apokrin yang telah bermodifikasi (kelenjar seruminous) dijumpai disini. Dermis dari saluran ini bercampur dengan perikhondrium dan periosteuon tulang rawan dan penunjang telinga.
Kulit Ayam
Secara garis besar kulit ayam sama dengan mamalia, terdiri atas epidermis dan korium. Lapisan epidermis agak tipis hanyai beberapa lapis sel. Strtaum korneum jelas, papil tidak tampak . Korium terdiri atas dua bagian, bagian superfisial jalinan serabut kolagen lembut dan bagian profundal lebih kasar.
Sub kutis tebal dan banyak mengandung lemak, oleh sebab itu gampang digeser, sedangkan subkutis pada kaki tipis, karena kurang bertaut erat pada tulang kecuali bantalan kaki yang agak tebal dan padat dengan sel lemak dengan septa dan mengandung pembuluh darah.
2. Kelenjar Kulit
2.1 Glandula Surodifera
Dibedakan atas dua type yakni : bentuk merokrin dan bentuk apokrin
a. Bentuk Merokrin
Bentuk kelenjar ini lebih banyak terdapat pada kulit yang sedikit atau tidak terdapat rambut misal : telapak kaki. Lumen ujung kelenjar agak sempit dan epithelnya berbentuk kubis, sel epithel mengandung lemak, glikogen dan kadang pigmen. Pada ujung kelenjarnya terdapat mioepithel yang lebih jarang dari bentuk apokrin. Tempat bermuaranya pada permukaan kulit dan sekretanya lebih bersifat cair dari pada bentuk apokrin.
b. Bentuk Apokrin
Banyak tersebar pada permukaan tubuh hewan piara karena selalu berkaitan dnegan rambut. Disebut apokrin karena sebagian dari ujung kelenjarnya tampak lebih luas dari merokrin dan kutub bebasnya terlepas sebagai sekreta. Bentuk epithel silindris dan tergantung aktivitasnya keadaan mioepithel relatif lebih rapat.
Tipe apokrin berkembang baik pada mamalia. Glandula sudorifera tersebar hampir seluruh permukaan tubuh kecuali pada : gland penis, kulit dalam preputium dan membrana timpani. Kelenjar ini dilengkapi dengan sel mioepithel (Basket cells) yang terdapat diantara kutub basal epithel dan membran basal.
Kelenjar peluh menghasilkan peluh, berbentuk cairan dengan bau khas. Sekresi kelenjar merokrin ternyata lebih encer. Bau khas kelenjar apokrin pada hewan ada kaitannya dengan kehidupan seks dan daya tarik seks. Dalam kelenjar peluh terdapat ureum pada kuda menyebabkan terjadinya busa, garam NaCl, Kholesterin, asam urin dan lain-lain.
Kelenjar peluh pada berbagai hewan piara berbeda dalam beberapa aspek, kuda lebih cepat mengeluarkan peluh karena kelenjar merokrin relatif banyak, ruminansia besar agak kurang. Sedangkan kelenjar peluh pada anjing dan kucing bersifat rudimenter, karenanya apabila panas lidah menjulur keluar untuk mengatur suhu tubuhnya. Pada daerah tertentu suhu tubuh tampak subur, misalnya : didaerah ventral ekor pada domba, daerah puting susu pada babi dan daerah pinggir berambut. Pada manusia kelenjar merokrin tersebar seluruh tubuh sednagkan kelenjar apokrin terdapat didaerah aksilia. Kelenjar peluh sebenarnya adalah alat pembuang metabolit disamping sebagai termoregulator.
2.2 Glandula Sebasea
Disebut juga kelenjar palit, membentuk semacam lobulus yang memiliki membran basal. Alat penyalurnya terdiri atas sel epithel pipih atau kubis rendah selapis dan bermuara didaerah folikel. Cara rekresi kelenjar ini adalah holokrin, sel tua hancur dan menjadi sebum (minyak) yang berguna untuk meminyaki rambut atau bulu, sebum mengandung protein dan kholestrin. Bentuk kelenjar palit ini tergantung dari lebat atau jarangnya rambut, besar atau kecilnya rambut, jenis hewan dan daerah pada tubuh.
2.3 Glandula Mammaria
Kelenjar ini merupakan kumpulan kelenjar tubulo-alveolar, yakni modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar ambing ini terdiri atas : puting dan ambing.
Ambing disusun oleh : kapsula, jaringan ikat interstitial, epithel pansekresi dan sistem saluran pengeluaran. Penyebaran jaringan ikat dan parenkhim berfungsi dalam aktivitas sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai lebih banyak parenkhim dan sedikit jaringan ikat dan keadaan akan berbalik apabila kelenjar tidak berlaktasi. Dengan demikian struktur kelenjar ambing pada hewan dewasa yang inaktif (tidak menyusui) berbeda dengan yang aktif dan yang sama sekali belum beranak (dara).
Ciri khas kelenjar ambing masih aktif, ditandai dengan adanya benda kasein yang terdapat pada sisa alveoli, alat penyalur atau pada jaringan ikat bekas alveoli. Pengurangan ujung kelenjar secara progresif diimbali dengan terbentuknya jaringan ikat dan jaringan lemak. Pada permulaan laktasi dimulai dengan perkembangan ujung alat penyalur yang nantinya menumbuhkan ujung kelenjar (alveoli) yang diatur oleh pengaruh hormon progesteron selama proses kebuntingan.
Strukutur histologi kelenjar ambing sebagai berikut :
Ø Stroma : mencakup kapsula, septa dan jaringan interstitial atau interaveolar yang semuanya terdiri atas jaringan ikat sebagai kernagka / penunjang.
Ø Parenkhim : Mencakup ujung kelenjar yang berbentuk tubulu alveolar bercabang majemuk dan alat penyalur. Pada hewan muda yang belum beranak ujung kelenjarnya tidak / belum tampak yang nampak hanya alat penyalur dengan banyak jaringan ikat interstitial, bahkan tampak sel lemak. Pada lumen terdapat susu.
Alveoli
Epithelnya berbentuk kubis rendah atau silindris rendah pada yang aktif, jadi tergantung pada status fisiologinya. Pada permukaan epithel tampak mikrovili dan pada sitoplasma tampak benda golgi, butir lemak memiliki selaput ganda, protein. Pada susu sapi terdapat sekitar 3-4 %. Alveoli dikitari sel mio-epithelium.
Alat Penyalur
Satu atau dua alveoli sekreta dialirkan melalui duktus intralobularis, dengan epithel kubis yang kitari sel mio-epithelium. Epithel alat penyalur masih dapat bersekresi meskipun intensitastnya agak kurang. Pada saluran yang agak besar bentuk epithelnya kubis dua lapis dengan ada tanda bersekresi.
Sinus Laktiferus
Sinus ini merupakan penampung sekreta susu dari loburus atau lobus. Epitel silindris banyak baris dan dikitari oleh serbaut elastis dan otot polos. Sinus ini biasanya menjulur sampai daerah puting susu (Papilla mamae).
Puting Susu
Terdiri atas empat bagian yakni :
Ø Saluran puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis dan bertandu, selaput lendir membentuk lipatan dengan jaringan ikat sebagai tunika propriaa sub-mukosa. Kuda memiliki dua samapai empat buah, ruminansia satu, babi dua sampai tiga buah, kucing empat-tujuh, anjing delapan-20 buah dan manusia 13-24 buah.
Ø Sinus puting Susu : Epithel silindris atau kubis dua lapis, selaput lendir membentuk lipatan melingkar dan longitudinal, dengan jaringan limferetikular pada tunika propria.
Ø Stingter puting susu : otot polos yang tersusun melingkar antara propria sub-mukosa dan hipodermis, sering pula tampak otot yang tersusun memanjang.
Ø Kulit puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis bertanduk, korium terdiri atas serabut kolagen pekat seperti kulit. Hipodermis relatif tipis.
2.4 Kelenjar Kulit Khusus
Kelenjar kulit khusus perlu kita kenali karena mempunyai peranan klinis yang cukup penting. Kelenjar tersebut antara lain :
a.Glandula Anales.
Pada babi sekreta bersilat mukus sedangkan pada anjing berbentuk lemak bermuara diluar zona kolumnaris ani didaerah zona intermedia. Pada daerah peralihan anus dan rektum babi dan karnivora membentuk zona kollmnaris ani dengan jaringan limfoid dan fleksus venosus.
b.Sinus Paranales (anal sac)
Terdapat pada ujung dinding lateral dubur, berbentuk kantong berisi sekreta mirip lemak berwarna kelabu dan busuk. Kantong ini mempunyai epithel pipih banyak lapis dan pada tunika propria terdapat kelenjar, folikel getah bening, otot polos dan jaringan pengisi yang bersifat fibroelastis.
c.Glandula circumanales
Kelenjar ini jelas terdapat pada anjing. Terdapat dua macam yakni superfisial berbentuk kelenjar palit dengan alat penyalur pada folikel rambut dan profundal bersifat non subaseus membentuk lobulus dengan sel poligonal, berinti pucat. Butir sekretanya mengandung protein yang nantinya membentuk sekreta bersifat mukus.
d.Glandula tarsalia (Kelenjar Meibom)
Terdapat pada kelopak mata yang lebih subur pada kelopak mata atas. Disekitar alat penyalur terdapat lobulus yang mengelompok menghasilkan sekreta berbentuk lemak didaerah pinggir palpebra yang berfungsi mengurangi pengeluaran air mata.
e.Glandula preputiales
Berbentuk kelenjar kulit pada bagian dalam prepusium. Kuda persebaran kelenjar ini berbentuk cincin. Pada babi terdapat sakus prepusialis yang memiliki papil dengan banyak folikel getah bening. Pada manusia kelenjar ini dikenal sebagai kelenjar Tyson yang menghasilkan smegma berbentuk keju.
f.Glandula uropigealis
Satu-satunya kelenjar kulit yang terdapat pada ayam (unggas), letaknya dibagian dorsal pada ruas ekor terakhir. Terdapat sepasang, pada unggas air pertumbuhan kelenjar ini lebih subur. Sekretanya berfungsi melicinkan bulu.
TURUNAN KULIT
3.1 Rambut
Merupakan serabut epidermis yang telah bermodifikasi. Rambut juga melakukan fungsi sebagai alat penutup, pelindung dan penerima rangsangan. Rambut berkembang sebagai penebalan setempat epidermis, selanjutnya mengadakan invaginasi kedalam lapisan jaringan ikat dan kemungkinan meluas sampai ke hypodermis.
Istilah rambut dan bulu untuk hewan memang sering dipakai tetapi istilah bulu dikhususkan untuk bangsa unggas. Hampir seluruh permukaan tubuh hewan dibungkus rambut, kecuali pada beberapa tempat tertentu, seperti : daerah moncong termasuk hidung, telapak kaki, daerah mukokuteneus.
Secara morfologis rambut terbagi atas :
Ø Batang rambut : Bagian rambut yang tampak dari luar, bertanduk dan berpigmen terdiri atas : kutikula rambut, berbentuk epithel pipih bertanduk dengan sisa inti yang tampak. Medulla : jumlah sel nya sedikit mengandung pigmen tapi banyak mengandung butir tikhohialin.
Ø Akar rambut dan Follikel rambut Follikel rambut merupakan invaginasi epidermis dan korium, dibagian tengah menjulur papil rambut dan dibedakan atas : Selubung akar dalam (kutikula, lapis huxley, lapis henle), Selubung akar luar, Lapis basal (Glassy membrane)
Ø Pada follikel rambut bertaut otot polos yang disebut “musculus arrectores pilorum” yang berfungsi menegakkan rambut atau bulu pada saat marah atau ketakutan (ayam dan angsa).
Rambut Sinus
Rambut sinus mirip dengan rambut biasa, hanya lebih besar dan folikel rambutnya terdapat anyaman pembuluh darah. Pada ungulata membentuk trabekula pada karnivora bentuk trabekula tidak tampak pada daerah superfisial sedangkan bagian propundal pembuluh darah sinus relatif kecil demikian juga pada babi.
Siklus Rambut
Dibedakan atas tiga tahapan yakni : anagen, katagen dan telogen. Anagen adalah periode dimana rambut telah tumbuh sempurna, yakni didahului dengan aktifitas mitosis sel kecambah dan sel kerucut rambut. Periode katagen ditandai dengan perubahan secara perlahan dalam kerucut rambut. Sel kecambah berkembang dibawah rambut, batang bentukkan ini menandai periode telogen yang mungkin bertahan selama beberapa minggu. Jadi mitosis yang berkelanjutan akan memanjangkan rambut.
3.2 Bulu
Bulu berasal dari epidermis dan mirip dengan rambut pada manusia, berkembang dalam folikel. Bulu dalam hal ini adalah bulu ayam. Bulu ayam hampir menutupi seluruh tubuh kecuali paruh, balung, pial dan kaki.
Pada ayam dikenal tiga yakni :
a. Bulu bentuk (contour feather) : Bulu elar (untuk terbang) Bulu ekor (mengatur keseimbangan waktu terbang / remics)
Remices primer : tumbuh dari daerah karpal dua, tiga dan digit.
Remices sekunder : tumbuh dari daerah sayap dan selebihnya.
b. Bulu bawah (plumae) : lebih kecil dan halus
c. Bulu halus (fitoplumae) : lebih halus dari plumae
Follikel bulu ayam menembus kulit secara miring, tertanam dalam sampai subkutis disebabkan karena bentuk bulu yang cukup besar.
Secara umum bagian bulu sebagai berikut :
a. Tangkai
Calamus : bersifat tembus cahaya dan berongga berisi udara
Rachys : merupakan axis dari vekillum
b. Sayap (Vexillum / vane) : berbentuk lamel yang langsing, tumbuh secara berpasangan dis : Barbs. Dari barbs tumbuh lamel berpasangan yang lebih halus dis : Barbules. Barbules yang keluar dari tiao barbs membentuk jalinan sehingga sayap cukup rapat dan elastis yang menguntungkan waktu terbang.
3.3 Kuku
Terutama untuk karnivora disebut : kuku, teracak untuk ruminansia dan sepatu kuku untuk kuda. Daerah kuku dikenal adanya epidermis (kuku sebenarnya), korium (pododerm) dan sub kutis.
Sayatan melintang dinding sepatu kuku dapat dibedakan atas :
a. Stratum tektorium : Merupakan ratis kuku yang paling luar dan tipis, bentuk sel sudah lenyap lebih-lebih pada kuku tua. Terdiri atas buluh tanduk yang masih lunak dan tidak berpigmen.
b. Stratum medium : Bagian kuku yang paling tebal, keras kuat karena padat. Didalamnya terdapat buluh tanduk yang mengandung bahan tanduk. Tiap buluh tanduk mengandung bagian korteks dan medulla. Stratum germinativum pada ujung dua papil didaerah kroon membentuk buluh tanduk, sedang selebihnya membentuk bahan tanduk intertubuler yang tumbuh kearah distal. Daerah ini berpigmen.
c. Stratum lamellatum : Pada kuku yang masih hidup dikenal adanya : lamel epidermal yang merupakan kuku sebenarnya dan lamel korium yang merupakan pododerm.
Pododerm
Struktur pododerm berbeda dengan korium kulit, karena pada pododerm terdapat pembuluh darah besar. Pododerm banyak mengandung serabut kolagen dan elastis juga terdapat stratum papilare dan stratum reticulare. Didaerah koroner korium paling tebal, sebaliknya dipinggiran tipis.
Pododerm daerah dinding kuku membentuk lamine coriales, primer dan sekunder. Di bagian depan lamine relatif lebih subur dibandingkan dengan daerah belakang.
Teracak
Pada teracak bulb dan frog tidak ada sedangkan sol sangat kecil. Laminae epidermal sekunder tidak ada, sednagkan yang primer panjang, langsing dan kadang bercabang. Sedangkan kuku untuk karnivora mempunyai dinding kuku bilateral pipih, dan daerah pertemuan dermis dan epidermis pada garis tengah agak lunak.
3.4 Tanduk
Merupakan penjuluran o. frontale yang disebut posessus kornualis, berongga dan berhubungan dengan sinus frontalis. Epidermis membentuk stratum kornium yang tebal yang selanjutnya membentuk horn sheats dan didaerah akar tanduk berbentuk epikeras. Epikeras terdiri atas bahan tanduk lunak homolog dengan periopel kuku, pada tanduk terdapat buluh halus yang dibagian tengah memiliki unsur medulla.
Pada tanduk sering tampak cincin tanduk yang sering dihubungkan dengan perubahan periodik pertumbuhan terutama : kerbau dan domba. Sedangkan sisik, paruh dan taji pada ayam secara garis besarnya memiliki struktur mirip kuku.
Perbaikan Kerusakan Kulit
Kulit merupakan subyek dari berbagai tipe luka atau kerusakan keutuhan anatomi abrasi, kontusio, laserasi punstio dan insisi. Perbaikan kulit merupakan hal yang komplek dan dinamis dan aktivitas selular diawali dari luka dan persambungan pada seluruh jaringan yang terluka. Walaupun perbaikan luka menggambarkan persambungan dari aktivitas sel secara keseluruhan, untuk membahas proses perbaikan ini dibagi atas beberapa tahap, yakni : perlukaan, induksi, inflamatori dan tahap maturasi.
Yang terlihat dalam perbaikan kulit adalah epidermis, dermis dan hypodermis. Kebanyakan proses abrasi ringan pada epidermis tanpa kerusakan dermis umumnya mampu diperbaiki melalui aktivitas mitosis stratum basale epidermis.
at 9:03 PM
0 comments
Friday, March 20, 2009
8. Histologi Sistem Genetalia
Posted by INK Bes
Sistem genitalia atau alat kelamin merupakan alat reproduksi yang memegang peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Dibedakan atas : sistema genitalia maskulin dan sistema genitalia feminin.
A. Sistem Genitalia Maskulina
Terdiri atas testis, alat penyalur, kelenjar asesorius, genitalia eksterna, Testis setelah mencapai umur dewasa dan dibawah pengaruh hormon gonadotropin hipophisa menghasilkan spermatozoa. Setelah kastrasi hewan menjadi impotent dan terjadi perubahan yang disebabkan hilangnya hormon testosteron dari testis.
1. TESTIS
Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang cukup tebal disebut : Tunika albuginea dan sebuah lapisan peritoneum Tunika vaginalis viseralis. Tunika vaginalis dibentuk oleh jaringan ikat kolagen yang miskin akan vasa darah dan elemen elastis, permukaan bebasnya tertutup mesothelium, sedangkan permukaan yang lain melekat pada tunika albuginea. Tunika albuginera sebaliknya kaya akan vaskularisasi, pada bagian tertentu yang disebut stratum vaskulare sangat kaya vaskularisasi.
Pada tempat melekatnya epididimis pada testis, tunika albuginea berhubungan dengan mediastinum testis, yaitu suatu tali jaringan ikat yang memanjang sepanjang axis memanjang dari testis. Pada karnivora dan babi melepas helaian jaringan ikat dan pada ruminansia tali jaringan ikat secara radier ke tunika albuginea, jaringan ikat tersebut disebut Septula testis, yang membagi testis menjadi lobuli testis yang berbentuk piramidal atau konus. Mediastinum testis mengandung labirinth, ruang yang lebarnya tak menentu berhubungan satu dengan yang lain disebut rete testis.
Pada jaringan interstitial disekitar tubulus seminiferus tidak ditemukan otot dan sperma di testis bersifat non motil. Gerakan mereka pada tubulus disebabkan oleh tekanan sekretorik dan tekanan internal dari testis, gerakan ini juga dibantu oleh cairan yang mungkin dihasilkan oleh sel sertoli.
Pada kuda tunika albuginea kaya akan serabut otot polos yang berasal dari m kremaster internus dan melanjutkan diri ke septula testis. Suatu mediastinum dari rete testis yang padat tidak ada tetapi seluruh testis dilintasi oleh septa tebal yang berhubungan satu dengan yang lain. Pada tali jaringan ikat yang tebal disamping vasa darah ditemukan pula duktus pengganti rete testis. Pada folus kranialis testis mereka berdekatan satu dengan yang lain dan melanjutkan diri ke duktuli efferentes.
Parenkim testis terdiri atas tubulus seminiferus, yang dibungkus jaringan ikat halus. Jaringan ikat interstitial kadang menunjukkan struktur/lamelar yang banyak mengandung vasa dan nervi. Sel interstitial yang diduga menghasilkan hormon testosteron ditemukan tunggal atau bergerombol. Sel ini ditemukan dalam jumlah yang besar pada babi dan kuda (sel interstitial).
Tubulus Seminiferus
Dinding tubulus seminiferus dibatasi oleh sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu : Sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong atau sel sustentakulum disebut juga sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik ada beberapa tipe yang berbeda morfologinya antara lain : spermatogenia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa. Tiap sel sentroli melekat pada lamina basalis, sedangkan sel sprematogenik tersusun secara tradisional. Sel yang muda terletak dekat membrana basalis, semakin mendekati lumen, umur sel makin tua.
Sel Sertoli
Bentuk tinggi langsing seperti segitiga dengan basisnya melekat pada membrana basalis, ujungnya mencolok keluar, inti sel terletak pada basal. Struktur histologi menunjukkan adanya gambaran mitokhondria yang memanjang sejajar dengan axis panjang sel, fibril tetes lemak dan kadang ditemukan granula lipofasia. Dengan EM dapat ditemukan bangunan berupa kristal terbentuk kumparan yang disebut: Kristaloid Charcot Bottcher (sel sertoli manusia). Susunan kimia dan kegunaan fisiologi nya belum diketahui. Filament yang halus dan mikrotubulus yang tersusun sejajar dengan axis panjang sel sering dapat ditemukan, RER jarang tetapi SER ditemukan lebih banyak.
Sel sertoli melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan mungkin berperan penting dalam memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang kelihatan mengalami mitosis, tetapi mereka lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik.
Spermatogonia
Panjangnya bervariasi antara 50-75 m, terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Pembagian nya didasarkan atas perbedaan diameter. Dengan mikroskop cahaya perbedaan struktur internanya tidak jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan struktur interna nya jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Midle piece berbentuk silindris panjangnya lima sampai tujuh m, tebalnya mencapai 1 m. Bagian ini timbul dari polus pasterior dari caput yaitu pada bagian yang mempunyai struktur mirip dengan cincin Annulus. Principal piece panjangnya kira-kira 45 m dengan tebal 0,5 m, makin keujung makin mengecil membentuk end piece.
Spermatogonia terdapat diatas satu sampai dua lapis membran basal. Sel induk ini bersifat mitosis aktif, jadi sering terlihat bentuk pembelahan sel. Menurut penelitian dibedakan adanya spermatogonia tipe A dan B. Tipe A terdapat langsung pada membran basal dan tipe B diatas tipe A. Tipe A membelah secara mitosis menjadi tipe A dan tipe B, tipe B inilah yang menumbuhkan spermatosit primer.
Sel pada lapis berikutnya lebih besar diameternya, intinya lebih besar serta lebih banyak mengandung khromatin disebut : sprematosit primer. Selanjutnya sel ini mengalami meiosis dan pada pembelahan pertama menghasilkan sel yang lebih kecil disebut : spermatosit sekunder.
Umur sel tersebut pendek karena segera mengalami pembelahan kedua (mitosis) menjadi spermatid, dari satu sel spermatozoa menjadi empat spermatid yang secara morfologis identik, tetapi gen yang dikandung dapat berbeda. ukuran sel kecil inti miskin kromatin dan sentriole masih tampak. Dalam tahap spermatositogenesis, spermatid selanjutnya mengalami tahap transformasi, berubah dari bentuk sel menjadi spermatozoa yang memiliki kepala, leher, badan dan ekor. Spermatozoa yang berkembang ini tampak membenamkan kepalanya kedalam kutub bebas sel sertoli.
Tahap transformasi (spermiogenesisi) dikenal adanya 4 tahap yakni : Tahap golgi (golgi phase), tahap tudung (cop phase), tahap akrosom (acrosomal phase) dan tahap pemerahan (maturation phase).
Sel Interstitial
Parenkim testis yang terdiri atas tubuli seminiferi dibalut oleh jaringan ikat halus yang dikenal sebagai jaringan ikat interstitial. Didalamnya ditemukan pembuluh darah saraf, sel interstitial (sel leidig). Sel ini umumnya mengelompok dan mengitari pembuluh darah, terlihat jelas pada kuda dan babi. Bentuknya tidak teratur, berdiameter 10-15 m, inti besar, kromatin bulat dan nukleus jelas.
Dalam sitoplasma sering terdapat apparatus golgi, smooth E.R mitokhondria, butir-butir lipoid, kristal protein (kuda dan kucing) dan pigment. Pada manusia kristal tersebut cukup besar dan semakin tua semakin banyak jumlahnya.
Fungsi sel leidig menghasilkan hormon testosteron yang berfungsi :
Ø mengatur aktivitas kelenjar assesorius, terutama kelenjar prostat.
Ø Memelihara tanda khas jantan (secondary sex characteristics)
Ø Bersama dengan hormon FSH dan Hiphofisa mengatur aktivitas spermatogenesis.
Hormon LH atau ICSH mengatur aktivitas sel leidig pengaruh ini semakin jelas bila sekaligus ditambah dengan FSH. Di dalam tubuh hewan memang terjadi inter-relasi antara kelenjar endokrin tertentu dalam mengatur aktivitas alat reproduksi, misalnya kelenjar hipophisa, adrenal dan testis sendiri.
Pada kasus kastrasi (pengebirian) yang berarti menghentikan aktivitas testis, menyebabkan kelenjar asesorius mundur aktivitasnya, sifat khas jantan berangsur hilang dan kegiatan spermatogenesis berhenti. Hormon gonadotropin akan mengepul pada pars distalis hipofisa akibatnya sel basofil mengalami perubahan identitasnya selanjutnya dikenal dengan castration cells. Kastrasi yang dilakukan sebelum dewasa kelamin, tanda khas jantan tidak akan timbul. Bila kastrasi dilakukan setelah dewasa kelamin, maka perubahan kehilangan tanda khas jantan akan berlangsung secara lambat. Mungkin ini disebabkan karena korteks adrenalis dapat sedikit menghasilkan hormon testosteron. Tumor pada kelenjar prostat pada hewan tua, lazimnya diberikan terapi dengan melalui kastrasi.
Air mani sering disebut sperma atau semen, terdiri dari campuran spermatozoa dan sekresi kelenjar asesorius dan epididimis. Sekreta kelenjar selain sebagai pengangkut (vesicle), juga bekerja sebagai pembawa makanan serta mengaktifkan gerakan spermatozoa. Kandungan hialuronidase dalam air mani yang cukup tinggi diduga terdapat pada kepala dari spermatozoa, enzim mana yang diperlukan pada proses pembuahan, khususnya untuk merusak selaput sekunder dari ovum.
2. ALAT PENYALUR.
Alat penyalur spermatozoa dimulai dari : Tubuli rekti, Rete testis (terdapat dalam testis), Duktuli Efferentes Testis,Duktus epididimis (terdapat dalam epididimis), Duktus deferens, Urethra (pars pelvina dan pars penis).
a. Tubuli (seminiferi) rekti
Berupa saluran pendek yang terdapat pada lobuli testis, epithelnya kubis sebaris dan berdiri pada membran basal. Pada daerah peralihan antara tubuli rekti terdapat daerah dengan banyak modifikasi dari sel sertoli. Di daerah ini tidak lagi terdapat proses spermatogenesis.
b. Rete Testis
Berupa saluran atau rongga saling berhubungan dalam mediastinum testis. Saluran tersebut dibalut oleh epithel pipih selapis atau kubis rendah, sedangkan mediastinum testis merupakan kondensasi dari stroma testis yang mengandung pembuluh darah dan saraf. Otot polos belum terdapat pada mediastinum testis.
c. Duktuli Efferentes Testis
Pada kutub kranial mediastinum testis terdapat sekitar 6-12 saluran disebut : Duktuli efferentes testis. Saluran tersebut awalnya lurus tetapi setelah memasuki epididimis menjadi berkelok membentuk spiral. Daerah pemasukan dikenal dengan vascular cone yang menghadap testis dan merupakan caput epididimis (kuda) atau sebagian dari padanya pada hewan lain.
Duktuli efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni : sel basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Epithel berdiri pada membran basal, bagian yang telah ada dalam caput epididimis, mulai terdapat otot polos diluar membran basal. Sekreta dari sel tersebut diatas diduga berperanan dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis.
d. Duktus Epididimis
Duktuli efferentes dalam epididimis secara perlahan memiliki epithel silindris banyak lapis bersilia (stereocilia), lumen semakin besar dan dinding semakin tebal dengan bertambahnya lapisan otot polos. Dalam epididimis saluran tersebut selanjutnya disebut : Duktus epididimis. Sel basal dari epithel banyak lapis mengandung butiran lemak (babi dan ruminansia), sedangkan sel atas silindris tinggi dengan stereosilia. Semakin menuju kauda epididimis, ukuran epithel semakin rendah, lumen semakin berkelok-kelok dan otot polos semakin tebal.
e. Epididimis
Sering disebut anak buah pelir, letaknya sangat berdekatan dengan testis. Secara anatomis terdiri atas caput, korpus dan kauda epididimis. Epididimis terdiri atas jaringan ikat mirip tunika albuginea sebagai stroma dengan mengandung otot polos (jelas pada kuda) didalamnya terdapat saluran yang merupakan parenkhim, yakni duktulis efferentes dan duktus epididimis.
Fungsi epididimis : Menyimpan sementara spermatozoa, khususnya didaerah kauda epididimis dan diduga disini terjadi proses pendewasaan. Gerakan spermatozoa mulai tampak, tapi dalam tubuli seminiferi jelas belum ada gerakan. Spermatozoa yang telah melalui epididimis memiliki potensi untuk membuahi ovum. Spermatozoa yang tidak melewatinya daya pembuahannya sangat kecil.
f. Duktus Deferens
Berupa saluran tunggal yang keluar dari kauda epididimis. Pada hewan besar saluran ini cukup panjang keluar dari epididimis membentuk Funikulus spermatikus (Spermatic cord) di daerah leher skrotum, selanjutnya masuk rongga perut menuju uretra dalam rongga pelvis.
Duktus deferens dibagi menjadi dua bagian, yakni : bagian yang tidak berkelenjar disebut : Duktus deferens dan bagian yang berkelenjar disebut : Ampulla. Selaput lendri membuat lipatan longitudinal, dengan epithel silindri sebaris atau dua baris, berdiri pada membran basal. Tunika propria terdiri dari jaringan ikat dengan banyak sel dan serabut elastis, bagian ini langsung bersatu dengan sub-mukosa dan keduanya disebut propria mukosa. Tunika muskularis cukup tebal, dengan bagian yang memanjang, melintang dan miring. Pada babi dan domba lapis sirkuler tebal terletak disebelah dalam sedangkan lapis memanjang tipis, tetapi pada sapi, kuda dan karnivora lapisan otot polos saling membuat anyaman, sehingga tidak membentuk strata yang jelas. Tunika adventitia atau serosa terdapat paling luar, pembuluh darah, saraf, jaringan limfoid dan otot polos sering tampak di bagian ini. Ampulla akan dibahas nanti pada kelenjar asesorius.
g. Funikulus Spermatikus
Bagian ini berbentuk buluh, dibalut oleh peritonium. Didalamnya terdapat duktus deferens, pembuluh darah, saraf dan berkas otot polos. Pada kasus pengebirian secara tertutup yang dirusak selain duktus deferens juga arteri (a. Spermatika). Pengebirian ini lazim dilakukan pada hewan besar (sapi atau kerbau) sebelum menginjak dewasa kelamin, sebagai ternak daging.
h. Uretra
Uretra hewan jantan cukup panjang, dibagi menurut letaknya, yakni : Uretra pars prostatika, uretra pars pelvina dan uretra pars penis. Jadi delaslah bahwa bangun uretra tergantung pada letaknya dalam tubuh, meskipun demikian terdapat bangun umum tetap.
Selaput lendir membuat lipatan memanjang, disusun atas epitelnya banyak lapis dan peralihan. Pada permukaan, epithel tidak teratur sering membentuk prosesus disebut Lakuna dari Morgagni. Pada tunika propria banyak terdapat pembuluh darah, khususnya pembuluh darah venosus yang membentuk korpus uretralis (kelenjar littre). Lapis paling luar adalah lapisan otot polos, diikuti otot kerangka dalam membentuk muskulus retralis.
Kolikulus seminalis adalah kelanjutan dari kresta uretralis yang terjadi dari vesika urinaria. Bagian ini merupakan tempat permuaraan duktus defferent dan vesika seminalis. Mukosa mirip dengan uretra, pada kucing dan babi sering terjadi gangglia di daerah ini. Uretra prostatikus atau uterus maskulina terdapat di daerah kolikus prostatikus atau uterus maskulinus terdapat di daerah kollikulus seminialis, sering tampak pada hewan piara, khususnya jelas pada hewan besar. Uritrikulus prostatikus merupakan ujung saluran Muller yang homolog dengan uterus dan vagina pada hewan besar.
Uretra pars penis berbeda dengan uretra pars pelvina, yakni lebih sedikit mengandung kelenjar tetapi banyak mengandung serabut erektil. Di luar lapisan otot terdapat tunika albuginea yang merupakan suatu jaringan ikat fibrus banyak mengandung serabut elastis, khususnya pada penis tipe kaverneus.
3. Kelenjar Asesorius (Glandula genitales asesorius)
Kelenjar asesorius pada hewan jantan memiliki ciri umum :
Ø Kelenjar bermuara pada uretra
Ø Pada stroma (kapsula jaringan ikat interstitial, trabekula, septa) sering terdapat otot polos, kontraksi otot tersebut dapat mendorong skreta, khususnya pada proses ejakulasi.
Ø Kelenjar berbentuk tubulus bercabang dengan lobulasi cukup jelas. Ada bagian ujung kelenjar yang meluas membentuk sinus koligentes sebagai penampang sekreta.
Ini sekedar ciri umum, sudah tentu terdapat beberapa perbedaan untuk setiap jenis hewan. Keempat kelenjar assesorius tidak semuanya terdapat pada setiap hewan jantan, kalaupun ada pertumbuhannya tidak selalu subur.
Keempat kelenjar asesorius tersebut adalah :
a. Ampula (ampula duktus defrentis)
b. Kelenjar vesibulares (glandula vesikulares)
c. Kelenjar prostat (glandula prostat)
d. Kelenjar bulbo-uretralis (glandula bulbo-uretralis)
Hormon testosteron sangat berpengaruh terhadap kesuburan kelenjar asesorius dan ciri khas kelamin jantan (secondary sex characteristic). Kastratsi sebelum datangnya dewasa kelamin menyebabkan perkembangannya kelenjar tersebut berhenti, sedangkan kastrasi pada umur dewasa menyebabkan kemunduran secara bertahap kelenjar asesorius. Secara histologi telah dibuktikan bahwa sel kelenjar mengecil dan aktivitas bersekresi mundur. Selanjutnya parenkim kelenjar mengalami involusi dan digantikan dengan jaringan ikat.
a. Ampula.
Kelenjar ampula anjing menjulur sampai permulaan dari uretra, kucing tidak memiliki ampula. Diantara hewan besar seperti babi memiliki ampula paling kecil, kelenjarnya sedikit dan terbesar pada dindingnya. Sapi, kerbau, domba dan kuda pertumbuhan ampula cukup subur.
Struktur histologi ampula ditandai dengan menebalnya selaput lendir (mukosa) disebabkan adanya kelenjar. Kedua ampula melewati bagian ventral dari korpus prostat dan bersama dengan glandula vesikulares bermuara kedalam uretra pada kolikulus seminalis.
Kelenjar bersifat tubulus bercabang, mirip dengan glandula vesikulares dengan ujung kelenjar yang meluas mirip suatu kantong. Epithelnya berbentuk silindris sebaris, tinggi rendahnya epithel tergantung dari aktivitas kelenjar tersebut. Dalam lumen kelenjar sering tampak spermatozoa (slides), bahkan sering dilaporkan adanya konkremen yang dapat berkapur (kuda dan ruminansia). Kelenjarnya tidak memiliki saluran yang jelas sehingga ujung kelenjar tampak langsung berhubungan dengan lumen dari ampula.
Tunika muskularis tersusun secara sirkuler dan longitudinal, dimana pada ruminansia saling beranastomose, lapis paling luar adalah tunia adventitia atau serosa.
b.Glandula vesikulares
Glandula ini jumlahnya sepasang, pada sapi cukup subur dan membentuk lobulasi yang jelas. Pada kuda dan manusia berbentuk memanjang dan mengantong. Babi, domba dan kambing pertumbuhan glandulanya cukup baik. Tetapi anjing dan kucing tidak memiliki glandula vesikulares. Pada sapi saluran glandula tersebut bersatu dengan saluran ampula membentuk kedua Ostea ejakulatoria yang bermuara kedalam uretra. Bentuk uretra ini bisa berbeda antara jenis hewan satu dengan yang lainnya.
Struktur histologi glandula, terbagi dalam lobulus, dipisahkan satu dengan yang lain dengan trabekula atau septa yang mengandung otot polos, pada ruminansia septa cukup tebal. Dalam tiap lobulus terdapat ujung glandula yang paling luas lumennya, sebagai penampung sekreta disebut Sinus Colligentes. Epithel dari ujung kelenjar berbentuk silindris sebaris, tetapi bagi saluran yang cukup besar dan terdapat diluar lobulus, epithelnya banyak lapis. Pada lumen ujung glandula, khususnya sinus koligentes sering terlihat spermatozoa maupun kristal.
c. Glandula prostat.
Glandula ini jumlahnya sebuah, terletak pada pangkal uretra di daerah leher vesika urinaria. Pada berbagai hewan piara bentuknya tidak sama, secara umum terdapat bagian yang disebut : Corpus prostate dan Pars dissiminata prostate atau pars dissiminata. Istilah korpus prostata hanya tepat untuk babi dan sapi bukan domba dan kambing. Korpus ini kecil posisinya dorsal dari uretra dekat vesikula urinaria.
Pars disiminata prostata praktis terdapat pada semua hewan piara kecuali kuda, terdiri atas lobus dekstra dan sinistra dan istmus. Pada ruminansia terdiri atas pars disminata, glandulanya tersebar hampir sepanjang pars uretra dan pars pelvina. Pada kuda dan karnivora korpus prostata besar dengan glandula yang subur, sebaliknya pars disminata sedikit dan tersebar sebagai kelenjar littre. Pada anjing glandula prostat mengelilingi permulaan uretra. Hewan yang memiliki pars disminata yang subur, kelenjarnya dibalut oleh muskulus uretralis yang terdiri atas otot kerangka kecuali daerah ujung kranial dari korpus prostata.
Struktur histologi parenkhim glandula berbentuk tubulus majemuk. Stroma yang terdiri dari kapsula, trabekula dan jaringan interstitial mengandung otot polos. Epithel berbentuk silindris rendah tergantung pada aktivitas kelenjarnya dan didalamnya banyak terdapat butir sekreta. Intersellulaer skretorikanalikuli sering tampak pada sapi dan kuda. Sekresi kelenjar bersifat apokrin adakalanya epithel terlepas bersama bercampur dengan sekreta, yang diduga menyebabkan terjadinya konrement dalam lumen sinus koligentus disebut Korpura amilasea (sympexionen), pada babi yang sudah tua sering ditemukan.
Pada rodensia sekreta kelenjar protat dan kelenjar cowper dapat merupakan penyumbat servik, khususnya bila fertilisasi telah terjadi. Mukus tersebut dapat menetralkan asam susu yang terdapat dalam vagina. Pada hewan piara sekreta yang bersifat encer dari glandula prostat dapat menaikkan motilitas dari spermatozoa.
d. Kelenjar Cowper (glandula bubo-uretralis)
Kelenjar cowper ini jumlahnya sepasang, terdapat pada semua hewan piara kecuali anjing. Kapsula bersifat fibrous murni pada sapi tetapi pada hewan lain mengandung otot polos. Jaringan ikat interlobuler yang membagi kelenjar menjadi beberapa lobulus mengandung otot polos. Hanya pada kuda disusun atas otot kerangka, di luar kapsula jelas terdapat otot kerangka.
Epithel kelenjar berbentuk silindris rendah, lumen ujung glandulanya besar, aspeknya mukeus dengan ujung kelenjar ada yang serous, perimbangannya tergantung jenis hewannya. Pada setiap lobulus terdapat sinus kelenjar sebagai penampung sekreta. Babi lumen ujung glandulanya meluas dengan sekreta kental, penting untuk memperkental air mani setelah ejakulasi. Sekreta kelenjar cowper bermuara kedalam uretra dan dianggap sebagai pembersih (lubrikan) uretra sebelum air mani lewat. pH sekitar 7,5-8,2 pada ejakulasi tak sempurna air mani sapi tak mengandung spermatozoa, cairan mana berasal dari kelenjar cowper dan mungkin sebagian dari prostat.
4. GENITALIA EKSTERNA
4.1 Penis
Penis dapat dibagi atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas : Jaringan erektil korpus kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae, muskuli bulbo-kavernosus dan retraktor penis. Ujung penis disebut gland penis, dimana pada beberapa spesies tidak begitu jelas.
Corpus Penis
Uretra dengan korpus karvenosum sudah dijelaskan diatas, korpus kavernosum yang membentuk korpus terdiri atas : Kapsula yang disebut tunika albuginea, berupa membran tebal terdiri atas jaringan ikat kolagen padat dan serabut elastis. Dari tunika albuginea dilepaskan trabekula yang berhubungan satu sama lain. Trabekula membentuk septum mediastinum yang hanya ditemukan pada radiks penis dari ruminansia dan babi, tetapi pada anjing ditemukan seluruh korpus. Pada kuda dan anjing septum tersebut tidak kontinyu, diantara trabekula terdapat jaringan erektil yang sebenarnya. Ini terdiri atas jala, lamela dan pita yang melanjut ke trabekula dan tunika albuginea dan ruang yang berukuran bervariasi dan berhubungan satu dengan yang lain disebut : Kaverna. Ruang ini terutama berjalan secara longitudinal (kecuali pada anjing) dan terbesar serta terbanyak pada kurra, di luar endothelium, dinding kaverna hanya dibentuk jala inter-kavernosa yang memuat vasa dan nervi. Pada ruminansia dan babi terdiri atas jaringan fibro-elastis, otot polos (anjing dan kuda). dan korpusadiposum yang tersebar. Pada bagian distal dan insertio m. Iskhiokavernosus, korpus kavernosum sapi mempunyai jaringan fibrosa dan berfungsi untuk membuat penis lebih kaku.
Vasa Darah
Pada manusia dan kuda terdapat jala kapiler pleksus korteks superfisial langsung dibawah tunika albuginea. Ini berhubungan dengan pleksus vena korteks profundal yang berhubungan dengan ruang kaverna dan jaringan erektil. Aliran darah arterial terutama berasal dari arteria provunda-penis yang masuk krura. Cabang dari arteria dorsalis menembus tunika albuginea. Arteri ini berjalan sepanjang trabekula melintasi sepanjang jaringan erektil. Berupa cabang memberikan kapiler ke albuginea dan trabekula sedang yang lain membentuk kapiler pada superfisial, cabang arteri yang lain berakhir pada pleksus profundal atau kelubang kaverna secara langsung.
Arteri helisina membentuk cabang dan berkelompok dua sampai sepuluh, selanjutnya dibungkus dalam berkas oleh jaringan ikat, berjalan berkelok, dindingnya mengandung berkas otot polos longitudinal hingga arteri mempunyai penebalan seperti bantal. Ruang kaverna dan pleksus venosus yang provundal di aliri darah dari vena profunda penis dan vena dorsalis penis dan vena bulbo-uretralis.
Mekanisme Ereksi
Adanya perasaan erotik maka saraf parasimpatis terpacu dan menyebabkan relaksasi otot polos pada arteri dan korpus kavernosum, akibatnya darah mengalir ke arteri dan teregang, ruang kaverna terisi darah arterial dan ruangan membesar. Pembesaran ruangan ini menyebabkan vena besar yang berdinding tipis tergencet hingga darah sulit meninggalkan melalui vena. Darah yang mengumpul di korpus kavernosum dengan tekanan yang makin meninggi dan menyebabkan organ mengeras. Pada saat ini a.helisina yang jalannya bekelok-kelok, secara pasif teregang dan menjadi lurus.
Setelah ejakulasi pengaruh saraf simpatis lebih dominan dan otot polos kembali pada tonusnya, aliran darah normal kembali, darah yang tertinggal dalam korpus kavernosum tertekan masuk kedalam vena karena kontraksi otot polos trabekula dan kerutan kembali jaringan elastis. Penis kembali kebentuk yang normal.
Glans Penis
Kaya akan vaskularisasi dan beberapa spesies mempunyai bangunan erektil yang sebenarnya dan membentuk bangunan yang melebar disebut : Glans penis, bangunan ini hanya jelas pada manusia, kuda dan anjing. Pada anjing glans penis merupakan bangunan erektil yang pokok. Glans tertutup oleh preposium, preposium terbungkus oleh kulit, kaya akan nervi dan ujung saraf.
Jaringan erektil glans terpisah dari korpus kavernosum penis, kecuali pada babi. Jaringan ererktil ini berhubungan dengan korvus kavernosum-uretrae. Bulbus glandis anjing adalah suatu korvus kavernosum yang tebal, kaya jaringan elastis dan serabut otot. Pada karnivora glans membungkus os. penis, membentuk sebagai jaringan tulang pada ujung korvus kavernosum penis. Pada kuda, kambing dan biri-biri uretra muncul dari ujung penis membentuk prosessus uretralis dan terbungkus jaringan kaverna yang tipis. Pada kuda bagian ini kaya jaringan limfatik. Pada kucing sarung kulit glans mempunyai spina kecil dan mengalami kornifikasi pada ujungnya. Kuda dan anjing juga ada tetapi lebih kecil.
4.2 Prepusium
Prepusium terdiri atas dua bagian yakni : Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut : Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi. Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung penis sebagai pars viseralis.
Pars eksterna mempunyai struktur sama dengan kulit, banyaknya rambut bervariasi tergantung spesies hewannya. Pars parietalis dihubungkan dengan lapisan luar dengan jaringan ikat yang banyak mengandung pembuluh darah dan otot polos yang berasal dari tunika dartos skroti dan berkas otot serat lintang (kecuali kuda dan anjing). Rambut dan kelenjar kulit hanya terdapat sedikit pada orifisium preputi. Glandula sebasea lebih banyak bermuara pada permukaan tidak pada polikel rambut.
Pada fornik terdapat evaginasi kulit, nodulus limfatikus terdapat lapisan parietal dari babi dan biri-biri, fornik sapi, anjing babi dan lapisan yang menutup glans penis sapi. Ujung saraf berupa bulbus terminalis dan korpus-ulum genitale terdapat lapisan viseral preputium semua hewan. Pada kucing terdapat juga korpus-kulum pasini.
4.3 Skrotum.
Terdiri atas integumentum kommunis dan tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan glandula. Terdapat glandula sebasea dan glandula kulit tubuler. Babi hanya berlandula kecil dan sedikit, dibagian dalam kulit skrotum melekat ke tunika dartos dengan perantara jaringan ikat longgar. Tunika dartos terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen dan elasti. Pada babi ditemukan jaringan lemak, septum skroti dibentuk oleh berkas serabut otot.
B. Organa Genitalia Feminina
Alat reproduksi hewan betina terdiri dari :
1. Ovarium (alat kelamin primer)
2. Alat penyalur terdiri atas : Tuba fallopii dan fimbrie, Uterus, Serviks dan Vagina
3. Alat kelamin luar (genitalia eksterna) : Vestibulum, Labia-vulva dan Klitoris
1. OVARIUM
Jumlahnya sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung (mesovarium). Ukuran serta bentuk ovaria pada hewan muda dengan yang dewasa menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda, yakni : Kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin karena pada periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel the graaf) progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum).
Struktur histologi bangun ovaria dewasa berubah-ubah tergantung pada siklus kelamin, tetapi bangun umum pada mamalia secara garis besarnya hampir sama, sedangkan pada kuda dan ayam agak menyimpang. Begitu pula bangun ovaria muda dan dewasa juga berbeda.
Strukutur histologi nya sebagai berikut :
Kapsula :
Ø Epithel kecambah (germinal epithelium). Pada hewan muda bangun epithel kubis atau silindris rendah tapi pada yang dewasa kubis rendah. Hampir seluruh permukaan ovaria dibalut oleh epithel kecambah, kecuali daerah hilus ovari yang dibalut oleh peritoneum. Pada kuda sebagian besar ovarium dibalut oleh peritoneum, hanya sebagian kecil disebut ovulation fossa dibalut oleh epithel kecambah.
Ø Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen tanpa serabut elastis dan retikuler, sedikit mengandung sel, letaknya langsung dibawah epithel kecambah.
Korteks :
Ø Disebut juga Korteks ovarii atau Zona parenchymatosa, letaknya dibagian perifer ovarium langsung dibawah tunika albuginea, kecuali pada kuda yang terletak di sebelah bagian dalamnya. Pada korteks terdapat stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel pada berbagai stadia.
Ø Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak mengandung sel bebas serabut elastis. Serabut kolagen dan retikuler terdapat didalamnya. Sel stroma yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial. Sel tersebut mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan menyimpan bahan lemak serta zat warna. Dalam keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag, ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna dan korpus luteum.
Ø Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu berdifrensiasi dan baru bersekresi. Stroma ovarii pada kuda sering mengandung sel berpigmen, tetapi semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada stroma kortikalis tersebar follikel yang pada hewan dewasa terdapat pada berbagai stadia. Pada hewan multipara (anjing, kucing dan babi) follikel sering mengelompok, tetapi pada unipara (kuda, sapi dan kerbau) tersebar secara merata.
Penelitian yang dilakukan pada anjing menunjukkan bahwa pembentukan follikel berlangsung hampir sepanjang hidupnya, melalui invaginasi epithel kecambah menembus tunika albuginea.
Folikel primordial
Pada hewan yang baru lahir folikel seluruhnya adalah folikel premordial. Folikel yang belum memasuki siklus pada hewan dewasa sering disebut folikel premordial juga, untuk membedakan dengan folikel primer yang telah memasuki siklus. Folikel ini terdiri dari sel telur (oogonium) membran basal yang cukup tipis dan sel folikel (sel granulosa) berbentuk pipih selapis. Membran basal merupakan batas antara folikel dengan stroma kortikalis. Diameter oogonium 30-50 m, inti besar, aparatus golgi, mitokhondria dan endoplasmik retikulum yang jelas.
Folikel primer
Folikel ini telah memasuki siklus, dan dibawah pengaruh hormon FSH dari hiphofisa terjadi proses pertumbuhan. Pembesaran diameter dari seluruh komponen folikel disebabkan oleh perubahan pada : Sel telur yang membesar karena intinya sedikit membesar akibat kromatin bertambah, sitoplasma khususnya kuning telur (para plasma) bertambah secara bertahap sel telur yang sedang berkembang ini disebut oosit primer.
Ø Sel-sel follikel turut berkembang yang tadinya berbentuk pipih selapis, berubah menjadi kubis sebaris.
Ø Membran basal masih tetap tipis.
Folikel Sekunder
Periode ini disebut Growing follicle dibedakan tiga stadium, yakni :
1.Stadium permulaan
Oosit primer terus berkembang, sel folikel mulai berkembang biak sehingga tampak dua lapis. Di luar selaput vitelin mulai terjadi zona pelusida yang dihasilkan oleh sel folikel. Di sebelah dalam selaput vitelin kuning telur bertambah banyak, membran basal sedikit menebal. Penambahan diameter keseluruhan follikel, demikian juga oosit primer.
2.Stadium pertengahan
Perkembangan oosit primer terus berjalan, dengan bertambahnya kuning telur posisi inti yang sentris mulai bergeser agak ke tepi. Zona pelusida agak menebal dan sel folikel berlapis mencapai tiga sampai enam lapis. Membran basal agak menebal.
3.Stadium akhir
Perkembangan oosit primer berakhir, zona pelusida tebal. Sel follkel yang ada ditengah mulai tampak tanda degenerasi yang berakhir dengan hancur (lisis) sehingga terbentuk rongga sebagai permulaan dari antrum folikuli.
Folikel Tertier
Seperti halnya dengan follikel sekunder, stadium ini dibagi dalam 3 sub stadium :
1.Stadium permulaan
Perkembangan oosit primer telah berhenti, zona pellusia sudah cukup tebal. Sel-sel follikel yang mengitari zona pellusida mulai teratr letaknya. Pada waktu yang bersamaan sel follikel yang terdapat ditengah berdegenerasi, handur dan membentuk antrum follikuli yang baru. Antrum follikuli yang telah terbentuk mulai meluas dan berisi cairan Liquor follikuli. Membran basal tetap ada, sel-sel stroma diluar membran basal berdiferensiasi menjadi sel-sel theca folliculi.
2.Stadium pertengahan
Pada stadium ini diduga oosit primer telah memasuki stadium pemasukan pertama dan mengeluarkan benda kutub (polosit) pertama. Dengan demikian sel telur disebut oosit sekunder. Sel folikel yang langsung mengelilingi zona pelusida telah teratur letaknya disebut : Corona radiata. Diluar corona radiata, sel folikel selanjutnya disebut sel granulosa, membentuk dinding antrum folikuli. Dengan bergabungnya antrum folikuli dan bertambahnya liquor folikuli maka posisi sel telur terhadap folikel jadi semakin eksentris. Pertautan sel telur dengan dinding folikel berlangsung melalui susunan sel granulosa berbentuk tangkai disebut : Kumulus ooforus. Pada mamalia lazimnya hanya sebuah tetapi pada kelinci terdapat beberapa buah disebut : Retinakulum. Membran basal yang memisahkan sel granulosa dan sel teka folikuli, selanjutnya disebut: Membran skhalavianski. Teka foliculi terdiri atas : Teka interna dan teka eksterna. Teka interna terdiri disusun oleh jaringan ikat dengan sel epitheloid mengandung butiran didalamnya, diduga menjadi sumber hormon estrogen. Pembuluh darah banyak terdapat didalamnya berbentuk kapiler. Sebagian dari hormon estrogen memasuki pembuluh darah dan sebagian lain menembus sel jaringan ikat dengan sel memanjang mengelilingi folikel. Perubahan teka eksterna dengan stroma kortikalispun tidak jelas.
3.Stadium terakhir
Stadium ini sering dikenal sebagai : Folikel renier de graaf suatu folikel yang sudah siap mengalami ovulasi. Keadaannya hampir sama dengan substadium sebelumnya, hanya pada yang terakhir ini terdapat adanya stigma, berupa dinding folikel yang paling tipis yang nantinya akan pecah dan merupakan jalan keluar bagi oosit sekunder.
Follikel atretis (Korpora atretika)
Selama folikel primordial berkembang menjadi folikel de graaf banyak mengalami kematian. Kematian folikel pada berbagai stadia dimulai dengan degenerasi pada oosit yang disusul dengan sel granulosa. Sebaliknya sel teka ber frolifrasi menyerap sisa folikel dan selanjutnya mengisinya. Proses atresia berbeda untuk tiap jenis hewan. Secara mikroskopis tampak adanya masa sel yang mengandung lemak diantara folikel pada stroma ovari. Kasus atresia pada stadium muda lebih mudah lenyap dari pada stadium lanjut yang biasa memakan waktu agak lama. Ovulasi adalah: Peristiwa pecahnya folikel de graaf dan terlemparnya ovum dari ovarium. Oosit sekunder yang terlempar keluar selanjutnya ditangkap oleh fimbriae dari tuba falopii, kemudian menuju uterus.
Korpus Luteum
Korpus luteum (Yellow body) mulai terbentuk setelah folikel mengalami ovulasi, pembentukan ini berlangsung terus sampai sempurna, apabila terjadi kebuntingan (korpus luteum gravidiatatum), tetapi apabila tidak terjadi pembuahan pembentukan korpus luteum terhenti, sehingga terjadi korpus albikans atau korpus fibrosum, Korpus luteum periodikum albikans adalah bentuk degenerasi dari korpus luteum yang fungsional. Letaknya lebih dalam dan ukurannya besar, sehingga hilangnya lambat. Sel luteum masih tampak meskipun sedikit dengan butir sekreta didalamnya. Warna kuning disebabkan oleh adanya pigmen lutein yang terkandung dalam sel pembentuk parenkhim. Lutein terdapat pada korpus luteum kuda, sapi, karnivora dan manusia. Pada domba, kambing dan babi pigmen lutein tidak ada sehingga warna korpus luteum jadi putih kelabu. Korpus luteum tergolong kelenjar endokrin dan menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi memelihara kelangsungan kebuntingan.
Medula ovari
Sering disebut : Zona vaskulosa, karena banyak mengandung pembuluh darah. Stroma ovari di daerah medula berubah menjadi jaringan ikat fibro-elastis yang banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, terdapat pula otot polos yang berhubungan dengan muskulator dari ligamentum suspensorium. Adanya sel interstitial pada kucing dan rodensia diduga menghasilkan hormon ovarium. Didaerah pertautan mesobarium dilaporkan adanya sel yang mirip dengan sel interstitial hewan jantang yang disebut : Sel hilus yang menghasilkan androgen. Pada karnivora dan ruminansia dekat mesovarium sering terlihat sisa dari rete ovari, sisa mesonefros yakni efooforon dan parooforon. Sisa mesonefros tersebut berbentuk saluran berliku-liku dengan ujung yang buntu. Epithelnya pipih selapis, pada epooforon silindris bersilia keduanya kadang membentuk kista.
2. ALAT PENYALUR
2.1 Tuba Uterina (Salping, tuba falopii, oviduktus)
Pada mammalia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai : Menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit sekunder atau embrio menuju uterus.
Secara morfologis dibagi menjadi : Infundibulum dan fimbriae, ampulla dan istmus. Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama hanya berbeda dalam struktur selaput lendirnya serta ketebalan lapisan otot.
Mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan adanya lipatan primer, sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah. Lamina epitelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, kecuali pada ruminansia dan babi yang memiliki daerah epitel silindris banyak baris.
Pada epitel terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni : Sel yang memiliki silia yang aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel ini menjamin kelancaran transport oosit embrio menuju uterus. Sel tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas epithel ini ternyata sejalan dengan aktivitas seluruh saluran kelamin meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot polos sering tampak didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar berbatasan langsung dengan mukosa sebab muskularis mukosa tidak ada.
Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan lapis luarnya longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah yang dikenal sebagai stratum vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir tidak tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos semakin jelas bahkan membentuk dua lapis yang berbeda susunannya.
Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas mendorong oosit atau embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan kelanjutan dari serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx).
2.2 Uterus (= Rahim)
Bentuk uterus pada berbagai hewan piara tidak sama, hal ini berhubungan dengan perkembangan embriologi. Perbedaannya terletak pada derajat penyatuan bagian kaudal buluh Muller. Secara umum uterus dibagi dalam 4 bagian yaitu :
Ø Uterus simplex : uterus hanya satu, ditemukan pada primata (bangsa kera) termasuk manusia.
Ø Uterus dupleks (uterus bipartius) : tipe ini memiliki dua uterus yang terpisah, sehingga memiliki dua serviks yang masing-masing bermuara kedalam uterus. Tipe ini terdapat pada rodentia seperti : kelinci dan marmut.
Ø Uterus Bipartius : mempunyai dua buah kornu yang panjang, yang bersatu di daerah istmus dekat servik, kemudian bermuara pada vagina tunggal. Tipe ini terdapat pada : karnivora dan babi.
Ø Uterus Bikornis : Kornua uteri yang tidak begitu panjang, karena penyatuan korpus uteri berlangsung agak jauh dari servik. Servik hanya sebuah dan bermuara kedalam vagina. Tipe ini terdapat pada : kuda dan ruminansia.
Struktur histologi :
a. Endometrium
Istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena muskularis mukosa memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, pada babi dan ruminansia sering tampak adanya bentuk epithel silindris banyak baris.
Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut : Zona spongiosa. Pada waktu birahi (estrus) zona spongiosa mengandung banyak cairan sehingga menggembung (edematus), sebaliknya setelah estrus pada ruminansia besar dan anjing sering terjadi perdarahan kecil dan berakhir pada diestrus.
b. Karunkula (carunculae)
Merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat warna sehingga tampak jelas. Pada uterus yang tidak bunting karunkula ini kecil, tapi pada yang bunting sangat membesar, bahkan pada sapi dapat sebesar ketan, jumlahnya tidak tentu, berkisar antara 60-120 buah. Pada uterus bunting khorion melekat bahkan membenamkan vili kedalamnya.
Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel jadi jelas dapat dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar kelenjar dari uterus (glandula uterina) terdapat dalam submukosa khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan ujung kelenjar menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh siklus kelamin.
c. Myometrium
Sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat stratum vaskulare. Pada uterus yang pernah bunting stratum vaskulare ini memiliki pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara.
Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari peritoneum (serosa) hanya saja sub serosa relatip tebal dan mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus (ligamentum lata uteri).
2.3 Servik.
Merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Bangun umum hampir mirip dengan uterus, selaput lendirnya (sesuai dengan peranannya) membentuk lipatan primer, sekunder dan tersier. Epithelnya silindris sebaris, tetapi bersifat sekretoris menghasilkan lendir. Beberapa sel tampak memiliki silia.
Tunika propria terdiri atas jaringan ikat longgar, dan pada waktu estrus bersifat odematus, pada submukosa terdapat kelenjar (anjing dan kambing), bersifat tubulus dan mukus. Tunika muskularis yang sirkuler tebal, bahkan berlapis-lapis dibatasi oleh jaringan ikat, lapis lungitudinal bersatu dengan vagina. Serosa merupakan kelanjutan dari uterus mengandung lebih sedikit sel otot polos tapi lebih banyak mengandung ujung saraf perifer.
Fungsi : servik uteri tertutup rapat pada waktu hewan bunting, disertai dengan lendir berwarna kuning yang mengental (mucusplug). Servik terbuka pada waktu partus atau sedang birahi.
2.4 Vagina
Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam rongga perut yang dibalut oleh serosa, dan sisi selebihnya terdapat dalam ruang pelvis dibalut oleh adentitia.
Sebagaimana pada saluran kelamin yang lain, vagina pun mengikuti perubahan sesuai dengan siklus kelamin. Perubahan mana tampak jelas pada epithel vagina yang penting untuk identifikasi siklus kelamin khusunya pada rodensia dan karnivora. Fungsi vagina adalah : pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi berlangsung.
Struktur histologi:
Ø Mempunyai epithel pipih banyak lapis, pada pengenalan siklus kelamin epitel ini mendapat sorotan khusus. Pada ruminansia besar epithel vagina kranial sering tampak adanya sel mangkok, yang jelas dan besar pada waktu esterus, sel ini penghasil lendir, dikeluarkan pada waktu metestrus.
Ø Pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel pada ruminansia besar tidak jelas, hanya sel permukaan jumlahnya meningkat. Pada karnivora anjing pertandukan tampak jelas pada waktu estrus, banyak sel permukaan lepas dan tercampur dengan eritrosit berasal dari endometrium.
Ø Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan dengan sub mukosa, semakin menuju vestibulum jumlah folikel getah bening semakin meningkat, pembuluh darah banyak terdapat didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar yang lebih sedikit mengandung sel jaringan ikat
Ø Tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang. Pada anjing tampak adanya tiga lapis yakni lapis longitudinal luar dan dalam dan lapis melingkar disebelah dalam, pada hewan piara yang lain lapis longitudinal dalam jarang tampak.
Ø Tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial.
3 Alat Kelamin Luar (Genitalia externa)
3.1 Vestibulum
Vestibulum merupakan daerah perbatasan antara vagina dan vulva. Daerah yang berbatasan dengan vagina ditandai dengan adanya selaput dara (himen), selaput dara jelas berkembang pada manusia tapi pada hewan piara kurang jelas, hanya berupa sedikit kenaikan mukosa. Daerah permuaraan urethra betina dianggap daerah perbatasan antara vagina dan vestibulum. Glandula vestibulares mayor dan minor bermuara di daerah vestibulum, bahkan didaerah ini sering tampak sisa (vestige) saluran limfe, dari masa kehidupan embrional.
Struktur histologi :
o Lamina epithelialis terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang juga mengikuti perubahan siklus kelamin, sebagaimana terjadi pada vagina. Infiltrasi leukosit sering tampak pada epithel. Pada kuda dan sapi sering membentuk lipatan berbentuk buluh mirip lakuna dari morgagni pada urethra.
o Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar membentuk papil mikrsokopik dan mengandung banyak serabut elastis, limponodulus banyak terdapat didalamnya, bahkan pada ruminansia besar sangat mencolok. Lebih dalam lagi terdapat pleksus venosus dan kelenjar vestibularis mayor jelas pada ruminansia besar, kucing dan kadang-kadang domba. Pada manusia cukup subur disebut kelenjar Bartholini.
o Glandula vestibularis minor tampak pada anjing, kucing, domba, babi dan kuda terletak lebih superfisial dan tersebar. Pada kucing dan domba banyak terdapat sekitar klitoris, kedua kelenjar tersebut bersifat tubulo-asinus majemuk dengan sel ujung kelenjar bersifat mukous. Kelenjar ini bermuara dibagian lateral dari vestibulum. Khususnya pada anjing dan kuda dikenal istilah Bulbus vestibuli berupa kavernous yang berkembang mirip korpus kavernosum urethrae terdapat pada dinding lateral vestibulum. Bulbus vestibuli sering memiliki kapsula yang cukup jelas, pada waktu kopulasi khususnya anjing mungkin bulbus vestibuli ini ikut berperan dalam menahan bulbus glandis penis. Pada hewan lain kaverneus tidak begitu subur pertumbuhannya.
o Sub mukosa sifat jaringan ikatnya lebih longgar dari tunika propria. Lobulus kelenjar terdapat dalam lapis ini, bahkan kadang-kadang lebih dalam lagi diantara muskulus konstriktor vestibuli, karenanya dianggap homolog dengan kelenjar cowper.
o Tunika muskularis terdiri atas : lapis dalam dan lapis luar, lapis paling luar adalah otot kerangka yakni muskularis konstriktor vestibuli dan muskularis konstriktor vulvae. Pada anjing muskularis konstriktor vestibuli berperan dalam menahan glans penis waktu kopulasi berlangsung.
o Tunika adventitia berupa jaringan ikat longgar yang mempertautkan vestibulum dengan alat tubuh sekitarnya.
3.2 Labia
Berupa bibir dari vestibulum dengan komisura dorsalis dan ventralis. Kalau pada manusia jelas dapat dibedakan antar labio majora dan minora, maka pada hewan piara lain keadaanya. Yang berkembang justru hanya sepasang dan ada kaitannya dengan labio minora pada manusia, selebihnya tertutup oleh kulit yang mengalami pigmentasi lebih kuat dari kulit sekitarnya, pada hewan daerah ini lebih dikenal sebagai daerah vulva.
Pada anjing labio majora agak berkembang berupa elevasi kulit lateral dari labio minora. Korium bersifat fibroelastis dan subkutis banyak mengandung jaringan lemak. Muskulus konstriktor vulvae (otot kerangka) relatif subur pada anjing dan babi.
3.3 Klitoris
Secara anatomis klitoris terdiri atas : badan (Corpus klitoridis) dan kepala (Glans klitoridis) dan selubung (Preptium klitoridis). Pada kedua bagian ini banyak mengandung ujung saraf sensoris, Korpus klitoridis memiliki korpus kavernosum seperti pada penis karenanya dipandang homolog dengan penis, meskipun dalam format kecil, bedanya pada klitoris tidak dilalui urethra.
Pada kuda didalamnya terdapat otot polos. Pada anjing, kucing dan babi dibagian tengah terdapat jaringan lemak. Ujung bebas daerah korpus kavernosum bersifat fibrous mirip pada penis ruminansia. Glans klitoris pada najing dan kuda korpus kavernosum glandis mirip glans penis ukuran kecil, tetapi sapi, domba, kambing dan babi kurang berkembang, hanya berbentuk jaringan ikat dengan pembuluh darah didalamnya. Preptium dibalut oleh epithel pipih banyak lapis tanpa rambut dan kelenjar kulit, didalamnya banyak terdapat ujung saraf simpatis.
Posted by INK Bes
Pendahuluan
Sistem saraf pusat adalah sistem saraf yang mengandung pusat pengelola rangsang saraf, rangsang ini setelah ditafsirkan dapat disimpan atau diteruskan ke sistem saraf tepi untuk menimbulkan tanggapan.
Sistem saraf pusat dibedakan tiga pusat : Cerebrum, Cerebellum dan Medulla spinalis.
A. Cerebrum
Korteks cerebri mempunyai ketebalan satu koma lima sampai empat mm, secara makroskopik dataran luar menunjukkan bangunan yang disebut : Sulkus (lekukan) dan girus ( peninggian).
Korteks disusun oleh 6 lapisan, berturut-turut dari luar ke dalam :
1. Lamina molekularis (pleksiformis) : sel penyusunnya kecil dan relatip sedikit, sedangkan unsur serabut lebih menyolok membentuk anyaman (pleksus)
2. Lamina granularis externa : ukuran sel saraf kecil dan banyak
3. Lamina piramidalis externa : jumlah sel jarang, berbentuk piramid kecil
4. Lamina granularis interna : sel saraf kecil banyak
5. Lamina piramidalis interna : sel saraf berbentuk piramid lebih besar. Di daerah korteks yang disebut area motorika sel saraf khusus berbentuk piramid besar, dikenal sebagai sel Betz.
6. Lamina multiformis : Sel saraf berbentuk aneka ragam. Disela antara neuronum terisi oleh neuroglia.
B. Cerebellum
Korteks cereblli terdiri atas tiga lapisan, dari luar ke dalam dijumpai :
1. Stratum molekulare (plexiformis) :
Ø sel saraf sedikit dan kecil
Ø serabut saraf : neurofibra non-myelinata banyak, beranyaman.
2. Stratum neuronarum piriformium : Sel saraf berbentuk serupa botol atau buah kambu air, berderet, dikenal sebagai sel Purkinje .
3. Stratum granulosum : Sel saraf banyak, kecil dan padat
C. Medulla Spinalis
Kalau pada cerebrum dan cerebellum substantia grisea menempati bagian permukaan dan substantia alba bagian pusat, maka dalam medula sipnalis keadaan sebaliknya :
1.Substantia grisea : berwarna keabu-abuan, sebab penuh berisi neurosit yang berkelompok dan membentuk nukleus. Pada lapisan melintang melalui medulla spinalis, bagian ini menunjukkan gambaran seperti kupu-kupu atau huruf H, sehingga ada 3 gambaran tanduk :
a. Kornu dorsale : pada medulla spinalis utuh disebut kolumna dorsalis
b.Kornu laterale : pada pada medulla spinalis utuh disebut kolumna lateralis
b.Kornu ventrale : pada medulla spinalis utuh disebut kolumna ventralis
c. Substantia grisea mengandung neurositus : banyak neuroglia, terutama astrositus neurofibra non-myelinata.
2. Substantia alba : keputih-putihan, menempati bagian luar medulla spinalis. Bagian ini : Tidak mengandung neurositus, penuh neurofibra myelinata, yang menyebabkan warna keputih-putihan, neuroglia; oligodendrositus terbanyak, membuat stratum myelini untuk neurofibra, astrositus sedikit.
3. Kanalis centralis yang berada di pusat medulla spinalis dan berisi liquor cerebrospinalis mempunyai dinding, dinamakan ependima, tersusun oleh ependimositus, teratur sebagai epitel.
Meningens
Sistema nervosum sentrale diselubungi oleh bungkus : meninges (jika tunggal dinamakan mening. Ada tiga macam bungkus, dari luar ke dalam :
1. Dura mater (dura = keras ; mater = ibu)
· dura mater ensephali : membungkus ensephalon
· dura mater spinalis : membungkus medulla spinalis. Bungkus ini tertebal, disusun oleh jaringan ikat padat dan mengandung : serabut kolagen kuat : di encephalon : kurang teratur dan di medulla spinalis : membujur. Serabut elastis sedikit.
2.Arachnoidea mater : menyerupai rumah laba-laba (Arachnida), dihubungkan dengan bungkus lain oleh trabekula arachnoidealis. Dikenal 2 macam :
· arachnoidea mater encephali : membungkus encephalon
· arachnoidea mater spinalis : membungkus medula spinalis
Bentuk menyerupai rumah laba-laba menyebabkan bungkus ini memiliki :
· citerna sub-arachnoidea : berisi liquor cerebrospinalis
· trabecula arachnoidealis : membatasi cisterna, mengandung banyak serabut kolagen, sedikit serabut elastik.
3. Pia mater (pia=lunak), menempel pada sistema nervosum sentrale :
· pia mater encephalis : membungkus encephalon
· pia mater spinalis : membungkus medulla spinalis
Sifat :
· dilapisi oleh epithelium simpleks squamosum serupa mesthelium
· mengandung banyak serabut kolagen, sedikit serabut elastik
· dilengkapi dibroblastus, makrophagositus, pembuluh darah
at 9:14 PM
0 comments
Friday, April 3, 2009
9. Struktur Histologi Kulit
Posted by INK Bes
Pendahuluan
Kulit (Integumentum Communae) menutupi seluruh permukaan badan, terdiri atas lapisan : epidermis dan suatu lapisan jaringan penyambung berupa dermis (korium) serta hipodermis (sub kutis) yang terdiri atas jaringan ikat longgar menghubungkan dermis dengan jaringan dibawahnya.
Fungsi kulit :
1. Membungkus serta melindungi tubuh hewan terhadap pengaruh luar yang merugikan.
2. Ikut mengatur suhu tubuh serta kadar air.
3. Membuang garam dan hasil metabolisme yang berlebihan.
4. Melindungi tubuh terhadap pengaruh fisik, kimia dan jasad renik kedalam tubuh.
Beberapa kelenjar kulit yang berperan dalam berbagai fungsi sekresi kulit, antara lain : Kelenjar Palit, Kelenjar Peluh, Kelenjar ambing dan kelenjar kulit khusus. Beberapa struktur yang merupakan turunan dari kulit adalah : rambut, bulu, kuku, tanduk, jengger, pial dan gelambir.
7.1 Kulit
a.Epidermis
Terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang bertanduk, memiliki lima lapis utama yakni :
1.Stratum basale / stratum germinativum : merupakan lapis paling bawah terdiri atas epithel kubis atau silindris sebaris rendah. Lapisan ini bersifat mitosis aktif untuk menggantikan lapis diatasnya yang mati / aus. Pigmen juga bisa ditemukan pada lapis ini selain pada lapis spinosum.
2.Stratum spinosum : sel penyusunnya berbentuk poligonal terdiri atas beberapa lapis, semakin keatas semakin memimpih. Pertautan antar sel yang cukup kuat ditunjang oleh desmosoma, sel memiliki tenofibril yang berakhir pada desmosoma. Lapis ini juga bisa bermitosis.
3.Stratum granulosum : Satu sampai tiga lapis, sel berbentuk elip dan mulai menunjukkan tanda bertanduk (cornification). Sel tersebut mengandung kerantobilia dan fungsinya masih belum jelas diketahui.
4.Stratum lusidum : Beberapa lapis sel yang telah mati, karenanya beraspek homogen. Inti dan organoida tidak jelas tapi desmosoma masih jelas terlihat, sedangkan butir kerato-hyalin nya sudah lenyap berubah menjadi eledin.
5.Stratum korneum : Merupakan lapis sel yang paling luar, selnya bertanduk dan mengandung keratin yang diduga hasil perubahan eledin. Lapis ini pada beberapa tempat tebal dan bila kering akan mengelupas membentuk stratum disjunktum. Khususnya untuk stratum lusidum hanya ditemukan pada daerah yang tidak berambut, misalnya : planumnasale atau bantalan kaki.
Keratin adalah suatu skleroprotein yang sangat resisten terhadap pengaruh kimia dan biasanya keratin yang terdapat pada epidermis adalah keratin lunak dan keratin keras terdapat pada kuku, rambut yang bersifat kurang elastis karena kandungan sulfer tinggi.
b. Dermis / Korium
Sering disebut Kutis vera, merupakan bagian utama kulit, disusun oleh serabut kolagen padat sedangkan serabut elastis dan jaringan ikat lain sedikit.
Korium dibedakan atas dua bagian, yakni :
Ø Stratum papilleare : membentuk jalinan dengan epidermis pada kulit tidak berambut. Tampak papil, dan sering terdapat ujung saraf pembuluh darah serta saluran kelenjar peluh.
Ø Stratum retikulare : Antara stratum papillare dengan stratum retikulare sebenarnya mempunyai batasan yang tidak jelas. Hanya serabut kolagen pada stratum ini lebih padat dan anyamannya mengarah horisontal terhadap permukaan kulit. Didalam ilmu bedah mengetahui arah anyaman serabut kolagen ini sangat penting karena dalam operasi yakni memberikan proses kesembuhan yang lebih cepat.
c. Hipodermis
Hipodermis atau sub kutis terdiri atas jaringan ikat longgar yang banyak mengandung serabut elastis. Dalam keadaan patologis akan membentuk beberapa rongga yang berisi cairan (edema) atau udara (emphysema). Daerah ini juga merupakan tempat perlindungan lemak terutama pada babi. Pada hewan yang gemuk sel lemak dapat menyusup lebih dalam dan terdapat diantara otot. Daerah tubuh yang sedikit terdapat sub kutis adalah : metakarpus kuda, oleh sebab itulah kulit sulit digerakkan karena melekat kuat.
Integementum Mammalia
Epidermis berkembang dari ektoderm dan hipodermis merupakan turunan dari mesoderm. Pada mulanya epidermis tersusun atas beberapa lapis sel berbentuk kubus. Proliferasi dari sel ini menghasilkan lapisan sel epidermis dan proloferasi sel basal menambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal bertambah dengan cepat ketebalan sel yang berada diluarnya. Invagansi dan proliferasi sel basal kedalam lapisan dibawah epidermis seperti dermis dan hypodermis menandakan adanya rambut, bulu dan kelenjar, yang mana sel dari jaringan tersebut diatas berhubungan dengan sel epidermis. Dermis dan hipodermis berkembang dari mesenkhim khusus. Poliferasi dan difrensiasi yang cepat dari sel mesenkhim menghasilkan jaringan yang ditandai dengan jaringan ikat longgar dan jaringan ikat padat.
Pigmentasi Kulit
Melanosit adalah sel pembentuk pigmen yang juga dikenal dengan nama : Dermal chromatophore. Terdapat diantara stratum basale dan stratum spinosum tapi dapat juga terdapat pada stratum papillare dari korium.
Sel ini mempunyai bentuk khusus yakni memiliki penjuluran yang menyusup sampai stratum spinosum untuk melepas pigmen melanin pigmen tersebut selanjutnya diambil oleh sel pada lapis tersebut. Melanosit yang tidak berfungsi (istirahat) dikenal dengan “sel cerah” (clear cells). Sedangkan melanosit yang berfungsi dapat dikenali dengan reaksi DOPA (dihydroxyphenylalanine) yaitu melakukan sintesa komplek mengubah DOPA menjadi melanin. Reaksi DOPA inilah yang membedakan sel yang dapat membuat pigmen dan sel yang hanya menampung pigmen dalam epidermis.
Melanin berfungsi melindungi tubuh terhadap pengaruh sinar ultraviolet yang memiliki daya tembus kuat. Sebagian sinar ditahan oleh pigmen melanin. Pada beberapa organisme melanin mungkin tidak ada ( albinisme) mis : kerbau, sapi, harimau dan kera. Dari segi perkembangan ternak piara, albinisme agaknya dianggap suatu cacad keindahan. Kenyataan pada derajat albino yang kuat terdapat gejala takut sinar (photophobia) dan kondisi tubuhnya lebih lemah dari normal. Peristiwa hilang atau tidak cukupnya produksi melanosit yakni sel penghasil melanin juga disebut White Spots.
Kulit daerah Khusus
Beberapa bagian dari kulit ada yang berambut dan ada yang tidak atau gundul. Beberapa bagian tubuh ditandai dengan epidermis yang tebal, sedangkan bagian yang lain tipis. Sama halnya dengan dermis, ketebalannya beragam dalam penyebarannya keseluruh tubuh. Dermis adalah bagian yang paling tebal dari kulit. Kulit daerah tertentu beragam bentuknya, hal ini erat hubungannya dengan cara kerjanya, cara hidup, penyebaran dan tipe kelenjar serta ketebalan kulit merupakan adaptasi fungsional yang paling idela terhadap lingkungan sekitarnya.
1. Bantalan Kaki (Digital pad / food pad)
Bantalan kaki hewan karnivora mengalami penandukan yang hebat menebal, berpigmen kuat dan bagian kulit yang tidak berbulu berguna untuk perpindahan (lokomosi). Bantalan kaki ini tahan terhadap abrasi dan efektif sebagai penyerap goncangan.
2. Skrotum
Kulit skrotum umumnya paling tipis dalam tubuh, stratum korneum tidak berkembang dengan baik dan dermisnya kurang luas. Kelenjar tubuler apokrin dan kelenjar palit ditemui disini. Rambut tubuh halus dan pendek. Serabut otot polos dari tunika dartos mengadakan persilangan dengan serabut kolagen dan elastis dari dermis. Tunika dartos dapat dipengaruhi oleh suhu sekitarnya dan bertanggung jawab atas kedudukan relatif testis terhadap dinding tubuh. Pada derajat yang tinggi otot ini akan berelaksasi, skrotum akan meregang karena dipengaruhi oleh berat testis sehingga kedudukan testis akan menjauhi dinding tubuh sebaliknya terjadi apabila derajat suhu merendah.
3. Hidung
Planum nasale karnivora terbentuk dari penebalan dan pertandukan yang hebat dari epidermis disertai dengan tidak adanya kelenjar palit dan kelenjar tubuler. Planum nasale sapi dan ruminansia kecil tidak berbulu dan mengandung kelenjar merokrin tubuler yang melembabkan permukaannya. Epidermis tebal dan menanduk dengan hebat. Penandukan yang hebat dari planumrostale babi mengandung banyak kelenjar merokrin ubuler dan ditutupi oleh rambut yang jarang. Rambut yang halus dan kelenjar palit menandai kulit yang tipis di sekitar lubang hidung kuda.
4. Meatus Akustikus Eksternus
Merupakan saluran yang menghubungkan antara lubang telinga dengan genderang telinga. Saluran ini dilapisi kulit dengan folikel rambut yang kecil, kelenjar palit dan kelenjar tubuler apokrin yang telah bermodifikasi (kelenjar seruminous) dijumpai disini. Dermis dari saluran ini bercampur dengan perikhondrium dan periosteuon tulang rawan dan penunjang telinga.
Kulit Ayam
Secara garis besar kulit ayam sama dengan mamalia, terdiri atas epidermis dan korium. Lapisan epidermis agak tipis hanyai beberapa lapis sel. Strtaum korneum jelas, papil tidak tampak . Korium terdiri atas dua bagian, bagian superfisial jalinan serabut kolagen lembut dan bagian profundal lebih kasar.
Sub kutis tebal dan banyak mengandung lemak, oleh sebab itu gampang digeser, sedangkan subkutis pada kaki tipis, karena kurang bertaut erat pada tulang kecuali bantalan kaki yang agak tebal dan padat dengan sel lemak dengan septa dan mengandung pembuluh darah.
2. Kelenjar Kulit
2.1 Glandula Surodifera
Dibedakan atas dua type yakni : bentuk merokrin dan bentuk apokrin
a. Bentuk Merokrin
Bentuk kelenjar ini lebih banyak terdapat pada kulit yang sedikit atau tidak terdapat rambut misal : telapak kaki. Lumen ujung kelenjar agak sempit dan epithelnya berbentuk kubis, sel epithel mengandung lemak, glikogen dan kadang pigmen. Pada ujung kelenjarnya terdapat mioepithel yang lebih jarang dari bentuk apokrin. Tempat bermuaranya pada permukaan kulit dan sekretanya lebih bersifat cair dari pada bentuk apokrin.
b. Bentuk Apokrin
Banyak tersebar pada permukaan tubuh hewan piara karena selalu berkaitan dnegan rambut. Disebut apokrin karena sebagian dari ujung kelenjarnya tampak lebih luas dari merokrin dan kutub bebasnya terlepas sebagai sekreta. Bentuk epithel silindris dan tergantung aktivitasnya keadaan mioepithel relatif lebih rapat.
Tipe apokrin berkembang baik pada mamalia. Glandula sudorifera tersebar hampir seluruh permukaan tubuh kecuali pada : gland penis, kulit dalam preputium dan membrana timpani. Kelenjar ini dilengkapi dengan sel mioepithel (Basket cells) yang terdapat diantara kutub basal epithel dan membran basal.
Kelenjar peluh menghasilkan peluh, berbentuk cairan dengan bau khas. Sekresi kelenjar merokrin ternyata lebih encer. Bau khas kelenjar apokrin pada hewan ada kaitannya dengan kehidupan seks dan daya tarik seks. Dalam kelenjar peluh terdapat ureum pada kuda menyebabkan terjadinya busa, garam NaCl, Kholesterin, asam urin dan lain-lain.
Kelenjar peluh pada berbagai hewan piara berbeda dalam beberapa aspek, kuda lebih cepat mengeluarkan peluh karena kelenjar merokrin relatif banyak, ruminansia besar agak kurang. Sedangkan kelenjar peluh pada anjing dan kucing bersifat rudimenter, karenanya apabila panas lidah menjulur keluar untuk mengatur suhu tubuhnya. Pada daerah tertentu suhu tubuh tampak subur, misalnya : didaerah ventral ekor pada domba, daerah puting susu pada babi dan daerah pinggir berambut. Pada manusia kelenjar merokrin tersebar seluruh tubuh sednagkan kelenjar apokrin terdapat didaerah aksilia. Kelenjar peluh sebenarnya adalah alat pembuang metabolit disamping sebagai termoregulator.
2.2 Glandula Sebasea
Disebut juga kelenjar palit, membentuk semacam lobulus yang memiliki membran basal. Alat penyalurnya terdiri atas sel epithel pipih atau kubis rendah selapis dan bermuara didaerah folikel. Cara rekresi kelenjar ini adalah holokrin, sel tua hancur dan menjadi sebum (minyak) yang berguna untuk meminyaki rambut atau bulu, sebum mengandung protein dan kholestrin. Bentuk kelenjar palit ini tergantung dari lebat atau jarangnya rambut, besar atau kecilnya rambut, jenis hewan dan daerah pada tubuh.
2.3 Glandula Mammaria
Kelenjar ini merupakan kumpulan kelenjar tubulo-alveolar, yakni modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar ambing ini terdiri atas : puting dan ambing.
Ambing disusun oleh : kapsula, jaringan ikat interstitial, epithel pansekresi dan sistem saluran pengeluaran. Penyebaran jaringan ikat dan parenkhim berfungsi dalam aktivitas sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai lebih banyak parenkhim dan sedikit jaringan ikat dan keadaan akan berbalik apabila kelenjar tidak berlaktasi. Dengan demikian struktur kelenjar ambing pada hewan dewasa yang inaktif (tidak menyusui) berbeda dengan yang aktif dan yang sama sekali belum beranak (dara).
Ciri khas kelenjar ambing masih aktif, ditandai dengan adanya benda kasein yang terdapat pada sisa alveoli, alat penyalur atau pada jaringan ikat bekas alveoli. Pengurangan ujung kelenjar secara progresif diimbali dengan terbentuknya jaringan ikat dan jaringan lemak. Pada permulaan laktasi dimulai dengan perkembangan ujung alat penyalur yang nantinya menumbuhkan ujung kelenjar (alveoli) yang diatur oleh pengaruh hormon progesteron selama proses kebuntingan.
Strukutur histologi kelenjar ambing sebagai berikut :
Ø Stroma : mencakup kapsula, septa dan jaringan interstitial atau interaveolar yang semuanya terdiri atas jaringan ikat sebagai kernagka / penunjang.
Ø Parenkhim : Mencakup ujung kelenjar yang berbentuk tubulu alveolar bercabang majemuk dan alat penyalur. Pada hewan muda yang belum beranak ujung kelenjarnya tidak / belum tampak yang nampak hanya alat penyalur dengan banyak jaringan ikat interstitial, bahkan tampak sel lemak. Pada lumen terdapat susu.
Alveoli
Epithelnya berbentuk kubis rendah atau silindris rendah pada yang aktif, jadi tergantung pada status fisiologinya. Pada permukaan epithel tampak mikrovili dan pada sitoplasma tampak benda golgi, butir lemak memiliki selaput ganda, protein. Pada susu sapi terdapat sekitar 3-4 %. Alveoli dikitari sel mio-epithelium.
Alat Penyalur
Satu atau dua alveoli sekreta dialirkan melalui duktus intralobularis, dengan epithel kubis yang kitari sel mio-epithelium. Epithel alat penyalur masih dapat bersekresi meskipun intensitastnya agak kurang. Pada saluran yang agak besar bentuk epithelnya kubis dua lapis dengan ada tanda bersekresi.
Sinus Laktiferus
Sinus ini merupakan penampung sekreta susu dari loburus atau lobus. Epitel silindris banyak baris dan dikitari oleh serbaut elastis dan otot polos. Sinus ini biasanya menjulur sampai daerah puting susu (Papilla mamae).
Puting Susu
Terdiri atas empat bagian yakni :
Ø Saluran puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis dan bertandu, selaput lendir membentuk lipatan dengan jaringan ikat sebagai tunika propriaa sub-mukosa. Kuda memiliki dua samapai empat buah, ruminansia satu, babi dua sampai tiga buah, kucing empat-tujuh, anjing delapan-20 buah dan manusia 13-24 buah.
Ø Sinus puting Susu : Epithel silindris atau kubis dua lapis, selaput lendir membentuk lipatan melingkar dan longitudinal, dengan jaringan limferetikular pada tunika propria.
Ø Stingter puting susu : otot polos yang tersusun melingkar antara propria sub-mukosa dan hipodermis, sering pula tampak otot yang tersusun memanjang.
Ø Kulit puting susu : Epithelnya pipih banyak lapis bertanduk, korium terdiri atas serabut kolagen pekat seperti kulit. Hipodermis relatif tipis.
2.4 Kelenjar Kulit Khusus
Kelenjar kulit khusus perlu kita kenali karena mempunyai peranan klinis yang cukup penting. Kelenjar tersebut antara lain :
a.Glandula Anales.
Pada babi sekreta bersilat mukus sedangkan pada anjing berbentuk lemak bermuara diluar zona kolumnaris ani didaerah zona intermedia. Pada daerah peralihan anus dan rektum babi dan karnivora membentuk zona kollmnaris ani dengan jaringan limfoid dan fleksus venosus.
b.Sinus Paranales (anal sac)
Terdapat pada ujung dinding lateral dubur, berbentuk kantong berisi sekreta mirip lemak berwarna kelabu dan busuk. Kantong ini mempunyai epithel pipih banyak lapis dan pada tunika propria terdapat kelenjar, folikel getah bening, otot polos dan jaringan pengisi yang bersifat fibroelastis.
c.Glandula circumanales
Kelenjar ini jelas terdapat pada anjing. Terdapat dua macam yakni superfisial berbentuk kelenjar palit dengan alat penyalur pada folikel rambut dan profundal bersifat non subaseus membentuk lobulus dengan sel poligonal, berinti pucat. Butir sekretanya mengandung protein yang nantinya membentuk sekreta bersifat mukus.
d.Glandula tarsalia (Kelenjar Meibom)
Terdapat pada kelopak mata yang lebih subur pada kelopak mata atas. Disekitar alat penyalur terdapat lobulus yang mengelompok menghasilkan sekreta berbentuk lemak didaerah pinggir palpebra yang berfungsi mengurangi pengeluaran air mata.
e.Glandula preputiales
Berbentuk kelenjar kulit pada bagian dalam prepusium. Kuda persebaran kelenjar ini berbentuk cincin. Pada babi terdapat sakus prepusialis yang memiliki papil dengan banyak folikel getah bening. Pada manusia kelenjar ini dikenal sebagai kelenjar Tyson yang menghasilkan smegma berbentuk keju.
f.Glandula uropigealis
Satu-satunya kelenjar kulit yang terdapat pada ayam (unggas), letaknya dibagian dorsal pada ruas ekor terakhir. Terdapat sepasang, pada unggas air pertumbuhan kelenjar ini lebih subur. Sekretanya berfungsi melicinkan bulu.
TURUNAN KULIT
3.1 Rambut
Merupakan serabut epidermis yang telah bermodifikasi. Rambut juga melakukan fungsi sebagai alat penutup, pelindung dan penerima rangsangan. Rambut berkembang sebagai penebalan setempat epidermis, selanjutnya mengadakan invaginasi kedalam lapisan jaringan ikat dan kemungkinan meluas sampai ke hypodermis.
Istilah rambut dan bulu untuk hewan memang sering dipakai tetapi istilah bulu dikhususkan untuk bangsa unggas. Hampir seluruh permukaan tubuh hewan dibungkus rambut, kecuali pada beberapa tempat tertentu, seperti : daerah moncong termasuk hidung, telapak kaki, daerah mukokuteneus.
Secara morfologis rambut terbagi atas :
Ø Batang rambut : Bagian rambut yang tampak dari luar, bertanduk dan berpigmen terdiri atas : kutikula rambut, berbentuk epithel pipih bertanduk dengan sisa inti yang tampak. Medulla : jumlah sel nya sedikit mengandung pigmen tapi banyak mengandung butir tikhohialin.
Ø Akar rambut dan Follikel rambut Follikel rambut merupakan invaginasi epidermis dan korium, dibagian tengah menjulur papil rambut dan dibedakan atas : Selubung akar dalam (kutikula, lapis huxley, lapis henle), Selubung akar luar, Lapis basal (Glassy membrane)
Ø Pada follikel rambut bertaut otot polos yang disebut “musculus arrectores pilorum” yang berfungsi menegakkan rambut atau bulu pada saat marah atau ketakutan (ayam dan angsa).
Rambut Sinus
Rambut sinus mirip dengan rambut biasa, hanya lebih besar dan folikel rambutnya terdapat anyaman pembuluh darah. Pada ungulata membentuk trabekula pada karnivora bentuk trabekula tidak tampak pada daerah superfisial sedangkan bagian propundal pembuluh darah sinus relatif kecil demikian juga pada babi.
Siklus Rambut
Dibedakan atas tiga tahapan yakni : anagen, katagen dan telogen. Anagen adalah periode dimana rambut telah tumbuh sempurna, yakni didahului dengan aktifitas mitosis sel kecambah dan sel kerucut rambut. Periode katagen ditandai dengan perubahan secara perlahan dalam kerucut rambut. Sel kecambah berkembang dibawah rambut, batang bentukkan ini menandai periode telogen yang mungkin bertahan selama beberapa minggu. Jadi mitosis yang berkelanjutan akan memanjangkan rambut.
3.2 Bulu
Bulu berasal dari epidermis dan mirip dengan rambut pada manusia, berkembang dalam folikel. Bulu dalam hal ini adalah bulu ayam. Bulu ayam hampir menutupi seluruh tubuh kecuali paruh, balung, pial dan kaki.
Pada ayam dikenal tiga yakni :
a. Bulu bentuk (contour feather) : Bulu elar (untuk terbang) Bulu ekor (mengatur keseimbangan waktu terbang / remics)
Remices primer : tumbuh dari daerah karpal dua, tiga dan digit.
Remices sekunder : tumbuh dari daerah sayap dan selebihnya.
b. Bulu bawah (plumae) : lebih kecil dan halus
c. Bulu halus (fitoplumae) : lebih halus dari plumae
Follikel bulu ayam menembus kulit secara miring, tertanam dalam sampai subkutis disebabkan karena bentuk bulu yang cukup besar.
Secara umum bagian bulu sebagai berikut :
a. Tangkai
Calamus : bersifat tembus cahaya dan berongga berisi udara
Rachys : merupakan axis dari vekillum
b. Sayap (Vexillum / vane) : berbentuk lamel yang langsing, tumbuh secara berpasangan dis : Barbs. Dari barbs tumbuh lamel berpasangan yang lebih halus dis : Barbules. Barbules yang keluar dari tiao barbs membentuk jalinan sehingga sayap cukup rapat dan elastis yang menguntungkan waktu terbang.
3.3 Kuku
Terutama untuk karnivora disebut : kuku, teracak untuk ruminansia dan sepatu kuku untuk kuda. Daerah kuku dikenal adanya epidermis (kuku sebenarnya), korium (pododerm) dan sub kutis.
Sayatan melintang dinding sepatu kuku dapat dibedakan atas :
a. Stratum tektorium : Merupakan ratis kuku yang paling luar dan tipis, bentuk sel sudah lenyap lebih-lebih pada kuku tua. Terdiri atas buluh tanduk yang masih lunak dan tidak berpigmen.
b. Stratum medium : Bagian kuku yang paling tebal, keras kuat karena padat. Didalamnya terdapat buluh tanduk yang mengandung bahan tanduk. Tiap buluh tanduk mengandung bagian korteks dan medulla. Stratum germinativum pada ujung dua papil didaerah kroon membentuk buluh tanduk, sedang selebihnya membentuk bahan tanduk intertubuler yang tumbuh kearah distal. Daerah ini berpigmen.
c. Stratum lamellatum : Pada kuku yang masih hidup dikenal adanya : lamel epidermal yang merupakan kuku sebenarnya dan lamel korium yang merupakan pododerm.
Pododerm
Struktur pododerm berbeda dengan korium kulit, karena pada pododerm terdapat pembuluh darah besar. Pododerm banyak mengandung serabut kolagen dan elastis juga terdapat stratum papilare dan stratum reticulare. Didaerah koroner korium paling tebal, sebaliknya dipinggiran tipis.
Pododerm daerah dinding kuku membentuk lamine coriales, primer dan sekunder. Di bagian depan lamine relatif lebih subur dibandingkan dengan daerah belakang.
Teracak
Pada teracak bulb dan frog tidak ada sedangkan sol sangat kecil. Laminae epidermal sekunder tidak ada, sednagkan yang primer panjang, langsing dan kadang bercabang. Sedangkan kuku untuk karnivora mempunyai dinding kuku bilateral pipih, dan daerah pertemuan dermis dan epidermis pada garis tengah agak lunak.
3.4 Tanduk
Merupakan penjuluran o. frontale yang disebut posessus kornualis, berongga dan berhubungan dengan sinus frontalis. Epidermis membentuk stratum kornium yang tebal yang selanjutnya membentuk horn sheats dan didaerah akar tanduk berbentuk epikeras. Epikeras terdiri atas bahan tanduk lunak homolog dengan periopel kuku, pada tanduk terdapat buluh halus yang dibagian tengah memiliki unsur medulla.
Pada tanduk sering tampak cincin tanduk yang sering dihubungkan dengan perubahan periodik pertumbuhan terutama : kerbau dan domba. Sedangkan sisik, paruh dan taji pada ayam secara garis besarnya memiliki struktur mirip kuku.
Perbaikan Kerusakan Kulit
Kulit merupakan subyek dari berbagai tipe luka atau kerusakan keutuhan anatomi abrasi, kontusio, laserasi punstio dan insisi. Perbaikan kulit merupakan hal yang komplek dan dinamis dan aktivitas selular diawali dari luka dan persambungan pada seluruh jaringan yang terluka. Walaupun perbaikan luka menggambarkan persambungan dari aktivitas sel secara keseluruhan, untuk membahas proses perbaikan ini dibagi atas beberapa tahap, yakni : perlukaan, induksi, inflamatori dan tahap maturasi.
Yang terlihat dalam perbaikan kulit adalah epidermis, dermis dan hypodermis. Kebanyakan proses abrasi ringan pada epidermis tanpa kerusakan dermis umumnya mampu diperbaiki melalui aktivitas mitosis stratum basale epidermis.
at 9:03 PM
0 comments
Friday, March 20, 2009
8. Histologi Sistem Genetalia
Posted by INK Bes
Sistem genitalia atau alat kelamin merupakan alat reproduksi yang memegang peranan penting dalam usaha mempertahankan eksistensi jenis hewan dengan cara berkembang biak. Dibedakan atas : sistema genitalia maskulin dan sistema genitalia feminin.
A. Sistem Genitalia Maskulina
Terdiri atas testis, alat penyalur, kelenjar asesorius, genitalia eksterna, Testis setelah mencapai umur dewasa dan dibawah pengaruh hormon gonadotropin hipophisa menghasilkan spermatozoa. Setelah kastrasi hewan menjadi impotent dan terjadi perubahan yang disebabkan hilangnya hormon testosteron dari testis.
1. TESTIS
Testis berupa glandula tubuler komplek yang dibungkus oleh kapsula fibrosa yang cukup tebal disebut : Tunika albuginea dan sebuah lapisan peritoneum Tunika vaginalis viseralis. Tunika vaginalis dibentuk oleh jaringan ikat kolagen yang miskin akan vasa darah dan elemen elastis, permukaan bebasnya tertutup mesothelium, sedangkan permukaan yang lain melekat pada tunika albuginea. Tunika albuginera sebaliknya kaya akan vaskularisasi, pada bagian tertentu yang disebut stratum vaskulare sangat kaya vaskularisasi.
Pada tempat melekatnya epididimis pada testis, tunika albuginea berhubungan dengan mediastinum testis, yaitu suatu tali jaringan ikat yang memanjang sepanjang axis memanjang dari testis. Pada karnivora dan babi melepas helaian jaringan ikat dan pada ruminansia tali jaringan ikat secara radier ke tunika albuginea, jaringan ikat tersebut disebut Septula testis, yang membagi testis menjadi lobuli testis yang berbentuk piramidal atau konus. Mediastinum testis mengandung labirinth, ruang yang lebarnya tak menentu berhubungan satu dengan yang lain disebut rete testis.
Pada jaringan interstitial disekitar tubulus seminiferus tidak ditemukan otot dan sperma di testis bersifat non motil. Gerakan mereka pada tubulus disebabkan oleh tekanan sekretorik dan tekanan internal dari testis, gerakan ini juga dibantu oleh cairan yang mungkin dihasilkan oleh sel sertoli.
Pada kuda tunika albuginea kaya akan serabut otot polos yang berasal dari m kremaster internus dan melanjutkan diri ke septula testis. Suatu mediastinum dari rete testis yang padat tidak ada tetapi seluruh testis dilintasi oleh septa tebal yang berhubungan satu dengan yang lain. Pada tali jaringan ikat yang tebal disamping vasa darah ditemukan pula duktus pengganti rete testis. Pada folus kranialis testis mereka berdekatan satu dengan yang lain dan melanjutkan diri ke duktuli efferentes.
Parenkim testis terdiri atas tubulus seminiferus, yang dibungkus jaringan ikat halus. Jaringan ikat interstitial kadang menunjukkan struktur/lamelar yang banyak mengandung vasa dan nervi. Sel interstitial yang diduga menghasilkan hormon testosteron ditemukan tunggal atau bergerombol. Sel ini ditemukan dalam jumlah yang besar pada babi dan kuda (sel interstitial).
Tubulus Seminiferus
Dinding tubulus seminiferus dibatasi oleh sel epithelium komplek yang terdiri atas 2 macam sel yaitu : Sel penyokong dan sel spermatogenik. Sel penyokong atau sel sustentakulum disebut juga sel sentroli, sedangkan sel spermatogenik ada beberapa tipe yang berbeda morfologinya antara lain : spermatogenia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa. Tiap sel sentroli melekat pada lamina basalis, sedangkan sel sprematogenik tersusun secara tradisional. Sel yang muda terletak dekat membrana basalis, semakin mendekati lumen, umur sel makin tua.
Sel Sertoli
Bentuk tinggi langsing seperti segitiga dengan basisnya melekat pada membrana basalis, ujungnya mencolok keluar, inti sel terletak pada basal. Struktur histologi menunjukkan adanya gambaran mitokhondria yang memanjang sejajar dengan axis panjang sel, fibril tetes lemak dan kadang ditemukan granula lipofasia. Dengan EM dapat ditemukan bangunan berupa kristal terbentuk kumparan yang disebut: Kristaloid Charcot Bottcher (sel sertoli manusia). Susunan kimia dan kegunaan fisiologi nya belum diketahui. Filament yang halus dan mikrotubulus yang tersusun sejajar dengan axis panjang sel sering dapat ditemukan, RER jarang tetapi SER ditemukan lebih banyak.
Sel sertoli melindungi sel sprematogenik yang sedang berkembang dan mungkin berperan penting dalam memberi nutrisi sel spermatogenik dan proses pelepasan spermatozoa yang sudah dewasa. Sel sertoli yang kelihatan mengalami mitosis, tetapi mereka lebih tahan terhadap panas, radiasi dan beberapa agen toksik yang mudah merusak sel spermatogenik.
Spermatogonia
Panjangnya bervariasi antara 50-75 m, terdiri atas caput dan kauda. Kauda sendiri terdiri atas neck (leher), middle piece (bagian tengah), principal (bagian pokok) dan end piece (bagian ujung). Pembagian nya didasarkan atas perbedaan diameter. Dengan mikroskop cahaya perbedaan struktur internanya tidak jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan struktur interna nya jelas, tetapi dengan EM terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Midle piece berbentuk silindris panjangnya lima sampai tujuh m, tebalnya mencapai 1 m. Bagian ini timbul dari polus pasterior dari caput yaitu pada bagian yang mempunyai struktur mirip dengan cincin Annulus. Principal piece panjangnya kira-kira 45 m dengan tebal 0,5 m, makin keujung makin mengecil membentuk end piece.
Spermatogonia terdapat diatas satu sampai dua lapis membran basal. Sel induk ini bersifat mitosis aktif, jadi sering terlihat bentuk pembelahan sel. Menurut penelitian dibedakan adanya spermatogonia tipe A dan B. Tipe A terdapat langsung pada membran basal dan tipe B diatas tipe A. Tipe A membelah secara mitosis menjadi tipe A dan tipe B, tipe B inilah yang menumbuhkan spermatosit primer.
Sel pada lapis berikutnya lebih besar diameternya, intinya lebih besar serta lebih banyak mengandung khromatin disebut : sprematosit primer. Selanjutnya sel ini mengalami meiosis dan pada pembelahan pertama menghasilkan sel yang lebih kecil disebut : spermatosit sekunder.
Umur sel tersebut pendek karena segera mengalami pembelahan kedua (mitosis) menjadi spermatid, dari satu sel spermatozoa menjadi empat spermatid yang secara morfologis identik, tetapi gen yang dikandung dapat berbeda. ukuran sel kecil inti miskin kromatin dan sentriole masih tampak. Dalam tahap spermatositogenesis, spermatid selanjutnya mengalami tahap transformasi, berubah dari bentuk sel menjadi spermatozoa yang memiliki kepala, leher, badan dan ekor. Spermatozoa yang berkembang ini tampak membenamkan kepalanya kedalam kutub bebas sel sertoli.
Tahap transformasi (spermiogenesisi) dikenal adanya 4 tahap yakni : Tahap golgi (golgi phase), tahap tudung (cop phase), tahap akrosom (acrosomal phase) dan tahap pemerahan (maturation phase).
Sel Interstitial
Parenkim testis yang terdiri atas tubuli seminiferi dibalut oleh jaringan ikat halus yang dikenal sebagai jaringan ikat interstitial. Didalamnya ditemukan pembuluh darah saraf, sel interstitial (sel leidig). Sel ini umumnya mengelompok dan mengitari pembuluh darah, terlihat jelas pada kuda dan babi. Bentuknya tidak teratur, berdiameter 10-15 m, inti besar, kromatin bulat dan nukleus jelas.
Dalam sitoplasma sering terdapat apparatus golgi, smooth E.R mitokhondria, butir-butir lipoid, kristal protein (kuda dan kucing) dan pigment. Pada manusia kristal tersebut cukup besar dan semakin tua semakin banyak jumlahnya.
Fungsi sel leidig menghasilkan hormon testosteron yang berfungsi :
Ø mengatur aktivitas kelenjar assesorius, terutama kelenjar prostat.
Ø Memelihara tanda khas jantan (secondary sex characteristics)
Ø Bersama dengan hormon FSH dan Hiphofisa mengatur aktivitas spermatogenesis.
Hormon LH atau ICSH mengatur aktivitas sel leidig pengaruh ini semakin jelas bila sekaligus ditambah dengan FSH. Di dalam tubuh hewan memang terjadi inter-relasi antara kelenjar endokrin tertentu dalam mengatur aktivitas alat reproduksi, misalnya kelenjar hipophisa, adrenal dan testis sendiri.
Pada kasus kastrasi (pengebirian) yang berarti menghentikan aktivitas testis, menyebabkan kelenjar asesorius mundur aktivitasnya, sifat khas jantan berangsur hilang dan kegiatan spermatogenesis berhenti. Hormon gonadotropin akan mengepul pada pars distalis hipofisa akibatnya sel basofil mengalami perubahan identitasnya selanjutnya dikenal dengan castration cells. Kastrasi yang dilakukan sebelum dewasa kelamin, tanda khas jantan tidak akan timbul. Bila kastrasi dilakukan setelah dewasa kelamin, maka perubahan kehilangan tanda khas jantan akan berlangsung secara lambat. Mungkin ini disebabkan karena korteks adrenalis dapat sedikit menghasilkan hormon testosteron. Tumor pada kelenjar prostat pada hewan tua, lazimnya diberikan terapi dengan melalui kastrasi.
Air mani sering disebut sperma atau semen, terdiri dari campuran spermatozoa dan sekresi kelenjar asesorius dan epididimis. Sekreta kelenjar selain sebagai pengangkut (vesicle), juga bekerja sebagai pembawa makanan serta mengaktifkan gerakan spermatozoa. Kandungan hialuronidase dalam air mani yang cukup tinggi diduga terdapat pada kepala dari spermatozoa, enzim mana yang diperlukan pada proses pembuahan, khususnya untuk merusak selaput sekunder dari ovum.
2. ALAT PENYALUR.
Alat penyalur spermatozoa dimulai dari : Tubuli rekti, Rete testis (terdapat dalam testis), Duktuli Efferentes Testis,Duktus epididimis (terdapat dalam epididimis), Duktus deferens, Urethra (pars pelvina dan pars penis).
a. Tubuli (seminiferi) rekti
Berupa saluran pendek yang terdapat pada lobuli testis, epithelnya kubis sebaris dan berdiri pada membran basal. Pada daerah peralihan antara tubuli rekti terdapat daerah dengan banyak modifikasi dari sel sertoli. Di daerah ini tidak lagi terdapat proses spermatogenesis.
b. Rete Testis
Berupa saluran atau rongga saling berhubungan dalam mediastinum testis. Saluran tersebut dibalut oleh epithel pipih selapis atau kubis rendah, sedangkan mediastinum testis merupakan kondensasi dari stroma testis yang mengandung pembuluh darah dan saraf. Otot polos belum terdapat pada mediastinum testis.
c. Duktuli Efferentes Testis
Pada kutub kranial mediastinum testis terdapat sekitar 6-12 saluran disebut : Duktuli efferentes testis. Saluran tersebut awalnya lurus tetapi setelah memasuki epididimis menjadi berkelok membentuk spiral. Daerah pemasukan dikenal dengan vascular cone yang menghadap testis dan merupakan caput epididimis (kuda) atau sebagian dari padanya pada hewan lain.
Duktuli efferentes memiliki epithel silindris sebaris dengan dua macam sel, yakni : sel basilia (kinocilia) dan sel tanpa silia dengan banyak butir sekreta di dalamnya, sel ini menunjukkan aktivitas bersekresi. Epithel berdiri pada membran basal, bagian yang telah ada dalam caput epididimis, mulai terdapat otot polos diluar membran basal. Sekreta dari sel tersebut diatas diduga berperanan dalam proses pendewasaan dari spermatozoa dalam epididimis.
d. Duktus Epididimis
Duktuli efferentes dalam epididimis secara perlahan memiliki epithel silindris banyak lapis bersilia (stereocilia), lumen semakin besar dan dinding semakin tebal dengan bertambahnya lapisan otot polos. Dalam epididimis saluran tersebut selanjutnya disebut : Duktus epididimis. Sel basal dari epithel banyak lapis mengandung butiran lemak (babi dan ruminansia), sedangkan sel atas silindris tinggi dengan stereosilia. Semakin menuju kauda epididimis, ukuran epithel semakin rendah, lumen semakin berkelok-kelok dan otot polos semakin tebal.
e. Epididimis
Sering disebut anak buah pelir, letaknya sangat berdekatan dengan testis. Secara anatomis terdiri atas caput, korpus dan kauda epididimis. Epididimis terdiri atas jaringan ikat mirip tunika albuginea sebagai stroma dengan mengandung otot polos (jelas pada kuda) didalamnya terdapat saluran yang merupakan parenkhim, yakni duktulis efferentes dan duktus epididimis.
Fungsi epididimis : Menyimpan sementara spermatozoa, khususnya didaerah kauda epididimis dan diduga disini terjadi proses pendewasaan. Gerakan spermatozoa mulai tampak, tapi dalam tubuli seminiferi jelas belum ada gerakan. Spermatozoa yang telah melalui epididimis memiliki potensi untuk membuahi ovum. Spermatozoa yang tidak melewatinya daya pembuahannya sangat kecil.
f. Duktus Deferens
Berupa saluran tunggal yang keluar dari kauda epididimis. Pada hewan besar saluran ini cukup panjang keluar dari epididimis membentuk Funikulus spermatikus (Spermatic cord) di daerah leher skrotum, selanjutnya masuk rongga perut menuju uretra dalam rongga pelvis.
Duktus deferens dibagi menjadi dua bagian, yakni : bagian yang tidak berkelenjar disebut : Duktus deferens dan bagian yang berkelenjar disebut : Ampulla. Selaput lendri membuat lipatan longitudinal, dengan epithel silindri sebaris atau dua baris, berdiri pada membran basal. Tunika propria terdiri dari jaringan ikat dengan banyak sel dan serabut elastis, bagian ini langsung bersatu dengan sub-mukosa dan keduanya disebut propria mukosa. Tunika muskularis cukup tebal, dengan bagian yang memanjang, melintang dan miring. Pada babi dan domba lapis sirkuler tebal terletak disebelah dalam sedangkan lapis memanjang tipis, tetapi pada sapi, kuda dan karnivora lapisan otot polos saling membuat anyaman, sehingga tidak membentuk strata yang jelas. Tunika adventitia atau serosa terdapat paling luar, pembuluh darah, saraf, jaringan limfoid dan otot polos sering tampak di bagian ini. Ampulla akan dibahas nanti pada kelenjar asesorius.
g. Funikulus Spermatikus
Bagian ini berbentuk buluh, dibalut oleh peritonium. Didalamnya terdapat duktus deferens, pembuluh darah, saraf dan berkas otot polos. Pada kasus pengebirian secara tertutup yang dirusak selain duktus deferens juga arteri (a. Spermatika). Pengebirian ini lazim dilakukan pada hewan besar (sapi atau kerbau) sebelum menginjak dewasa kelamin, sebagai ternak daging.
h. Uretra
Uretra hewan jantan cukup panjang, dibagi menurut letaknya, yakni : Uretra pars prostatika, uretra pars pelvina dan uretra pars penis. Jadi delaslah bahwa bangun uretra tergantung pada letaknya dalam tubuh, meskipun demikian terdapat bangun umum tetap.
Selaput lendir membuat lipatan memanjang, disusun atas epitelnya banyak lapis dan peralihan. Pada permukaan, epithel tidak teratur sering membentuk prosesus disebut Lakuna dari Morgagni. Pada tunika propria banyak terdapat pembuluh darah, khususnya pembuluh darah venosus yang membentuk korpus uretralis (kelenjar littre). Lapis paling luar adalah lapisan otot polos, diikuti otot kerangka dalam membentuk muskulus retralis.
Kolikulus seminalis adalah kelanjutan dari kresta uretralis yang terjadi dari vesika urinaria. Bagian ini merupakan tempat permuaraan duktus defferent dan vesika seminalis. Mukosa mirip dengan uretra, pada kucing dan babi sering terjadi gangglia di daerah ini. Uretra prostatikus atau uterus maskulina terdapat di daerah kolikus prostatikus atau uterus maskulinus terdapat di daerah kollikulus seminialis, sering tampak pada hewan piara, khususnya jelas pada hewan besar. Uritrikulus prostatikus merupakan ujung saluran Muller yang homolog dengan uterus dan vagina pada hewan besar.
Uretra pars penis berbeda dengan uretra pars pelvina, yakni lebih sedikit mengandung kelenjar tetapi banyak mengandung serabut erektil. Di luar lapisan otot terdapat tunika albuginea yang merupakan suatu jaringan ikat fibrus banyak mengandung serabut elastis, khususnya pada penis tipe kaverneus.
3. Kelenjar Asesorius (Glandula genitales asesorius)
Kelenjar asesorius pada hewan jantan memiliki ciri umum :
Ø Kelenjar bermuara pada uretra
Ø Pada stroma (kapsula jaringan ikat interstitial, trabekula, septa) sering terdapat otot polos, kontraksi otot tersebut dapat mendorong skreta, khususnya pada proses ejakulasi.
Ø Kelenjar berbentuk tubulus bercabang dengan lobulasi cukup jelas. Ada bagian ujung kelenjar yang meluas membentuk sinus koligentes sebagai penampang sekreta.
Ini sekedar ciri umum, sudah tentu terdapat beberapa perbedaan untuk setiap jenis hewan. Keempat kelenjar assesorius tidak semuanya terdapat pada setiap hewan jantan, kalaupun ada pertumbuhannya tidak selalu subur.
Keempat kelenjar asesorius tersebut adalah :
a. Ampula (ampula duktus defrentis)
b. Kelenjar vesibulares (glandula vesikulares)
c. Kelenjar prostat (glandula prostat)
d. Kelenjar bulbo-uretralis (glandula bulbo-uretralis)
Hormon testosteron sangat berpengaruh terhadap kesuburan kelenjar asesorius dan ciri khas kelamin jantan (secondary sex characteristic). Kastratsi sebelum datangnya dewasa kelamin menyebabkan perkembangannya kelenjar tersebut berhenti, sedangkan kastrasi pada umur dewasa menyebabkan kemunduran secara bertahap kelenjar asesorius. Secara histologi telah dibuktikan bahwa sel kelenjar mengecil dan aktivitas bersekresi mundur. Selanjutnya parenkim kelenjar mengalami involusi dan digantikan dengan jaringan ikat.
a. Ampula.
Kelenjar ampula anjing menjulur sampai permulaan dari uretra, kucing tidak memiliki ampula. Diantara hewan besar seperti babi memiliki ampula paling kecil, kelenjarnya sedikit dan terbesar pada dindingnya. Sapi, kerbau, domba dan kuda pertumbuhan ampula cukup subur.
Struktur histologi ampula ditandai dengan menebalnya selaput lendir (mukosa) disebabkan adanya kelenjar. Kedua ampula melewati bagian ventral dari korpus prostat dan bersama dengan glandula vesikulares bermuara kedalam uretra pada kolikulus seminalis.
Kelenjar bersifat tubulus bercabang, mirip dengan glandula vesikulares dengan ujung kelenjar yang meluas mirip suatu kantong. Epithelnya berbentuk silindris sebaris, tinggi rendahnya epithel tergantung dari aktivitas kelenjar tersebut. Dalam lumen kelenjar sering tampak spermatozoa (slides), bahkan sering dilaporkan adanya konkremen yang dapat berkapur (kuda dan ruminansia). Kelenjarnya tidak memiliki saluran yang jelas sehingga ujung kelenjar tampak langsung berhubungan dengan lumen dari ampula.
Tunika muskularis tersusun secara sirkuler dan longitudinal, dimana pada ruminansia saling beranastomose, lapis paling luar adalah tunia adventitia atau serosa.
b.Glandula vesikulares
Glandula ini jumlahnya sepasang, pada sapi cukup subur dan membentuk lobulasi yang jelas. Pada kuda dan manusia berbentuk memanjang dan mengantong. Babi, domba dan kambing pertumbuhan glandulanya cukup baik. Tetapi anjing dan kucing tidak memiliki glandula vesikulares. Pada sapi saluran glandula tersebut bersatu dengan saluran ampula membentuk kedua Ostea ejakulatoria yang bermuara kedalam uretra. Bentuk uretra ini bisa berbeda antara jenis hewan satu dengan yang lainnya.
Struktur histologi glandula, terbagi dalam lobulus, dipisahkan satu dengan yang lain dengan trabekula atau septa yang mengandung otot polos, pada ruminansia septa cukup tebal. Dalam tiap lobulus terdapat ujung glandula yang paling luas lumennya, sebagai penampung sekreta disebut Sinus Colligentes. Epithel dari ujung kelenjar berbentuk silindris sebaris, tetapi bagi saluran yang cukup besar dan terdapat diluar lobulus, epithelnya banyak lapis. Pada lumen ujung glandula, khususnya sinus koligentes sering terlihat spermatozoa maupun kristal.
c. Glandula prostat.
Glandula ini jumlahnya sebuah, terletak pada pangkal uretra di daerah leher vesika urinaria. Pada berbagai hewan piara bentuknya tidak sama, secara umum terdapat bagian yang disebut : Corpus prostate dan Pars dissiminata prostate atau pars dissiminata. Istilah korpus prostata hanya tepat untuk babi dan sapi bukan domba dan kambing. Korpus ini kecil posisinya dorsal dari uretra dekat vesikula urinaria.
Pars disiminata prostata praktis terdapat pada semua hewan piara kecuali kuda, terdiri atas lobus dekstra dan sinistra dan istmus. Pada ruminansia terdiri atas pars disminata, glandulanya tersebar hampir sepanjang pars uretra dan pars pelvina. Pada kuda dan karnivora korpus prostata besar dengan glandula yang subur, sebaliknya pars disminata sedikit dan tersebar sebagai kelenjar littre. Pada anjing glandula prostat mengelilingi permulaan uretra. Hewan yang memiliki pars disminata yang subur, kelenjarnya dibalut oleh muskulus uretralis yang terdiri atas otot kerangka kecuali daerah ujung kranial dari korpus prostata.
Struktur histologi parenkhim glandula berbentuk tubulus majemuk. Stroma yang terdiri dari kapsula, trabekula dan jaringan interstitial mengandung otot polos. Epithel berbentuk silindris rendah tergantung pada aktivitas kelenjarnya dan didalamnya banyak terdapat butir sekreta. Intersellulaer skretorikanalikuli sering tampak pada sapi dan kuda. Sekresi kelenjar bersifat apokrin adakalanya epithel terlepas bersama bercampur dengan sekreta, yang diduga menyebabkan terjadinya konrement dalam lumen sinus koligentus disebut Korpura amilasea (sympexionen), pada babi yang sudah tua sering ditemukan.
Pada rodensia sekreta kelenjar protat dan kelenjar cowper dapat merupakan penyumbat servik, khususnya bila fertilisasi telah terjadi. Mukus tersebut dapat menetralkan asam susu yang terdapat dalam vagina. Pada hewan piara sekreta yang bersifat encer dari glandula prostat dapat menaikkan motilitas dari spermatozoa.
d. Kelenjar Cowper (glandula bubo-uretralis)
Kelenjar cowper ini jumlahnya sepasang, terdapat pada semua hewan piara kecuali anjing. Kapsula bersifat fibrous murni pada sapi tetapi pada hewan lain mengandung otot polos. Jaringan ikat interlobuler yang membagi kelenjar menjadi beberapa lobulus mengandung otot polos. Hanya pada kuda disusun atas otot kerangka, di luar kapsula jelas terdapat otot kerangka.
Epithel kelenjar berbentuk silindris rendah, lumen ujung glandulanya besar, aspeknya mukeus dengan ujung kelenjar ada yang serous, perimbangannya tergantung jenis hewannya. Pada setiap lobulus terdapat sinus kelenjar sebagai penampung sekreta. Babi lumen ujung glandulanya meluas dengan sekreta kental, penting untuk memperkental air mani setelah ejakulasi. Sekreta kelenjar cowper bermuara kedalam uretra dan dianggap sebagai pembersih (lubrikan) uretra sebelum air mani lewat. pH sekitar 7,5-8,2 pada ejakulasi tak sempurna air mani sapi tak mengandung spermatozoa, cairan mana berasal dari kelenjar cowper dan mungkin sebagian dari prostat.
4. GENITALIA EKSTERNA
4.1 Penis
Penis dapat dibagi atas korpus dan glans. Korpus penis terdiri atas : Jaringan erektil korpus kavernosum penis, uretra yang dikelilingi oleh korpus kavernosum uretrae, muskuli bulbo-kavernosus dan retraktor penis. Ujung penis disebut gland penis, dimana pada beberapa spesies tidak begitu jelas.
Corpus Penis
Uretra dengan korpus karvenosum sudah dijelaskan diatas, korpus kavernosum yang membentuk korpus terdiri atas : Kapsula yang disebut tunika albuginea, berupa membran tebal terdiri atas jaringan ikat kolagen padat dan serabut elastis. Dari tunika albuginea dilepaskan trabekula yang berhubungan satu sama lain. Trabekula membentuk septum mediastinum yang hanya ditemukan pada radiks penis dari ruminansia dan babi, tetapi pada anjing ditemukan seluruh korpus. Pada kuda dan anjing septum tersebut tidak kontinyu, diantara trabekula terdapat jaringan erektil yang sebenarnya. Ini terdiri atas jala, lamela dan pita yang melanjut ke trabekula dan tunika albuginea dan ruang yang berukuran bervariasi dan berhubungan satu dengan yang lain disebut : Kaverna. Ruang ini terutama berjalan secara longitudinal (kecuali pada anjing) dan terbesar serta terbanyak pada kurra, di luar endothelium, dinding kaverna hanya dibentuk jala inter-kavernosa yang memuat vasa dan nervi. Pada ruminansia dan babi terdiri atas jaringan fibro-elastis, otot polos (anjing dan kuda). dan korpusadiposum yang tersebar. Pada bagian distal dan insertio m. Iskhiokavernosus, korpus kavernosum sapi mempunyai jaringan fibrosa dan berfungsi untuk membuat penis lebih kaku.
Vasa Darah
Pada manusia dan kuda terdapat jala kapiler pleksus korteks superfisial langsung dibawah tunika albuginea. Ini berhubungan dengan pleksus vena korteks profundal yang berhubungan dengan ruang kaverna dan jaringan erektil. Aliran darah arterial terutama berasal dari arteria provunda-penis yang masuk krura. Cabang dari arteria dorsalis menembus tunika albuginea. Arteri ini berjalan sepanjang trabekula melintasi sepanjang jaringan erektil. Berupa cabang memberikan kapiler ke albuginea dan trabekula sedang yang lain membentuk kapiler pada superfisial, cabang arteri yang lain berakhir pada pleksus profundal atau kelubang kaverna secara langsung.
Arteri helisina membentuk cabang dan berkelompok dua sampai sepuluh, selanjutnya dibungkus dalam berkas oleh jaringan ikat, berjalan berkelok, dindingnya mengandung berkas otot polos longitudinal hingga arteri mempunyai penebalan seperti bantal. Ruang kaverna dan pleksus venosus yang provundal di aliri darah dari vena profunda penis dan vena dorsalis penis dan vena bulbo-uretralis.
Mekanisme Ereksi
Adanya perasaan erotik maka saraf parasimpatis terpacu dan menyebabkan relaksasi otot polos pada arteri dan korpus kavernosum, akibatnya darah mengalir ke arteri dan teregang, ruang kaverna terisi darah arterial dan ruangan membesar. Pembesaran ruangan ini menyebabkan vena besar yang berdinding tipis tergencet hingga darah sulit meninggalkan melalui vena. Darah yang mengumpul di korpus kavernosum dengan tekanan yang makin meninggi dan menyebabkan organ mengeras. Pada saat ini a.helisina yang jalannya bekelok-kelok, secara pasif teregang dan menjadi lurus.
Setelah ejakulasi pengaruh saraf simpatis lebih dominan dan otot polos kembali pada tonusnya, aliran darah normal kembali, darah yang tertinggal dalam korpus kavernosum tertekan masuk kedalam vena karena kontraksi otot polos trabekula dan kerutan kembali jaringan elastis. Penis kembali kebentuk yang normal.
Glans Penis
Kaya akan vaskularisasi dan beberapa spesies mempunyai bangunan erektil yang sebenarnya dan membentuk bangunan yang melebar disebut : Glans penis, bangunan ini hanya jelas pada manusia, kuda dan anjing. Pada anjing glans penis merupakan bangunan erektil yang pokok. Glans tertutup oleh preposium, preposium terbungkus oleh kulit, kaya akan nervi dan ujung saraf.
Jaringan erektil glans terpisah dari korpus kavernosum penis, kecuali pada babi. Jaringan ererktil ini berhubungan dengan korvus kavernosum-uretrae. Bulbus glandis anjing adalah suatu korvus kavernosum yang tebal, kaya jaringan elastis dan serabut otot. Pada karnivora glans membungkus os. penis, membentuk sebagai jaringan tulang pada ujung korvus kavernosum penis. Pada kuda, kambing dan biri-biri uretra muncul dari ujung penis membentuk prosessus uretralis dan terbungkus jaringan kaverna yang tipis. Pada kuda bagian ini kaya jaringan limfatik. Pada kucing sarung kulit glans mempunyai spina kecil dan mengalami kornifikasi pada ujungnya. Kuda dan anjing juga ada tetapi lebih kecil.
4.2 Prepusium
Prepusium terdiri atas dua bagian yakni : Bagian exsternal yang merupakan kelanjutan dari kulit abdomen disebut : Pars parietalis dan pars viseralis, keduanya bertemu pada orifisium preputi. Pars parietalis terlipat kedalam dan ke muka pada forniks dan menutup ujung penis sebagai pars viseralis.
Pars eksterna mempunyai struktur sama dengan kulit, banyaknya rambut bervariasi tergantung spesies hewannya. Pars parietalis dihubungkan dengan lapisan luar dengan jaringan ikat yang banyak mengandung pembuluh darah dan otot polos yang berasal dari tunika dartos skroti dan berkas otot serat lintang (kecuali kuda dan anjing). Rambut dan kelenjar kulit hanya terdapat sedikit pada orifisium preputi. Glandula sebasea lebih banyak bermuara pada permukaan tidak pada polikel rambut.
Pada fornik terdapat evaginasi kulit, nodulus limfatikus terdapat lapisan parietal dari babi dan biri-biri, fornik sapi, anjing babi dan lapisan yang menutup glans penis sapi. Ujung saraf berupa bulbus terminalis dan korpus-ulum genitale terdapat lapisan viseral preputium semua hewan. Pada kucing terdapat juga korpus-kulum pasini.
4.3 Skrotum.
Terdiri atas integumentum kommunis dan tunika dartos. Kulit skrotum lebih tipis, rambut lebih sedikit dan kaya akan glandula. Terdapat glandula sebasea dan glandula kulit tubuler. Babi hanya berlandula kecil dan sedikit, dibagian dalam kulit skrotum melekat ke tunika dartos dengan perantara jaringan ikat longgar. Tunika dartos terdiri atas berkas otot polos yang arahnya tidak teratur serta serabut kolagen dan elasti. Pada babi ditemukan jaringan lemak, septum skroti dibentuk oleh berkas serabut otot.
B. Organa Genitalia Feminina
Alat reproduksi hewan betina terdiri dari :
1. Ovarium (alat kelamin primer)
2. Alat penyalur terdiri atas : Tuba fallopii dan fimbrie, Uterus, Serviks dan Vagina
3. Alat kelamin luar (genitalia eksterna) : Vestibulum, Labia-vulva dan Klitoris
1. OVARIUM
Jumlahnya sepasang, berada dalam rongga tubuh yang ditunjang oleh alat penggantung (mesovarium). Ukuran serta bentuk ovaria pada hewan muda dengan yang dewasa menunjukkan perbedaan yang sangat jelas. Ovaria dapat dianggap sebagai kelenjar ganda, yakni : Kelenjar eksokrin karena menghasilkan ova, dan kelenjar endokrin karena pada periode tertentu menghasilkan hormon estrogen (folikel the graaf) progesteron (korpus luteum) dan relaksin (korpus luteum).
Struktur histologi bangun ovaria dewasa berubah-ubah tergantung pada siklus kelamin, tetapi bangun umum pada mamalia secara garis besarnya hampir sama, sedangkan pada kuda dan ayam agak menyimpang. Begitu pula bangun ovaria muda dan dewasa juga berbeda.
Strukutur histologi nya sebagai berikut :
Kapsula :
Ø Epithel kecambah (germinal epithelium). Pada hewan muda bangun epithel kubis atau silindris rendah tapi pada yang dewasa kubis rendah. Hampir seluruh permukaan ovaria dibalut oleh epithel kecambah, kecuali daerah hilus ovari yang dibalut oleh peritoneum. Pada kuda sebagian besar ovarium dibalut oleh peritoneum, hanya sebagian kecil disebut ovulation fossa dibalut oleh epithel kecambah.
Ø Tunika albuginea, disusun atas jaringan ikat kolagen tanpa serabut elastis dan retikuler, sedikit mengandung sel, letaknya langsung dibawah epithel kecambah.
Korteks :
Ø Disebut juga Korteks ovarii atau Zona parenchymatosa, letaknya dibagian perifer ovarium langsung dibawah tunika albuginea, kecuali pada kuda yang terletak di sebelah bagian dalamnya. Pada korteks terdapat stroma kortikalis dan parenkhim yang terdiri dari folikel pada berbagai stadia.
Ø Stroma kortikalis terdiri atas jaringan ikat yang banyak mengandung sel bebas serabut elastis. Serabut kolagen dan retikuler terdapat didalamnya. Sel stroma yang tersebar dan saling mengelompok, diduga bukan fibroblast melainkan sel khusus disebut sel interstitial. Sel tersebut mudah berdiferensiasi, prolifrasi dan menyimpan bahan lemak serta zat warna. Dalam keadaan darurat mampu berubah menjadi makrofag, ataupun menjadi sel glandula, misal pada teka interna dan korpus luteum.
Ø Pada hewan betina sel interstitial terlebih dahulu berdifrensiasi dan baru bersekresi. Stroma ovarii pada kuda sering mengandung sel berpigmen, tetapi semakin tua hewan semakin sedikit selnya. Pada stroma kortikalis tersebar follikel yang pada hewan dewasa terdapat pada berbagai stadia. Pada hewan multipara (anjing, kucing dan babi) follikel sering mengelompok, tetapi pada unipara (kuda, sapi dan kerbau) tersebar secara merata.
Penelitian yang dilakukan pada anjing menunjukkan bahwa pembentukan follikel berlangsung hampir sepanjang hidupnya, melalui invaginasi epithel kecambah menembus tunika albuginea.
Folikel primordial
Pada hewan yang baru lahir folikel seluruhnya adalah folikel premordial. Folikel yang belum memasuki siklus pada hewan dewasa sering disebut folikel premordial juga, untuk membedakan dengan folikel primer yang telah memasuki siklus. Folikel ini terdiri dari sel telur (oogonium) membran basal yang cukup tipis dan sel folikel (sel granulosa) berbentuk pipih selapis. Membran basal merupakan batas antara folikel dengan stroma kortikalis. Diameter oogonium 30-50 m, inti besar, aparatus golgi, mitokhondria dan endoplasmik retikulum yang jelas.
Folikel primer
Folikel ini telah memasuki siklus, dan dibawah pengaruh hormon FSH dari hiphofisa terjadi proses pertumbuhan. Pembesaran diameter dari seluruh komponen folikel disebabkan oleh perubahan pada : Sel telur yang membesar karena intinya sedikit membesar akibat kromatin bertambah, sitoplasma khususnya kuning telur (para plasma) bertambah secara bertahap sel telur yang sedang berkembang ini disebut oosit primer.
Ø Sel-sel follikel turut berkembang yang tadinya berbentuk pipih selapis, berubah menjadi kubis sebaris.
Ø Membran basal masih tetap tipis.
Folikel Sekunder
Periode ini disebut Growing follicle dibedakan tiga stadium, yakni :
1.Stadium permulaan
Oosit primer terus berkembang, sel folikel mulai berkembang biak sehingga tampak dua lapis. Di luar selaput vitelin mulai terjadi zona pelusida yang dihasilkan oleh sel folikel. Di sebelah dalam selaput vitelin kuning telur bertambah banyak, membran basal sedikit menebal. Penambahan diameter keseluruhan follikel, demikian juga oosit primer.
2.Stadium pertengahan
Perkembangan oosit primer terus berjalan, dengan bertambahnya kuning telur posisi inti yang sentris mulai bergeser agak ke tepi. Zona pelusida agak menebal dan sel folikel berlapis mencapai tiga sampai enam lapis. Membran basal agak menebal.
3.Stadium akhir
Perkembangan oosit primer berakhir, zona pelusida tebal. Sel follkel yang ada ditengah mulai tampak tanda degenerasi yang berakhir dengan hancur (lisis) sehingga terbentuk rongga sebagai permulaan dari antrum folikuli.
Folikel Tertier
Seperti halnya dengan follikel sekunder, stadium ini dibagi dalam 3 sub stadium :
1.Stadium permulaan
Perkembangan oosit primer telah berhenti, zona pellusia sudah cukup tebal. Sel-sel follikel yang mengitari zona pellusida mulai teratr letaknya. Pada waktu yang bersamaan sel follikel yang terdapat ditengah berdegenerasi, handur dan membentuk antrum follikuli yang baru. Antrum follikuli yang telah terbentuk mulai meluas dan berisi cairan Liquor follikuli. Membran basal tetap ada, sel-sel stroma diluar membran basal berdiferensiasi menjadi sel-sel theca folliculi.
2.Stadium pertengahan
Pada stadium ini diduga oosit primer telah memasuki stadium pemasukan pertama dan mengeluarkan benda kutub (polosit) pertama. Dengan demikian sel telur disebut oosit sekunder. Sel folikel yang langsung mengelilingi zona pelusida telah teratur letaknya disebut : Corona radiata. Diluar corona radiata, sel folikel selanjutnya disebut sel granulosa, membentuk dinding antrum folikuli. Dengan bergabungnya antrum folikuli dan bertambahnya liquor folikuli maka posisi sel telur terhadap folikel jadi semakin eksentris. Pertautan sel telur dengan dinding folikel berlangsung melalui susunan sel granulosa berbentuk tangkai disebut : Kumulus ooforus. Pada mamalia lazimnya hanya sebuah tetapi pada kelinci terdapat beberapa buah disebut : Retinakulum. Membran basal yang memisahkan sel granulosa dan sel teka folikuli, selanjutnya disebut: Membran skhalavianski. Teka foliculi terdiri atas : Teka interna dan teka eksterna. Teka interna terdiri disusun oleh jaringan ikat dengan sel epitheloid mengandung butiran didalamnya, diduga menjadi sumber hormon estrogen. Pembuluh darah banyak terdapat didalamnya berbentuk kapiler. Sebagian dari hormon estrogen memasuki pembuluh darah dan sebagian lain menembus sel jaringan ikat dengan sel memanjang mengelilingi folikel. Perubahan teka eksterna dengan stroma kortikalispun tidak jelas.
3.Stadium terakhir
Stadium ini sering dikenal sebagai : Folikel renier de graaf suatu folikel yang sudah siap mengalami ovulasi. Keadaannya hampir sama dengan substadium sebelumnya, hanya pada yang terakhir ini terdapat adanya stigma, berupa dinding folikel yang paling tipis yang nantinya akan pecah dan merupakan jalan keluar bagi oosit sekunder.
Follikel atretis (Korpora atretika)
Selama folikel primordial berkembang menjadi folikel de graaf banyak mengalami kematian. Kematian folikel pada berbagai stadia dimulai dengan degenerasi pada oosit yang disusul dengan sel granulosa. Sebaliknya sel teka ber frolifrasi menyerap sisa folikel dan selanjutnya mengisinya. Proses atresia berbeda untuk tiap jenis hewan. Secara mikroskopis tampak adanya masa sel yang mengandung lemak diantara folikel pada stroma ovari. Kasus atresia pada stadium muda lebih mudah lenyap dari pada stadium lanjut yang biasa memakan waktu agak lama. Ovulasi adalah: Peristiwa pecahnya folikel de graaf dan terlemparnya ovum dari ovarium. Oosit sekunder yang terlempar keluar selanjutnya ditangkap oleh fimbriae dari tuba falopii, kemudian menuju uterus.
Korpus Luteum
Korpus luteum (Yellow body) mulai terbentuk setelah folikel mengalami ovulasi, pembentukan ini berlangsung terus sampai sempurna, apabila terjadi kebuntingan (korpus luteum gravidiatatum), tetapi apabila tidak terjadi pembuahan pembentukan korpus luteum terhenti, sehingga terjadi korpus albikans atau korpus fibrosum, Korpus luteum periodikum albikans adalah bentuk degenerasi dari korpus luteum yang fungsional. Letaknya lebih dalam dan ukurannya besar, sehingga hilangnya lambat. Sel luteum masih tampak meskipun sedikit dengan butir sekreta didalamnya. Warna kuning disebabkan oleh adanya pigmen lutein yang terkandung dalam sel pembentuk parenkhim. Lutein terdapat pada korpus luteum kuda, sapi, karnivora dan manusia. Pada domba, kambing dan babi pigmen lutein tidak ada sehingga warna korpus luteum jadi putih kelabu. Korpus luteum tergolong kelenjar endokrin dan menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi memelihara kelangsungan kebuntingan.
Medula ovari
Sering disebut : Zona vaskulosa, karena banyak mengandung pembuluh darah. Stroma ovari di daerah medula berubah menjadi jaringan ikat fibro-elastis yang banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, terdapat pula otot polos yang berhubungan dengan muskulator dari ligamentum suspensorium. Adanya sel interstitial pada kucing dan rodensia diduga menghasilkan hormon ovarium. Didaerah pertautan mesobarium dilaporkan adanya sel yang mirip dengan sel interstitial hewan jantang yang disebut : Sel hilus yang menghasilkan androgen. Pada karnivora dan ruminansia dekat mesovarium sering terlihat sisa dari rete ovari, sisa mesonefros yakni efooforon dan parooforon. Sisa mesonefros tersebut berbentuk saluran berliku-liku dengan ujung yang buntu. Epithelnya pipih selapis, pada epooforon silindris bersilia keduanya kadang membentuk kista.
2. ALAT PENYALUR
2.1 Tuba Uterina (Salping, tuba falopii, oviduktus)
Pada mammalia terdapat sepasang yang berfungsi sebagai : Menangkap oosit sekunder yang diovulasikan (oleh fimbriae), memberi lingkungan yang baik untuk pembuahan dan menyalurkan oosit sekunder atau embrio menuju uterus.
Secara morfologis dibagi menjadi : Infundibulum dan fimbriae, ampulla dan istmus. Bangun umum ketiga daerahnya hampir sama hanya berbeda dalam struktur selaput lendirnya serta ketebalan lapisan otot.
Mukosa daerah ampula membentuk lipatan komplek dengan adanya lipatan primer, sekunder dan tertier. Semakin menuju uterus bentuk lipatan semakin sederhana dan rendah. Lamina epitelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, kecuali pada ruminansia dan babi yang memiliki daerah epitel silindris banyak baris.
Pada epitel terdapat dua macam sel yang berbeda, yakni : Sel yang memiliki silia yang aktif bergetar menjelang oosit lewat. Tipe sel ini menjamin kelancaran transport oosit embrio menuju uterus. Sel tanpa silia banyak mengandung butir sekreta didalamnya, diduga menghasilkan sekreta yang bersifat nutritif bagi embrio. Aktivitas epithel ini ternyata sejalan dengan aktivitas seluruh saluran kelamin meskipun tidak sehebat uterus. Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak sel dan serabut retikuler. Serabut otot polos sering tampak didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar berbatasan langsung dengan mukosa sebab muskularis mukosa tidak ada.
Tunika muskularis pada lapis dalamnya tersusun melingkar dan lapis luarnya longitudinal. Diantaranya terdapat jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah yang dikenal sebagai stratum vaskulare. Pada bibir infundibulum atau fibriae otot polos hampir tidak tampak atau hanya soliter. Semakin menuju uterus lapis otot polos semakin jelas bahkan membentuk dua lapis yang berbeda susunannya.
Tunika muskularis dengan gerakan peristaltiknya bertugas mendorong oosit atau embrio menuju uterus. Serosa terdiri dari mesothelium dan subserosa. Serosa ini merupakan kelanjutan dari serosa yang membalut alat penggantung tuba uterina (mesosalpinx).
2.2 Uterus (= Rahim)
Bentuk uterus pada berbagai hewan piara tidak sama, hal ini berhubungan dengan perkembangan embriologi. Perbedaannya terletak pada derajat penyatuan bagian kaudal buluh Muller. Secara umum uterus dibagi dalam 4 bagian yaitu :
Ø Uterus simplex : uterus hanya satu, ditemukan pada primata (bangsa kera) termasuk manusia.
Ø Uterus dupleks (uterus bipartius) : tipe ini memiliki dua uterus yang terpisah, sehingga memiliki dua serviks yang masing-masing bermuara kedalam uterus. Tipe ini terdapat pada rodentia seperti : kelinci dan marmut.
Ø Uterus Bipartius : mempunyai dua buah kornu yang panjang, yang bersatu di daerah istmus dekat servik, kemudian bermuara pada vagina tunggal. Tipe ini terdapat pada : karnivora dan babi.
Ø Uterus Bikornis : Kornua uteri yang tidak begitu panjang, karena penyatuan korpus uteri berlangsung agak jauh dari servik. Servik hanya sebuah dan bermuara kedalam vagina. Tipe ini terdapat pada : kuda dan ruminansia.
Struktur histologi :
a. Endometrium
Istilah yang diberikan untuk mukosa dan submukosa, karena muskularis mukosa memang tidak ada. Lamina epithelialis terdiri atas epitel silindris sebaris, pada babi dan ruminansia sering tampak adanya bentuk epithel silindris banyak baris.
Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang hanya mengandung sel disebut Stratum selulare, dibawahnya terdapat lapis jaringan ikat longgar dengan sedikit sel disebut : Zona spongiosa. Pada waktu birahi (estrus) zona spongiosa mengandung banyak cairan sehingga menggembung (edematus), sebaliknya setelah estrus pada ruminansia besar dan anjing sering terjadi perdarahan kecil dan berakhir pada diestrus.
b. Karunkula (carunculae)
Merupakan penonjolan endometrium, bersifat bebas kelenjar dan banyak mengandung sel jaringan ikat dan pembuluh darah. Dengan pewarnaan HE daerah ini kuat mengambil zat warna sehingga tampak jelas. Pada uterus yang tidak bunting karunkula ini kecil, tapi pada yang bunting sangat membesar, bahkan pada sapi dapat sebesar ketan, jumlahnya tidak tentu, berkisar antara 60-120 buah. Pada uterus bunting khorion melekat bahkan membenamkan vili kedalamnya.
Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan sedikit sel jadi jelas dapat dibedakan dengan tunika propria. Sebagian besar kelenjar dari uterus (glandula uterina) terdapat dalam submukosa khsusnya ujung kelenjar, sebagian alat penyalurnya terdapat pada tunika propria. Bangun kelenjarnya adalah tubulus sederhana dengan ujung kelenjar menggulung, keadaan kelenjar sangat dipengaruhi oleh siklus kelamin.
c. Myometrium
Sebagai pengganti istilah tunika muskularis mukosa, terdiri atas otot polos yang tersusun secara melingkar sebelah dalam dan memanjang sebelah luar. Diantaranya terdapat stratum vaskulare. Pada uterus yang pernah bunting stratum vaskulare ini memiliki pembuluh darah yang besar, lebih jelas dari uterus dara.
Perimetrium (serosa), lapis luar merupakan kelanjutan dari peritoneum (serosa) hanya saja sub serosa relatip tebal dan mengandung otot polos membentuk alat penggantung uterus (ligamentum lata uteri).
2.3 Servik.
Merupakan pintu gerbang antara uterus dan vagina. Bangun umum hampir mirip dengan uterus, selaput lendirnya (sesuai dengan peranannya) membentuk lipatan primer, sekunder dan tersier. Epithelnya silindris sebaris, tetapi bersifat sekretoris menghasilkan lendir. Beberapa sel tampak memiliki silia.
Tunika propria terdiri atas jaringan ikat longgar, dan pada waktu estrus bersifat odematus, pada submukosa terdapat kelenjar (anjing dan kambing), bersifat tubulus dan mukus. Tunika muskularis yang sirkuler tebal, bahkan berlapis-lapis dibatasi oleh jaringan ikat, lapis lungitudinal bersatu dengan vagina. Serosa merupakan kelanjutan dari uterus mengandung lebih sedikit sel otot polos tapi lebih banyak mengandung ujung saraf perifer.
Fungsi : servik uteri tertutup rapat pada waktu hewan bunting, disertai dengan lendir berwarna kuning yang mengental (mucusplug). Servik terbuka pada waktu partus atau sedang birahi.
2.4 Vagina
Vagina berbentuk buluh terbuka, dibagian kranial berbatasan dengan servik uteri dan dibagian kaudal adalah vestibulum vulva. Sebagian kecil (kranial) vagina terdapat dalam rongga perut yang dibalut oleh serosa, dan sisi selebihnya terdapat dalam ruang pelvis dibalut oleh adentitia.
Sebagaimana pada saluran kelamin yang lain, vagina pun mengikuti perubahan sesuai dengan siklus kelamin. Perubahan mana tampak jelas pada epithel vagina yang penting untuk identifikasi siklus kelamin khusunya pada rodensia dan karnivora. Fungsi vagina adalah : pada waktu kopulasi menerima penis serta pancaran air mani setelah ejakulasi berlangsung.
Struktur histologi:
Ø Mempunyai epithel pipih banyak lapis, pada pengenalan siklus kelamin epitel ini mendapat sorotan khusus. Pada ruminansia besar epithel vagina kranial sering tampak adanya sel mangkok, yang jelas dan besar pada waktu esterus, sel ini penghasil lendir, dikeluarkan pada waktu metestrus.
Ø Pertandukan (keratinization) pada permukaan epithel pada ruminansia besar tidak jelas, hanya sel permukaan jumlahnya meningkat. Pada karnivora anjing pertandukan tampak jelas pada waktu estrus, banyak sel permukaan lepas dan tercampur dengan eritrosit berasal dari endometrium.
Ø Lamina propria terdiri atas jaringan ikat yang langsung berbatasan dengan sub mukosa, semakin menuju vestibulum jumlah folikel getah bening semakin meningkat, pembuluh darah banyak terdapat didalamnya. Sub mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar yang lebih sedikit mengandung sel jaringan ikat
Ø Tunika muskularis terdiri atas lapis melingkar dan memanjang. Pada anjing tampak adanya tiga lapis yakni lapis longitudinal luar dan dalam dan lapis melingkar disebelah dalam, pada hewan piara yang lain lapis longitudinal dalam jarang tampak.
Ø Tunika adventitia terdiri atas jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak, pembuluh darah pembuluh limfe dan folikel getah bening serta kelenjar di daerah vestibulum. Serosa hanya tampak dibagian kranial.
3 Alat Kelamin Luar (Genitalia externa)
3.1 Vestibulum
Vestibulum merupakan daerah perbatasan antara vagina dan vulva. Daerah yang berbatasan dengan vagina ditandai dengan adanya selaput dara (himen), selaput dara jelas berkembang pada manusia tapi pada hewan piara kurang jelas, hanya berupa sedikit kenaikan mukosa. Daerah permuaraan urethra betina dianggap daerah perbatasan antara vagina dan vestibulum. Glandula vestibulares mayor dan minor bermuara di daerah vestibulum, bahkan didaerah ini sering tampak sisa (vestige) saluran limfe, dari masa kehidupan embrional.
Struktur histologi :
o Lamina epithelialis terdiri atas epithel pipih banyak lapis yang juga mengikuti perubahan siklus kelamin, sebagaimana terjadi pada vagina. Infiltrasi leukosit sering tampak pada epithel. Pada kuda dan sapi sering membentuk lipatan berbentuk buluh mirip lakuna dari morgagni pada urethra.
o Lamina propria terdiri atas jaringan ikat longgar membentuk papil mikrsokopik dan mengandung banyak serabut elastis, limponodulus banyak terdapat didalamnya, bahkan pada ruminansia besar sangat mencolok. Lebih dalam lagi terdapat pleksus venosus dan kelenjar vestibularis mayor jelas pada ruminansia besar, kucing dan kadang-kadang domba. Pada manusia cukup subur disebut kelenjar Bartholini.
o Glandula vestibularis minor tampak pada anjing, kucing, domba, babi dan kuda terletak lebih superfisial dan tersebar. Pada kucing dan domba banyak terdapat sekitar klitoris, kedua kelenjar tersebut bersifat tubulo-asinus majemuk dengan sel ujung kelenjar bersifat mukous. Kelenjar ini bermuara dibagian lateral dari vestibulum. Khususnya pada anjing dan kuda dikenal istilah Bulbus vestibuli berupa kavernous yang berkembang mirip korpus kavernosum urethrae terdapat pada dinding lateral vestibulum. Bulbus vestibuli sering memiliki kapsula yang cukup jelas, pada waktu kopulasi khususnya anjing mungkin bulbus vestibuli ini ikut berperan dalam menahan bulbus glandis penis. Pada hewan lain kaverneus tidak begitu subur pertumbuhannya.
o Sub mukosa sifat jaringan ikatnya lebih longgar dari tunika propria. Lobulus kelenjar terdapat dalam lapis ini, bahkan kadang-kadang lebih dalam lagi diantara muskulus konstriktor vestibuli, karenanya dianggap homolog dengan kelenjar cowper.
o Tunika muskularis terdiri atas : lapis dalam dan lapis luar, lapis paling luar adalah otot kerangka yakni muskularis konstriktor vestibuli dan muskularis konstriktor vulvae. Pada anjing muskularis konstriktor vestibuli berperan dalam menahan glans penis waktu kopulasi berlangsung.
o Tunika adventitia berupa jaringan ikat longgar yang mempertautkan vestibulum dengan alat tubuh sekitarnya.
3.2 Labia
Berupa bibir dari vestibulum dengan komisura dorsalis dan ventralis. Kalau pada manusia jelas dapat dibedakan antar labio majora dan minora, maka pada hewan piara lain keadaanya. Yang berkembang justru hanya sepasang dan ada kaitannya dengan labio minora pada manusia, selebihnya tertutup oleh kulit yang mengalami pigmentasi lebih kuat dari kulit sekitarnya, pada hewan daerah ini lebih dikenal sebagai daerah vulva.
Pada anjing labio majora agak berkembang berupa elevasi kulit lateral dari labio minora. Korium bersifat fibroelastis dan subkutis banyak mengandung jaringan lemak. Muskulus konstriktor vulvae (otot kerangka) relatif subur pada anjing dan babi.
3.3 Klitoris
Secara anatomis klitoris terdiri atas : badan (Corpus klitoridis) dan kepala (Glans klitoridis) dan selubung (Preptium klitoridis). Pada kedua bagian ini banyak mengandung ujung saraf sensoris, Korpus klitoridis memiliki korpus kavernosum seperti pada penis karenanya dipandang homolog dengan penis, meskipun dalam format kecil, bedanya pada klitoris tidak dilalui urethra.
Pada kuda didalamnya terdapat otot polos. Pada anjing, kucing dan babi dibagian tengah terdapat jaringan lemak. Ujung bebas daerah korpus kavernosum bersifat fibrous mirip pada penis ruminansia. Glans klitoris pada najing dan kuda korpus kavernosum glandis mirip glans penis ukuran kecil, tetapi sapi, domba, kambing dan babi kurang berkembang, hanya berbentuk jaringan ikat dengan pembuluh darah didalamnya. Preptium dibalut oleh epithel pipih banyak lapis tanpa rambut dan kelenjar kulit, didalamnya banyak terdapat ujung saraf simpatis.
Langganan:
Postingan (Atom)